Alasan Aku Dilahirkan

0 0

Aku begitu cemas ketika hujan tak kunjung reda. Hari seakan tertelan pekatnya kabut. Aku tidak tahu entah sudah pukul berapa. Tapi, dari aksi perutku aku bisa menduga, matahari sudah jauh condong ke ufuk barat.            

Kecemasanku bertambah, ketika aku memikirkan Helenora. Helenora adalah kakak sulungku. Ia  sangat mecintaiku. Walaupun, tentang hal itu tak pernah keluar dari mulutnya. Tetapi, tidaklah soal.  Cinta bukan soal kata. Tapi hati yang bergetar, walau tidak dimegerti akal. Sebab, cinta hanya dipahami hati.

Cinta itu seperti hati yang memahami kasih orangtuaku terhadap aku dan kakakku. Walau terkadang, akal agaknya tak paham.

Cinta, seperti keindahan ilahi, yang menyata dalam segalanya. Walau aku hampir tak  melihatnya dalam diri kakakku. Entahlah,,,! Itu, mungkin karena aku membatasi keindahan, sejauh akal menyetujui mata.

***

Helenora  Aprodite,  nama  lengkap  kakakku.  Ia  merangkap  kakak sekaligus saudariku  satu-satunya. Sementara aku putera tunggal dalam

keluargaku.  Itulah  sebabnya,  ia  sepertinya  hendak  memanjakan  aku, hanya kenyataan belum mengijinkannya.

Ia   terlahir   dengan  keterbatasan  fisik.   Sehingga,  ia   tidak   bisa beraktivitas seorang diri. Ia harus selalu ada bersama orang lain. Dalam hal ini, ibu dan ayah. Namun semenjak kepergian ayah, ibuku mengurus puteri sematawangnya itu seorang diri.

Kepergian ayah memaksa ibu bertempur bagai pahlawan. Bekerja keras, demi beras. Membanting tulang, karena utang. Walaupun begitu, ia tetap tegar. Ia tetap tersenyum, seakan tak ada luka.

Mungkin begitulah pahlawan. Melihat luka dengan senyum. Karena bagi pahlawan sejati, luka memberi arti. Luka adalah bukti bahwa kerasnya medan telah menempanya.

Walaupun  demikian,  ada  satu  hal  berubah  dari  ibu.  Terutama sikapnya terhadap aku, putera tunggalnya. Perubahan yang yang membuat aku tak memahami kaitan antara cinta dan seorang ibu. Sebab aku seperti besi dalam tanur yang terus ditempnya. Air mataku hampir kering, karena hari terus membawa tangis.

Setiap hari aku dipukul dengan alasan yang sama, yaitu berkaitan dengan kakakku. Ibu bahkan tidak menghiraukan usiaku yang masih belia. Yang penting baginya adalah aku mengurus  kakakku dengan baik. Jika tidak, tanganya segera mendarat di tubuhku.

Itulah sebabnya aku merasa menderita. Merasa kehilangan perhatian orangtua. Bahkan, akalku  tak mengerti arti cinta, karena hukuman terus mengintai.  Jika cinta dihubungkan dengan orangtua,  aku  memahaminya sebagai hukuman bahkan    penderitaan, sebab ibu bertindak seperti tokoh antagonis dalam cerita-cerita, yang tak paham arti pengampunan. Rasanya cinta bukanlah gula kehidupan, malah sumber dari rasa sendu.

***

Hari yang tak pernah terlupakan. Ketika gemuruh guntur merobek tingkap-tingkap langit.  Ketika butiran hujan meniti bumi hingga terluka parah. Namun entah mengapa, bumi tak hendak  marah. Mungkin bumi tahu sesuatu tentang luka karena hujan.

Waktu itu, sunyinya malam seakan menelan semesta. Tak ada suara yang terdengar, selain butir-butir hujan melubangi tanah. Tangan ibu yang kian kekar karena kerja keras, dengan lincahnya  melucuti tubuhku yang masih  empuk.  Malam  itu,  tubuhku  memar  seperti  prajurit  yang  kalah perang.

Saat   itulah,   untuk   pertama   kalinya   aku        menentang bahkan menantang wanita yang melahirkanku. Rasa sakit memaksaku untuk itu. Aku membantah ibu, bahkan  protes terhadap ketergantungan kakakku. Ketergantungan      yang membuatku     terpenjara.   Ketergantungan   yang membuat langkahku terbatas. Sehingga aku tak menikmati waktu bersama anak sebaya. Hidupku diringkus oleh derita yang ia terima.

Protesku kala itu, seakan memiliki daya magis yang membuat ibu yang kian perkasa hanya  mematung. Tangan lincahnya seakan remuk. Bahkan kata pun seakan sirnah. Hanya deraian air mata yang ia punya. Air mata yang membahasakan berjuta rasa yang tak terbahasakan oleh kata. Tak      hanya       ibu      yang         menangis,  kakak  sematawayangku  pun  hampir tenggelam dalam lautan air mata.

Dan saat itu, aku tersadar dan berpikir dalam hatiku: Andai kakakku terlahir sempurna, mungkin aku tak perlu dilahirkan. Aku dilahirkan semata karena keterbatasannya. Dilahirkan, karena ia tak bisa hidup seorang diri.

Tak hanya itu. Akupun menjadi sadar akan cinta ibu terhadapku. Cinta yang selama ini suram karena bernaung di balik hukuman. Dengan hati, kini aku mengenal arti cinta ibu. Segala  hukumannya terhadapku selama ini, semata karena cintanya terhadap kakakku dan juga aku. Ibu mempersiapkan aku. Ibu hendak  membiasakan aku merawat kakakku. Ibu mau, ketika ketiadaan menghampirinya, aku mampu mengurus saudari sematawayangku seorang diri.

***

Sejak itu aku mengingat bumi yang dilukai hujan. Walau terlukai, tapi bumi tahu arti hujan  baginya. Begitu pun aku. Aku akhirnya tahu arti hukuman ibu      selama      ini. Hukuman  yang   membuatku   memahami keterbatasan    kakakku.    Keterbatasan   yang   memberi   arti    terhadap kelahiranku.  Aku  dilahirkan  karena  keterbatasannya.  Itulah  alasan  aku dilahirkan***

Ponsianus Ladung, CMF
(Menjalankan TOP di Atmabrata, Jakarta Utara)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More