Ekaristi Cinta Kasih Dirayakan Oleh Komunitas Cinta Kasih

0 48

Pada hari Kamis Putih, kita merenungkan dua hal besar sekaligus.

Pertama adalah tentang Ekaristi. Hari Kamis Putih dilihat sebagai momen perjamuan malam terakhir antara Yesus dengan para murid. Dalam peristiwa itu, Yesus sungguh-sungguh memberikan diri, Tubuh dan Darah-Nya, kepada para murid. Yesus tidak sekadar berseremonial belaka untuk mengadakan perpisahan dengan para murid dengan membagi-bagikan roti dan anggur. Peristiwa malam terakhir inilah yang menjadi titik awal perayaan yang kita sebut Ekaristi. Perayaan ini sungguh-sungguh berasal dari Yesus. Yesuslah yang menetapkannya!

Maka, pantaslah kita katakan bahwa Gereja Katolik memiliki harta terbesar dalam dirinya, yakni Perayaan Ekaristi, sebab Yesus benar-benar mempersembahkan diri untuk umat-Nya. Sehingga muncullah statetment yang mengatakan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak dari seluruh hidup Gereja.

Berangkat dari situlah Gereja Katolik mempercayai dan mengajarkan kepada kita semua bahwa Tuhan Yesus Kristus sungguh hadir secara nyata dalam setiap Perayaan Ekaristi yang kita rayakan. Ketika seorang imam dalam Doa Syukur Agung mendaraskan kembali kata-kata Yesus “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”, itu bukan kata-kata biasa yang mengajak kita untuk memainkan imajinasi ingatan akan suatu peristiwa di masa yang lampau. Kata-kata yang kembali diucapkan oleh imam itu adalah ajakan kepada kita untuk turut serta dalam peristiwa yang sama yang kini sedang hadir dan dirayakan saat itu juga.

Roti dan Anggur, ketika dikonsekarikan tidak lagi menjadi roti dan anggur, tetapi telah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Inilah yang disebut dengan Transsubstansiasi. Dengan peristiwa transsubstansiasi ini, Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa Yesus sungguh hadir secara nyata di depan mata kita! Dalam sejarah Gereja, sudah banyak kisah tentang mukjizat Sakramen Mahakudus ini. Hal tersebut mau menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dalam Hosti yang telah mengalami transsubstansiasi.

Kedua adalah tentang komunitas. Dalam perayaan kudus hari Kamis Putih, selain menetapkan Ekaristi, Yesus mengajak kita semua untuk memaknai suatu kisah lain yang sekiranya dapat kita aplikasikan dalam kehidupan harian. Hal yang dimaksud tertuang dalam kisah Injil Yohanes 13. Dalam peristiwa ini, Penginjil menampilkan sebuah kisah yang amat mengharukan, yakni Pembasuhan kaki para murid.

Kisah Injil ini menampilkan Yesus yang membasuh kaki para murid. Gambaran Yesus yang bangun dari tempat duduk lalu menanggalkan jubah, kemudian mengambil kain lenan dan mengikat sendiri pada pinggang, mengambil sendiri air  dan menuangkannya pada sebuah basi, dan membasuh kaki para murid adalah gambaran pelayanan yang sungguh-sungguh. Yesus tidak sedang menunjukkan bahwa Dia adalah pemimpin yang sukanya dilayani, melainkan pemimpin yang melayani. Dia adalah Tuhan, tetapi mau menjadi pelayan untuk semua.

Pelayanan Yesus dalam kisah pembasuhan kaki ini adalah buah dari cinta kasih-Nya yang utuh terhadap para murid. Jadi, cinta kasih adalah landasan utama pelayanan Yesus. Itulah mengapa dalam kisah selanjutnya dari Yohanes 13 ini yang sudah kita ketahui bersama yang mana Yesus memberikan perintah baru, yakni perintah untuk saling mengasihi satu sama lain. Komunitas para murid harus saling mengasihi. Dan memang, komunitas yang kuat itu mesti dilandasi oleh cinta kasih.

Lalu, apa kesinambungan antara dua poin di atas, yakni antara Ekaristi dan komunitas. Antara Ekaristi dan komunitas adalah dua hal berbeda, namun tidak bisa dilepaspisahkan satu sama lain. Ekaristi adalah buah cinta kasih Allah yang mau memberikan diri kepada umat-Nya. Komunitas yang hidup adalah komunitas yang dilandasi oleh cinta kasih. Inilah yang menjadi masalahnya, bahwa seringkali komunitas menghilangkan landasan tersebut. Sayang sekali bila landasan itu hilang dalam komunitas sebab Ekaristi yang adalah buah cinta kasih Allah dirayakan oleh komunitas yang dilandasi cinta kasih. Tidak ada Ekaristi dalam sebuah komunitas yang anggota-anggotanya tidak saling mengasihi.

Sungguh amat disayangkan apabila kata-kata “Ekaristi adalah sumber dan puncak dari seluruh hidup Gereja” itu tidak benar-benar diamalkan oleh setiap warga Gereja. Sungguh amat disayangkan apabila melihat seorang katolik yang tanpa persiapan batin ikut berbaris menerima Tubuh Kristus dan sekembalinya berjalan tanpa memaknai apa yang sedang ia santap. Sungguh amat disayangkan bila Ekaristi tidak menampakan nilai-nilai luhurnya oleh para warga Gereja dalam kehidupannya setiap hari. Sungguh amat disayangkan bila Ekaristi hanya menjadi ritus mingguan belaka. Sungguh amat disayangkan bila nilai-nilai luhur Ekaristi tidak mendapat tempat dalam kehidupan keluarga, komunitas, hidup persaudaraan, dan kehidupan sosial lainnya.

Maka, Perayaan Ekaristi hanya akan menjadi sungguh-sungguh puncak kehidupan Gereja apabila setiap warga Gereja mengupayakan agar hidup mereka benar-benar menjadi suatu komunitas yang penuh cinta kasih, sebab Perayaan Ekaristi yang dirayakan adalah sakramen cinta kasih dan suatu lambang kesatuan (lih. SC 47). Tanpa adanya upaya dari warga Gereja untuk saling mengasihi satu sama lain, Perayaan Ekaristi hanya akan dilihat sebagai ritual agama, supaya dilihat orang.

Untuk itu, di hari Kamis Putih, kita sekalian diajak untuk membangun komunitas yang sungguh dilandasi cinta kasih, dan marilah kita menimba nilai-nilai luhur dari Ekaristi untuk kemudian ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari. 

mario f. cole putra, cmf

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More