Ah Tuhan: Pengalaman Dipikat dan Dipukat

0 4

“AH TUHAN ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara sebab aku ini masih muda. Jangan katakan: aku ini masih muda, kepada siapapun engkau Kuutus haruslah engkau pergi dan apa pun yang Ku perintahkan kepadamu haruslah kau sampaikan sebab AKU MENYERTAI ENGKAU” (bdk. Yer. 1:6.7)

Prolog

Kemampuan mencintai adalah sebuah seni yang melekat dalam diri setiap manusia. Seni untuk mencintai merupakan anugerah Tuhan dan itu termaktub dalam diri setiap orang. Cinta yang adalah sebuah seni hanya bisa ditemukan apabila ada ruang dan waktu, karena cinta bukanlah sesuatu yang abstrak. Cinta bukan semata tentang rasa, kata, frasa, kalimat, atau pun barisan bait-bait indah nan menawan.

Cinta sejatinya adalah tentang perjumpaan. Perjumpaan adalah embrio cinta. Ketakutan terhadap perjumpaan adalah ketakutan terhadap cinta, karena cinta selalu mekar dan bersemi dalam dan melalui perjumpaan. Perjumpaan memang membutuhkan sebuah sikap keberanian. Keberanian adalah ketakutan yang diucapkan dalam doa dan semuanya terkabulkan dalam perjumpaan.

Pada umumnya manusia tidak bisa mencinta atau dicinta tanpa terlebih dahulu merajut kisah perjumpaan. Perjumpaan adalah titik start dan juga titik finish cinta, dan bagi saya, cinta yang dibalut dalam nuansa perjumpaan tidak pernah mengenal titik finish; ia abadi. Perjumpaan menjadi sarana untuk menabur benih cinta dan juga sarana untuk menuai cinta. Siapa yang menabur cinta pasti akan menuai cinta juga, karena cinta selalu menarik cinta. Perjumpaan juga menjadi momen untuk berbagi kasih, sukacita, dukacita dan harapan hidup.

Perjumpaan saya dengan umat Allah di Nekbaki adalah sebuah kisah perjumpaan untuk menabur, menuai dan berbagi cinta. Keberadaan saya bersama mereka juga merupakan sebuah misi untuk membangun lingkaran cinta. Dalam perefleksian saya, lingkaran menjadi sebuah simbol yang tidak mempunyai awal dan akhir. Ia tak terputuskan, abadi, kekal, forever, siempre, selama-lamanya.

Demikian pun kisah perjumpaan saya dengan umat di Kapela Santo Yohanes Pembaptis Nekbaki ialah sebuah kisah perjumpaan yang tak akan pernah berakhir. Kisah abadi yang akan tetap tersimpan dalam hati dan tak pernah lapuk dimakan waktu. Itulah sekilas cerita tentang kisah sepuluh hari bersama mereka.

Tentang Ah

Ekspresi ah adalah salah satu cara mengungkapkan rasa dari berbagai macam cara atau bentuk ekspresi yang biasa digunakan manusia. Kebanyakan orang menggunakan ekspresi ah sebagai ekspresi kaget, kagum, cemas atau pun terkejut ketika melihat suatu benda atau pribadi tertentu. Ekspresi ini juga biasanya meluap-luap ketika ada yang mendengar berita-berita heboh, menjumpai hal-hal yang baru, indah, luar biasa, wonderfull, amazing, spectacular dan lain sebagainya. Singkatnya ekspresi ah adalah luapan emosi kegembiraan dan sukacita.

Ekspresi ah yang saya gunakan dalam narasi ini adalah sebuah bentuk ekspresi yang memiliki makna ganda. Ia menjadi bermakna ganda karena adanya sebuah perjumpaan. Perjumpaan menjadi titik sentral narasi ini. Ekspresi ah menjadi gambaran perasaan yang paling kurang bisa mewakili seluruh rasa yang ada dalam diri saya ketika berada bersama mereka.

