Dipecat Tuhan?

3

Renungan hari Jumat, 06 November 2020, Pekan Biasa XXXI
Bacaan 1; Flp 3:17-4;1
Bacaan Injil: Luk 16:1-8

    Anda seorang pekerja? Jika, ya, apa tanggapanmu ketika dipecat oleh majikanmu? Bagaimana rasanya? Pemberhentian tenaga kerja atau pemecatan dalam dunia kerja adalah satu kepastian, yang hendak mengingatkan kembali manusia bahwa, setiap tindakan dan keputusan yang diambil di bawah kolong langit ini, bukan sekadar akan melahirkan bintang-bintang indah, melainkan juga apa yang sering disebut dengan konsekuensi. Konsekuensi yang terlahirkan pun bervariasi. Ada yang terang seperti bintang kejora, dan itulah yang disebut konsekuensi bermuatan positif. Ada juga bintang yang tidak terlalu lama menerangi bumi di waktu malam hari, dan itulah yang disebut dengan konsekuensi bermuatan negatif. Hukum ini juga berlaku dalam kasus pemecatan tadi. Respon dan berbagai reaksi, dan perasaan dicampur-aduk dan diuji. Persis di sinilah sebenarnya ‘perang dingin’ mulai tercipta dan akan melahirkan konsekuensi yang sekali lagi bisa bermuatan positif atau negatif.
    Dunia adalah ladang yang Tuhan berikan kepada semua orang. Tuhan sendiri sebagai Majikan dan karyawan-karyawanNya adalah manusia. Oleh karena, dalam dunia pekerjaan tadi, ada satu istilah yang tidak terelakan yakni pemberhentian tenaga kerja, maka siapkah kita dipecat oleh Tuhan? mungkin kita akan menjawab ‘ah…bohong! itu mustahil!’ tapi, bukankah fenomena pemecatan itu, acap kali kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari? Tuhan adalah Pengusaha dan Sang Majikan, karena itu Dia bisa saja dan berhak memecat karyawan-karyawanNya yang pemalas, penipu, dan tidak betanggung jawab atas tugasnya, kapan saja Ia mau.

Fr. Okto Oki (Novis)

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More