Doa di penghujung Senja

0 5

Semburat jingga telah membercaki cakrawala. Senja segera berubah menjadi petang tatkala Kidung Maria baru selesai dikumandangkan  dalam sebuah pondok Kudus.

Lamunanku jauh memandang penuh harap pada tatapan-Mu. Aku terbawah arus khayalan dalam irama melodi orgen yang mulai mengiringi angan, ingin, mimpi, harap, dan cita yang Mulia.

Khayalanku mulai menari-nari.

 Ceritakanlah.

Waktu terus menggelinding. Aku berlutut di hadapan-Mu dengan kepala yang tertunduk hati yang terangkat, dengan mata yang tertutup dan ucap yang terbuka, hati dan mulutku memuji lewat lantunan kata yang berdosa saat berbisik di bawah kaki-Mu.

Ada kata Amin yang tak sempat ku ucapkan. Berdiam dalam sunyi.

Ijinkan aku berbaring pada bola mata-Mu yang bening. Pangku aku seperti Engkau memangku Dia yang dipenuhi bilur-bilur duniawi.

Sudah cukup aku terus bersembunyi di bawah awan tanya yang pekat dan gelap. Tubuhku sudah terlalu lelap dalam sedih, ditutupi kabut yang tebal. Aku pun ingin memanjakan diri dengan mengukir cerita di bawah tatapanMu. Tatapan sang perawan.

Usailah sudah untaian Doaku di penghujung senja.

PNC, Kupang 13 Desember 2021.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More