Walaupun saya menyadari kata memiliki keterbatasan untuk menjelaskannya dan setiap kata yang saya rangkai dalam tulisan ini pun tidak akan cukup mewakili seluruh rasa yang ada. Namun, saya mengamini bahwa ekspresi ah yang saya pinjam dari Nabi Yeremia bisa mewakili seluruh rasa dan kesan saya saat berada bersama mereka.

Ekspresi ah pra-perjumpaan berbeda dengan ekspresi ah pasca-perjumpaan. Ekspresi ah pra-perjumpaan tersebut saya balut dalam kisah ‘Ah Tuhan, Awalnya’ dan ekspresi ah pasca-perjumpaan saya urai dalam ‘Ah Tuhan, Akhirnya dan Abadi’ berikut ini:

Ah Tuhan, Awalnya

Awalnya saya merasa canggung dan gelisah. Sama seperti Nabi Yeremia yang menanggapi panggilan Allah dengan pernyataan keragu-raguan. “Ah Tuhan aku tidak pandai berbicara, aku ini masih muda” merupakan gambaran sikap Yeremia yang merasa tidak pantas menjalankan tugas perutusan Allah. Saya sendiri ketika tahu bahwa saya akan menjalankan live in sendirian di Kapela Nekbaki, saya merasa cemas dan ragu.

Perasaan-perasaan tersebut muncul karena saya berandai-andai tentang hal-hal yang tidak menyenangkan. Informasi mengenai tempat tujuan live in yang saya dapat seminggu sebelumnya, mengusik ketenangan diri. Ada keengganan dalam diri untuk menjalankannya. Sendirian pasti sepi adalah pikiran yang muncul pertama ketika mendengar dan membaca informasi tersebut.

Ciri yang menjadikan seorang Claretian sungguh Claretian adalah selalu hidup dalam komunitas misioner dan persaudaraan. Tidak ada misi seorang Claretian yang murni dikerjakan atau dijalankan sendirian, karena misi setiap Claretian selalu dalam terang misi komunitas.

Berangkat dari gagasan tersebut, saya berasumsi bahwasannya menjadi sebuah hal yang janggal apabila seorang Claretian diutus menjalankan live in di salah satu kapela tanpa ditemani seorang partner. Saya menyadari pikiran tersebut adalah sebuah teori pembenaran yang saya gunakan atas dasar ketakutan untuk mengambil resiko. Ketakutan itu sebenarnya muncul karena ketidaktahuan saya tentang Nekbaki dan orang-orangnya.

Ah Tuhan, Akhirnya dan Abadi

Ah Tuhan, akhirnya dan abadi adalah sebuah ungkapan kekaguman dan ekspresi keheranan bahwasannya apa yang saya cemaskan, takutkan dan ragukan sebelumnya hanyalah tetap sebuah ketakutan. Selama saya berada bersama mereka hingga saya meninggalkan mereka, perasaan haru dan bahagia mewarnai setiap dinamika hidup saya. Keramahan dan cinta mereka menghilangkan semua persepsi buruk saya tentang diri sendiri, orang-orang Nekbaki dan alam indah Nekbaki. Kehangatan cinta mereka dalam menerima saya menghanguskan semua rasa pesimis dalam diri.

Mereka menerima dan menyambut saya seperti menerima anak kandung mereka sendiri. Saya mungkin tidak akan merasakan kasih sayang mereka apabila saya tidak berani untuk menjumpai mereka. Keberaniaan untuk berjumpa dan tinggal bersama dengan mereka memberikan sukacita tersendiri bagi saya.

Perbedaan latar belakang budaya dan bahasa tidak menjadi sebuah persoalan yang harus dipecahkan melainkan sebuah sarana untuk mengenal, mencintai, berbagi dan bersatu. Lagi-lagi, perjumpaan memiliki efek dahsyat untuk menghancurkan perbedaan.

