Doa Diam

13

Sabtu, 21 Maret 2020

Hos 6:1-6; Luk 18:9-14

katoliknews.com

Fenomena manusia sekarang ini adalah berdoa di media sosial. Ada macam ragam doanya. Kalau penyair, biasanya doa dengan kata-kata puitis: “Oh Tuhan, di tengah keremangan malam bersama rembulan di temani nyanyian indah para jangkrik dan tiupan angin sepoi-sepoi, aku datang dan menyembah-Mu”. Kalau anak alay, kata-katanya sangat lebay: “Ya Tuhan, aku bersyukur banget hari ini. Aku mau give thanks to you, karena sudah listened my prayer selama ini”. Kita yang komentator biasa tulis “Amin”. Kalau bukan amin, “tandai do”. Inilah fenomena manusia modern. Barangkali terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai berdoa di media sosial.

Gambaran seperti ini menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan kita itu berdoa dengan memberikan laporan kepada Tuhan. Di medsos, orang panjatkan doa dan juga beri laporan kepada orang lain. Seperti orang yang baru pulang studi banding ke suatu tempat. Setelah pulang, dia harus membuat dan memberi laporan kepada pimpinannya. Kalau tidak beri laporan, maka siap-siap turun pangkat atau PHK.

Persis pada Injil hari ini, orang Farisi itu memberikan laporan lengkap pada Tuhan dalam doanya. “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, bukan pemungut cukai, aku berpuasa, memberi perpuluhan.” Selain memberi laporan lengkap, tampak bahwa orang Farisi ini sangat arogan dengan statusnya berhadapan dengan si pemungut cukai yang juga sedang datang berdoa. Tampak bahwa orang Farisi itu sedang meninggikan diri di hadapan Tuhan.

Berbeda dengan si pemungut cukai. Dia hanya minta pengampunan dari Tuhan.  “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini”. Doa pemungut cukai ini tidak menampakkan suatu pelaporan lengkap. Dia justru hanya merendahkan diri dan lebih banyak diam dan tanpa banyak kata.

Pemungut cukai ini memberi kita refleksi yang mengarah pada introspeksi diri: Bagaimana kita berdoa? Tetapi, dia sekaligus mengajak kita berdoa dalam diam. Doa bukan sekadar permainan kata, karena seringkali doa dengan kata adalah doa pemaksaan agar Tuhan berbuat ini itu terhadap kita. Tetapi yang diperlihatkan pemungut cukai ini adalah sebuah perendahan dan penyerahan diri tanpa kata, hanya dalam diam. Seperti kita bermenung Sabda, doa tidak lain adalah membiarkan Tuhan berbicara atas diri kita.

Semoga kita bisa belajar tentang cara berdoa dari pemungut cukai ini. Karena apabila orang yang mempraktikkan doa dalam diam ini sudah bisa merendahkan diri di hadapan Tuhan, niscaya dia adalah orang yang tidak meninggikan diri di hadapan banyak orang. (Mario F. Cole Putra, CMF)

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More