Cinta Berkata Tanpa Kata (Kisah Cinta Eman dan Agnes: Tuna Wicara)

3

Redaksi

Setiap orang ingin hidup bahagia. Kebahagiaan yang dialami oleh setiap orang tidaklah sama sebab setiap orang mempunyai objek kebahagiaan tersendiri. Ada yang memandang materi sebagai sumber kebahagiaan, ada yang memandang bakat dan talenta sebagai sumber kebahagiaan, ada yang memandang keluar, pasangan anak dan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan. Berbicara tentang kebahagiaan adalah berbicara tentang suasana batin seseorang yang terdalam yang tidak bisa diselami oleh siapa pun. Jika hanya dengan sesuap nasi dan sepotong ikan kering ia sudah bahagia, maka itulah kebahagiaan yang sejati menurut kata hatinya. Kita tidak bisa menjadikan kebahagaan kita sebagai patokan utama.

Langit Benlutu hari ini mendung. Kicauan burung dan kokokan ayam riuh bersahutan  menyambut fajar pagi. Tenda sukacita telah berdiri kokoh di depan rumah orang tua Agnes sejak beberapa hari lalu. Hari ini dengan gagah ia bersama Eman sang suami tercinta menghadap Altar Tuhan untuk mengikat janji suci mereka di hapan Tuhan san sesama dalan ikatan Sakramen Nikah Suci. Agnes menemukan kebahagiaannya di lubuk hati terdalam Eman. Kekurangan Agnes telah disempurnakan oleh Eman demikian juga kekurangan Eman sudah dilengkapi oleh Agnes.

Cinta Tidak Memandang Situasi Dan Kondisi

Redaksi

Gereja Paroki St. Vinsensius A Paulo, Benlutu hari ini menyaksikan satu momen langkah dalam hidup pernikahan pada umumnya. Jatuh cinta pada pandangan pertama tentu berada pada tingkatan cinta eros (erotis) yakni cinta karena kemolekan tubuh, kecantikan dan kekayaan fisikal orang yang kita pandangi pertama dan membuat hati tidak tenang. Cinta eros tidaklah berlaku bagi Agnes dan…dengan langkah yakin dan pasti, keduanya mengikat hati mereka pada cinta yang saling menyempurnakan (Agape). Cinta agape adalah cinta yang tidak memandang situasi dan kondisi. Cinta yang tulus dan murni karena kebesaran Allah atas keduanya.

Mencintai orang yang cacat hingga mengambil keputusan untuk hidup bersama seumur hidup bukanlah kasus biasa. Tidak semua orang mampu melakukan itu dalam hidup. Kerap kali keindahan fisik menjadi patokan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Agnes dan Eman telah membuktikan kepada kita bahwa cinta tidak memandang apapun dari setiap pasangan. Bisu dan  tuli adalah satu hambatan fisikal yang berhasil mereka lewati bersama. Bisu dan tuli tidak membatalkan niat mereka untuk berarkat menuju Altar Tuhan.

Redaksi

Menurut adik perempuan Emanuel Mau Manlea, Hermina Manlea bahwa Eman dan Agnes berkenalan pertama saat jumpa di Panti Sosial Bisu Rungu Wicara, Naibonat saat reuni alumni, pada tahun 2017. Pekenalan berlanjut di media sosial pada awal 2020 dan sejak itu keduanya bersepakat untuk meneruskan hubungan mereka hingga jenjang pernikahan pada hari ini Selasa (10/11). “Mereka berdua pacaran belum lama ini. Saat berkenalan lebih lanjut di media sosial pada tahun 2020 ini”. Demikian kata adik perempuan Eman saat dijumpai di gereja Benlutu.

Dalam perayaan Ekaristi pengukuhan keduanya, hadir pula keluarga Besar kedua mempelai yang disaksikan oleh para suster, diakon, frater Romo Hiler sebagai selebran dan Rm. Leo Manlea, pastor konselebran. Dalam homili singkat, romo menyampaikan beberapa petuah untuk saling menjaga dan mencintai sebab kisah cinta mereka terbilang unik. Eman harus membutuhkan seorang penerjemah. Ibu Lili Oematan dengan tenang menerjemahkan semua jalannya perayaan. OMK Paroki St. Vinsensius A Paulo Benlutu turut berpartisipasi dalam kelangsungan perayaan dengan menanggung koor perayaan Ekaristi nikah suci kedua mempelai.

Cinta Tanpa Kata

Boleh dikatakan bahwa pernikahan Agnes dan Eman terbilang unik lantaran keduanya hanya saling memahami dalam kata-kata cinta. Kedanti demikian, bisu dan tuli yang dialami oleh mereka berdua bukanlah halangan bagi mereka untuk meminta restu Tuhan dalam membangun bahtera rumah tangga mereka. Cinta mereka berdua bersemi tanpa kata-kata. Mereka membuktikan bahwa cinta tidak selamanya harus ditaburi dengan kata-kata yang penuh romantis. Dalam cinta, naluri saja cukup. Kita tidak bisa menjadikan kata-kata romantisme sebagai patokan cinta yang sejati.

Cinta yang sejati lahir dari hati yang tulus, budi yang pekerti dan laku yang sopan. Hal-hal demikian sudahlah cukup untuk menyuburkan cinta. Banyak wanita terbius oleh rayuan gombal pria sebab, mereka mencintai apa yang mereka dengar sementara pria terhipnotis dengan kemolekan fisik wanita sebab mereka mencintai apa yang mereka lihat. Itulah sebabnya banyak wanita selalu bersolek dan banyak pria selalu berkata-kata romantis. Kenyataan ini tidak berlaku bagi Agnes dan Eman sebab mereka mencintai apa yang mereka rasakan bukan apa yang mereka dengar dan lihat.

Agnes dan Eman membingkai cinta atas cinta yang berkata tanpa kata. Kata-kata romantisme bagi keduanya tidaklah cukup dan barangkali tidak perlu sebab hati mereka telah banyak berkata-kata tentang cinta yang hanya dimengerti oleh keduanya. Entah bagaimana cinta itu bisa dipahami dan dimengarti hanya mereka berdua yang mampu mengungkapkannya dalam bahasa cinta sebab soal rasa lidah tak banyak kata dan soal cinta kata-kata tidak mencukupi. Cinta berkata tanpa kata. Selamat dan profisiat semoga langgeng sampai kekal.

 Jondry Siki, CMF

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More