Tinggal bersama dan mengenal orang-orang Nekbaki adalah sebuah rahmat yang selalu saya syukuri. Saya sangat menyesal dengan keengganan saya sebelumnya untuk menjalankan live in di tempat yang penuh dengan berkat tersebut. Semua rasionalisasi yang dipakai sebelumnya lenyap, ketika saya ada bersama Umat Allah di Nekbaki.

Tentang Nekbaki

Nekbaki memang bukan sebuah kota metropolitan, bukan juga sebuah tempat yang seram. Bagi saya Nekbaki adalah surga yang dirindukan untuk waktu yang abadi. Mungkin ini kedengaran terlalu berlebihan, tetapi itulah fakta yang saya rasa dan alami saat berada di sana.

Indah dan wow adalah kata yang bisa saya sematkan untuk menggambarkan apa, siapa dan bagaimana keadaan alam dan orang-orang Nekbaki. Baik, ramah, sopan, lembut, pejuang, dan pekerja keras adalah barisan kata yang paling tidak bisa menggambarkan ciri khas semangat hidup orang Nekbaki pada umumnya dan umat Katolik khususnya.

Dalam kesederhanaan, mereka membangun hidup yang harmonis dan damai. Tidak ada lawan yang harus dilawan karena mereka semua bersaudara. Mereka semua adalah kawan dalam kerja dan doa. Gotong royong menjadi kekhasan yang melekat dalam diri setiap umat Allah yang berhimpun di Nekbaki. Sopan dan ramah adalah budaya yang sudah diwariskan dalam diri dan tetap lestari hingga saat ini.

Sepuluh hari bersama orang-orang Nekbaki memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak hal. Umat katolik di Nekbaki memang tidak terlalu banyak dan itu memberikan keleluasaan bagi saya untuk mengunjungi semua umat. Jarak rumah umat memang sedikit berjauhan antara satu dengan yang lain, tetapi perasaan sukacita mendorong saya untuk menjumpai semua umat.

Umat yang berada di sana seluruhnya berjumlah ± 24 KK. Menurut pengakuan seorang umat ada ± 21 KK yang aktif dalam kegiatan gereja. Anak-anak SEKAMI Katolik berjumlah ± 10 orang dan beberapa anak dari gereja Protestan mengikuti kegiatan SEKAMI bersama-sama.

Topografi adalah formator pertama dalam kehidupan manusia. Topografi juga membentuk watak setiap orang. Topografi membentuk kepribadian orang-orang Nekbaki untuk menjadi seorang pekerja keras dan berbudaya sopan santun. Topografi alam dan watak kerja keras orang-orang Nekbaki memberikan sensasi mengesankan untuk diri saya sendiri.

Mayoritas umat bermata pencaharian sebagai petani. Setiap hari mereka berada di kebun. Kebun mereka ditanami jagung, kacang tanah, pepaya dan beberapa sayur-sayuran. Hasil kebun memang cukup menjanjikan kehidupan keluarga. Dari setiap usaha dan kerja mereka, saya belajar bagaimana berharap dan percaya pada Sang Kuasa. Harapan adalah kebajikan yang selalu melekat dalam diri setiap petani dan itu ditemukan ketika saya melawat orang Nekbaki.

Aku Menyertai Engkau

Janji Allah untuk menyertai Nabi Yeremia juga saya rasakan ketika berada di tempat live in. Janji penghiburan itu menguatkan saya untuk menjalankan semua kegiatan dengan perasaan sukacita yang berkobar-kobar. Tidak ada lagi kecemasan, keraguan dan rasa keengganan dalam diri untuk menjalankan live in. Bahkan saya maunya cepat-cepat pergi menjumpai orang-orang Nekbaki dan lebih lama lagi tinggal dengan mereka.

Semua perasaan-perasaan kecemasan tertinggal di alam Nunuh Amasat, terkubur dalam di Aula Paroki St. Vinsensius A Paulo Benlutu. Berkat perutusan dari RD. Hiler Penga, Pr memberikan api semangat dalam diri kami 27 Frater khususnya saya sendiri.

