Corona, Tuhan, dan Kita

1

Oleh: Sebastianus Julian Harjoni, novis CMF

Tolong… tolong… tolong…

Jeritan yang terdengar semakin mengeras. Seribu orang. Dua ribu orang. Bahkan lebih dari itu, sedang melantunkan suara yang karuan. Jeritan, rasa takut, bercampur aduk dan menghasilkan suatu nyanyian penuh ratap dan tangis untuk didengar.

Dunia kita sekarang sedang dilanda oleh virus yang sangat mematikan. Tidak tahu apa anehnya seingga virus ini muncul di depan mata kita. Tetapi, virus ini sekarang menjadi trending topic di seluruh antero dunia.

Hari demi hari, jumlah negara yang suspect corona semakin bertambah. Begitu banyak negara besar yang mudah terjangkit virus mematikan ini. Apalagi isinya, manusia! Setiap hari, banyak orang yang tertular dan dinyatakan positif terjangkit. Di sisi lain, anak panah grafik mereka yang sembuh menanjak amat lambat. Namun, kabar tersedih adalah tentang mereka yang meninggal dunia. Apakah esok hari akan ada yang meninggalkan dunia bersama corona? Tentu. Pasti akan tetap ada.

Ketika virus semakin menggerogoti dunia, orang berbondong-bondong mencari perlindungan. Tuhan adalah tempat yang nyaman memberi rasa teduh di hati. Namun, ketika mereka tidak menemukan Tuhan, teriakan mencari Tuhan semakin membahana: “Tuhan, di manakah Engkau? Apakah salah kami? Tuhan bantulah kami!” Seruan-seruan tersebut rupanya berangkat dari kecemasan dan ketakukan manusia.

Pertanyaan kembali muncul. “Apa benar ini tindakan tangan Tuhan atas kita manusia? Jika benar dari Dia, untuk apa? Apakah ini salah satu cara/tanda dari Tuhan agar kita semakin sadar dan kita semakin diingatkan?” Kita sulit menjawab pertanyaan ini. Tapi, cobalah kita flashback sejenak kehidupan kita. Banyak di antara kita yang bermusuhan, berselisih, saling membunuh dan masih banyak lagi. Ada juga persoalan antara agama dengan hanya ingin meyakinkan diri sendiri sebagai yang paling benar.

Terus, apakah ini jalan keluar agar kita semakin sadar dengan kedosaan kita? Bahwa kita manusia tidak tahu bersyukur dan hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri?

Sekarang, begitu banyak orang yang bersatu untuk melawan corona. Semua orang bersatu. Tidak ada yang mengatakan, “Biar kami saja yang melawan virus ini”. Sekarang, tidak tampak orang-orang yang bermusuhan atau berselisih. Semua bersatu. Dan, inilah untungnya! Semakin banyak yang sadar dengan hidup bersama dan bersatu tanpa adanya perselisihan satu dengan yang lain.

Sekarang, kita mesti terus menjadi seperti ini, meskipun nanti virusnya telah tiada. Selalu bersama dalam doa, satu dalam tujuan, dan satu dalam menghadapi problem global. Karena tanpa orang lain, kita tidak bisa melakukan apa-apa.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More