CINCIN NIKAH, BURUK RUPA DAN NAIK TURUN PESAWAT- (SEBUAH REFLEKSI)

0 7

Menjelang magrib, ditepi pantai pulau Hinako bagian selatan pulau Nias – Sumatera Utara, sedang duduk sendirian membayangkan keluarga saya di Kupang dan di Benlutu, maklum sudah 3 bulan belum pulang. Rindu bertemu semakin menjadi tinggal menghitung hari sebentar lagi akan naik pesawat karena aturannya setiap 3 bulan kerja dapat cuti 2 minggu untuk bertemu keluarga.

Entah kenapa tiba-tiba tangan kiri saya mengusap-usap cicin dijari manis tangan kananku. Saat itu terbayang beberapa waktu lalu saya bersama calon istri berjuang untuk membeli cicin ini. Didepan toko mas yang jual cicin ini kami sempat berkelahi tetapi  akhirnya 2 buah cicin kami beli dan salah satunya yang sedang saya usap ini. Untuk mengenakan cicin ini melalui sebuah misa pemberkatan yaitu berkat nikah kami ditahun 1999. Cicin ini menjadi bukti bahwa walau jelek-jelek begini ternyata saya laku juga di dunia maupun dihadapan Tuhan.

Pada cicin nikah ini ada istri dan anak-anakku. Naik turun pesawat, cicin nikah ini selalu bersama saya, bekerja dan bertemu berbagai rupa manusia, cicin ini selalu bersama saya. Ketika menghadapi masalah, cicin ini selalu bersama saya.

Suatu saat ketika berlibur dirumah, kami dikunjungi beberapa ibu dari paroki, mereka kaget dan bergembira karena bisa bertemu saya karena jarang bertemu. Dalam suasana ceria ini seorang ibu secara spontan tanpa beban bertanya kepada istri saya: ibu tidak cemburu ko, suami ibu naik turun pesawat kemana-mana? Jawaban istri saya: untuk apa cemburu, suami saya jelek begini, perempuan sapa lai yang  mau dia.

Semua ibu yang hadir pada tertawa mendengar jawaban istri saya. Tetapi ada seorang ibu yang langsung menyambung: ini jawaban bahaya karena sekarang bukan buruk rupa tetapi uang yang dibutuhkan. Komentar istri saya: semua uang saya yang berikan dan saya yang pegang karena saya selalu bersama dia kemana saja yaitu cicin yang dijarinya itu. Mendengar komentar istri seperti ini, saya merasa terkesan dengan makna hidup dari sebuah cicin perkawinan yang ada pada jari manis tangan kami.

Untuk memperoleh sebuah cicin nikah melalui usaha yang keras dan tulus dan sebuah tujuan mulya yaitu mengikat-satukan sebagai lambang kesetian abadi. Biar sendirian tetapi percayalah bahwa pasti kita ditemani oleh pasangan kita yaitu cicin yang melekat di jari manis tangan kita.

Jaga dan peliharalah cicin berkatmu, biarkan selalu di jari manismu. Bila sudah sesak atau hilang, beli ganti dan minta pastor untuk memberkatinya.

Bapak Vester Fallo
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More