Tuhan memang sungguh menyertai saya. Bukti tampak dalam diri tiga umat dari Nekbaki datang menjemput saya. Kedatangan mereka memberikan daya bagi saya untuk tetap on fire dan menyadarkan saya bahwa mereka sungguh sangat menantikan kehadiran saya. Ternyata persepsi saya benar, ketika saya baru turun dari motor mereka langsung menyambut dengan adat istiadat ala orang Timor.

Umat Allah yang berada di Nekbaki sudah berkumpul di sebuah rumah. Tampaknya mereka sudah menunggu kehadiran saya sejak pagi. Pada saat itu juga keceriaan dalam diri saya menjadi penuh. Saya merasa seperti kembali ke rumah saya sendiri. Canda tawa menghiasi awal, selama hingga akhir kisah perjumpaan kami. Saya tahu mereka semua sangat mencintai saya. Cinta itu saya rasakan dalam keseharian hidup selama berada bersama mereka.

Saya tinggal di salah satu rumah umat yang sangat perhatian pada saya. Setiap hari saya mengikuti dinamika kehidupan keluarga tersebut. Bapa Simon dan mama Yosefina sangat memperhatikan dan menyayangi saya. Saya diajarkan banyak hal oleh mereka. Seperti guru mereka mengajarkan saya apa artinya kehidupan. Mama Yosefina yang berjiwa humoris selalu meghibur kami dengan gurauan-gurauan yang sangat khas, memikat hati dan menggaransi sukacita keluarga. Tidak ada kejenuhan yang muncul saat berada bersamanya. Keramaian dan sukacita keluarga ini memberikan saya pelajaran berharga bahwa hidup ini sangatlah rugi bila dijalani dengan kecemasan dan ketakutan.

Bapa Simon yang berjiwa pekerja keras dan ulet membuka cakrawala berpikir saya bahwasanya hidup ini tidak semudah ide-ide konyol yang ada dalam pikiran saya. Hidup ini adalah tentang perjuangan, kreativitas dan inisiatif. Tiga hal tersebut adalah penggerak utama roda kehidupan manusia pada umumnya dan keluarga yang saya tinggal khususnya.

Hidup adalah perjuangan dan selalu banyak warna dalam memperjuangkan kehidupan. Suka duka pasti selalu membingkai setiap rentetan kisah perjuangan. Tapi, tak mengapa karena semuanya berada dalam garis tangan Sang Kuasa. Keuletan dan keceriaan saya temukan dalam keseharian hidup keluarga Bapak Simon.

Bapak Simon dan Mama Yosefina yang bekerja sebagai petani dan peternak memberikan saya ruang untuk belajar. Beberapa hari selama tinggal di sana, saya pergi memanen jagung dan menjadi gembala sapi dan peternak babi. Semuanya mengantarkan saya pada permenungan bahwa hidup ini sangatlah indah dan menarik untuk dijalankan.

Epilog

Kematian bukanlah sebuah tragedi yang menakutkan dalam sejarah hidup manusia. Hidup tanpa tujuanlah yang menjadi sebuah musibah besar dalam hidup. Hidup selalu memikat dan memukat hati orang untuk menggapai nilai kehidupan yang berdaya guna bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Mengalami ritme kehidupan umat Allah di Nekbaki adalah sebuah pengalaman dipikat dan dipukat oleh cinta. Jeratan cinta mereka menambatkan saya di alam indah Nekbaki, karenanya ada keengganan untuk berpisah apalagi meninggalkan mereka. Ah Tuhan mengapa waktunya terlalu singkat, tidakkah Engkau tahu bahwa aku masih ingin berlama-lama.

Namun perjalanan saya tidak berhenti di sini saja. Saya datang karena sebuah tujuan dan kembali dengan sebuah tujuan. Saya menyadari mereka semua adalah sarana yang Tuhan hadirkan untuk membantu saya dalam menggapai tujuan hidup membiara yang sedang saya geluti saat ini.

Ah Tuhan, akhirnya saya dipikat dan dipukat oleh cinta orang-orang Nekbaki. Terimakasih untukmu semua.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More