Bahasa Dan Kesadaran Pengguna

0 3

Setiap kali saya menumpangi Kreta Api, saya selalu tersentak dengan frase awal penyampaian informasi kepada penumpang. Informasi umumnya disampaikan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).

Dalam bahasa Inggris mereka menyebut “attention please”, yang kiranya bermakna memohon perhatian. Dalam hal ini, kesannya lebih halus dengan “memohonkan perhatian” penumpang secara santun.

Informasi yang sama kemudian disuarakan dalam bahasa Indonesia. Informasi dibuka dengan pernyataan “hati-hati”. Dan;- kesanya, informasi menjadi lebih kasar dan menakuti-nakuti.

Dari kasus sederhana ini tergambar logika pengguna bahasa. Untuk pengguna bahasa Inggris, yang utama adalah kesdaran. Karena itu, yang perlu adalah memohon perhatian.

Sementara, untuk pengguna bahasa Indonesia, rasanya perlu ditambah dengan tekanan verbal yang memaksa dan menakut-nakuti. Mengapa? Karena banyak orang kurang kesadaran dan perlu tindakan keras.

Fakta paling kuat membenarkan ini adalah saat-saat sulit seperti sekarang;- ketika pandemi mengintai di mana-mana. Sejatinya, kesadaran (disiplin) diri menjadi kunci.

Melawan pandemi membutuhkan kesadaran diri. Bukan turut perintah karena dari pemerintah;- tapi karena kesadaran diri untuk selamat dari bahaya. Lagi! Kesadaranlah yang utama.

Di negara lain wabah memang ada;- tapi setidaknya masih bisa dihadang. Mereka berkesadaran. Menuruti anjuran karena sadar akan manfaatnya melawan pandemi.

Mari. Membangun kesadaran;- untuk merawat bangsa;- pun melawan wabah!!

Ponsianus Ladung, CMF
(Menjalankan TOP di Atmabrata, Jakarta Utara)

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More