Covid-19 Sebagai Derita yang Membebaskan

0 5

Manusia pada umumnya adalah makhluk yang selalu berkeinginan untuk hidup dalam kenyamanan dan ketenangan. Ia selalu berupaya dengan pelbagai caranya untuk menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkannya untuk hidup dalam kenyamanan. Sehingga fakta bahwa ketidaknyamanan hidup bukan menjadi orientasi manusia. Dan justru hal tersebut sangat tidak diinginkan manusia untuk terjadi. Dengan demikian, manusia hendak menegasikan bahwa penderitaan atau ketidaknyamanan hidup janganlah terjadi dalam realitas aktualnya.

Namun, bagaimana dengan keberadaan manusia sekarang ini, yang terus digerogoti dan diganggun kenyamanannya oleh maraknya pandemi virus corona? Semua orang tahu bahwa pandemi hadir sebagai derita yang membawa bencana, musibah, ataupun malapetaka. Bukti realisnya bahwa kemanusiaan manusia direnggut dengan banyaknya manusia yang mati tak berdaya, dan seluruh sistem hidup manusia yang dijalani selama ini diberantakkan. Sehingga tak dapat disangkal bahwa semua orang akan terjerat dalam hidup yang penuh ketakutan, kecemasan, dan kewaspadaan yang ekstrem. Pandemi virus corona telah menciptakan semua bentuk ketidaknyamanan tersebut. Pandemi merupakan sebuah penderitaan.

Kenyataan aktual ini hendak menegaskan bahwa sejatinya eksistensi manusia tidaklah dapat dipisahkan dari realitas hidup susah, sedih, dan menderita. Keberlangsungan hidup manusia tentu selalu diwarnai oleh dua realitas ini: realitas sukacita dan realitas dukacita. Kedua realitas inilah yang sebenarnya membentuk manusia untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang autentik. Sehingga penderitaan yang diakibatkan oleh pandemi virus corona hendaklah dimaknai sebagai bagian dari realitas manusia. Hanya diperlukan sikap reflektif atas semua itu.

Hal ini senada dengan yang ditegaskan dalam etika Kristiani. Bahwasannya penderitaan itu pada dasarnya merupakan kondisi fundamental manusia. Sebenarnya dalam dan melalui penderitaan inilah manusia dapat mengalami kebesaran dan providentia Allah. Penderitaan itu hendaknya dimaknai sebagai locus antropologicus et teologicus: yakni sebagai tempat perjumpaan dengan kebermaknaan hidup sebagai manusia dan perjumpaan dengan Allah yang membebaskan dan menyelamatkan.

Sehingga, derita yang diakibatkan oleh pandemi virus corona ini hendaknya dimaknai sebagai sebuah wadah bagi manusia untuk merefleksikan keberadaannya sebagai manusia yang terbatas, yang hanya kepada Tuhan sajalah ia menaruh harapan. Oleh sebab itu, derita yang diakibatkan oleh pandemi ini merupakan jalan yang menghantar manusia untuk semakin menyadari bahwa Tuhan itu sungguh Mahakuasa.

St. Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostoliknya Salvici Doloris, menegaskan pula bahwa penderitaan menjadi bagian dari eksistensi manusia. Dalam dan melalui penderitaan itu terbuka misteri keselamatan. Juga melalui penderitaan itu terkandung undangan untuk memahami misteri belaskasih Allah yang terpancar dalam penderitaan Kristus di kayu salib yang membimbing manusia menapaki jalan pertobatan dan hidup baru.

Dengan demikian, sebagai orang Kristiani hendaknya pandemi virus corona ini dimaknai, dan direfleksikan sebagai momentum di mana kerahiman Allah itu sungguh nyata diperlukan. Pandemi virus corona merupakan derita yang membebaskan dan menyelamatkan. Sebab, dalam dan melalui peristiwa fenomenal ini setiap orang, khusus kaum Kristiani, dihantar memasuki misteri keselamatan. Dengan kata lain, melalui penderitaan yang diakibatkan oleh pandemi virus corona ini mempersatukan setiap orang dalam penderitaan Kristus. Dalam Dimensi Kebersatuan dengan penderitaan Kristus inilah, setiap orang dibimbing untuk melangkah di jalan menuju pembebasan yang paripurna. Jalan penderitaan adalah jalan pembebasan, jalan keselamatan.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More