Claret dan Keberanian Menghadapi Wabah

29

Dalam tulisan singkat ini saya ingin membagikan sebuah kisah inspiratif tentang Santo Antonius Maria Claret. Maraknya wabah Covid-19 mengingatkan saya akan pengalaman pendiri Kongregasi Putera-Putera Hati Tak Bernoda Maria – Para Misionaris Claretian ini, yang sering saya baca dalam autobiografinya. Pengalaman sang Santo ini dapat kita refleksikan terkait wabah Covid-19.

Sang santo adalah putera terbaik dari desa kecil, Sallent, Vic, Barcelona, Spanyol. Anak ke lima dari ke sebalas bersaudara ini berani meninggalkan semua kekayaannya termasuk pabrik tekstilnya untuk menjadi seorang imam. Ia adalah imam diosesan. Namun semangat kemisionarisannya yang bergelora, ia menyerahkan diri ke Propaganda Fidei untuk diutus ke seluruh dunia. Prinsip my soul for the whole world selalu terngiang dalam lubuk hatinya.

Santo kelahiran Sallent 23 Desember 1807 itu, menerima tahbisan suci pada 13 juni 1835. Setelah lima tahun menjadi imam, ia diangkat menjadi Uskup Agung Kuba, tepatnya pada 6 Oktober 1850. Tampaknya hasrat untuk menjadi martir sangat bergelora dalam hatinya meskipun ia tidak menerima mahkota itu. Berpayungkan moto “Charitas Chiristi Urget Nos”, sang gembala ini selalu melayani tanpa kenal lelah meski penuh dengan tantangan.

Pada 20 Agustus 1852, Keuskupan Agung Kuba dihantam gempa bumi yang sangat dahsyat. Semua umat di sana sangat ketakutan. Kuba seakan-akan diterpa ombak yang mengamuk. Ketakutan ini belum menepi, Kuba dihantam lagi oleh wabah kolera. Penyakit ini menyerang sistem pencernaan manusia. Dalam waktu kurang dari dua hari banyak umat terkapar tak bernyawa di lorong-lorong kota dan perkampungan. Sang Santo berkeliling bersama para imamnya untuk mendengar pengakuan dari mereka yang sudah mendekati ajal. Santo bertubuh pendek itu tidak hanya memperhatikan kebutuhan rohani dari umatnya tapi juga mencari obat-obatan untuk menyembuhkan domba-dombanya yang masih bisa tertolong.

Claret sungguh-sungguh menunjukan diri sebagai gembala yang domba-dombanya sedang diserang oleh serigala. Ia dan para imamnya menghadirkan cahaya cinta dan sinar harapan di tengah wabah kolera itu. Mereka tidak takut terjangkit wabah ganas itu. Bahkan salah seorang imam melayani para korban hinggga ia pun terjangkit wabah kolera dan meninggal dunia. Sang Santo menyebutnya sebagai korban cinta kasih.

Saat ini wabah covid-19 tengah meraja di setiap sudut bumi. Marilah kita saling mencintai sebagai saudara karena sekarang kita semua sedang berada dalam perahu yang sama di mana kita diombang-ambingkan oleh ombak wabah yang ganas. Marilah bersama mendayung perahu kita ke tepian, berusaha mencari laut yang tenang. Robeklah sekat pemisah yang membatasi cinta kita. Jika banyak orang yang meninggal karena wabah ini dan kita tidak, berarti hidup ini bukanlah sekadar anugerah, melainkan sebuah tugas!

Fr. Rio Nahak, CMF



Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More