GEMBALA DAN DOMBA

0 19

Gembala yang baik akan selalu menjaga dan memperhatikan domba-dombaNya, menuntun dan membawa domba-dombaNya ke Padang rumput yang hijau dan ke sumber air yang segar gembala yang baik akan berkeliling sambil berbuat baik”

Sebagaimana domba membutuhkan gembala demikian pula sebaliknya gembala membutuhkan domba. Seorang gembala yang baik akan selalu menjaga, memperhatikan dan melayani dombanya. Dombanya adalah kepunyaannya, dombanya adalah kekayaan atau harta miliknya yang akan selalu berkembang sehingga tidak musnah. Gembala akan menuntun domba-dombanya supaya tidak tersesat dan mati kelaparan sehingga domba- dombaNya mengenal baik suara gembalanya serta tuntunan gembalanya.

Hubungan domba dan gembala yang demikian menghadirkan hubungan kasih dan keterikatan. Ada nilai kasih, kerendahan hati, kesabaran dalam pelayanan dan ketergantungan. Nilai inilah yang terus menjadi spirit atau semangat setiap kali gembala berjalan keliling sambil berbuat baik kepada domba-dombanya dan domba-dombanya setia menanti kedatangan sang gembala ke Padang rumput atau ke kandang domba. Hubungan kasih ini menjurus pada keakraban, persaudaraan antara gembala dan domba walaupun para domba memiliki begitu banyak persoalan yang terjadi. Hubungan persaudaraan gembala dan domba pun menghadirkan kesejukan dalam sikap mendengar dan mau melaksanakan apa yang menjadi tanda kebaikan untuk mengatasi persoalan pada dombannya sehingga para dombanya selalu merindukan kehadiran gembala yang memberikan perlindungan, air kesejukan bagi domba-dombanya.

Gembala yang baik akan selalu meluangkan waktu untuk pergi mengunjungi domba- dombanya, ia berkeliling sambil berbuat baik karena domba-dombanya adalah harta milik atau kepunyaan majikannya (Tuhan) yang dipercayakan kepada gembala supaya menjaga dengan baik, supaya tidak tersesat dan hilang. Lagi pula pada domba-domba itu menjadi warisan bagi gembala supaya sigembala juga bisa berkarya dan hidup. Si gembala yang berkeliling sambil berbuat baik adalah gembala yang rendah hati, sabar, murah hati, berbelas kasih dalam melayani sehingga domba-dombanya tidak kelaparan dan tidak kehausan. Sebuah pelayanan gembala yang menuntut pengorbanan tanpa upah singkatnya pengorbanan cuma-Cuma. Ini adalah resiko dan tanggung jawab sebagai salib yang dihayati dengan cinta kasih. Pengorbanan tanpa memikirkan diri sendiri sehingga walau letih tetap saja berkeliling.

Menyimak hubungan pelayanan timbal balik gembala dan domba di atas, berkaitan dengan pelayanan gereja Katolik sungguh hal itulah yang menjadi spirit dalam kehidupan menggereja. Pelayanan kerendahan hati dan penih cinta kasih sehingga kabar sukacita (Injil) tetap membahana dalam dunia ini.

Di phak lain, hubungan gembala dan domba dalam Gereja Katolik disebut yakni ministerium dan servicium. Ministerium adalah imam atau pastor yang mendapatkan Imamat jabatan melalui urapan Imamat dan servicium adalah umat Allah yang mendapatkan pembabtisan. Juga dalam pelayanan gereja katolik ada dua hal yakni hierarkhi dan monastik. Hierarkhi yakni Pastor atau Pastor Paroki adalah komandan. Seorang komandan Harus kuat dan tangguh dalam memimpin atau melayani. Keputusan komandan adalah keputusan mutlak yang perlu dilaksanakan. Seorang komandan tidak boleh lemah dan ikut arus bawahannya. Lalu monastik, yakni umat Allah. Sebagai umat Allah mengikuti arahan dan perintah komandannya untuk selalu siap laksanakan. Dalam Gereja, hierarki dan monastik tidak ada demokrasi melainkan konsultasi. Dari umat atau dari bawahan berkonsultasi atau mengusulkan ke atas dan dari atas memutuskan untuk dilaksanakan itulah hubungan konvidensial mengusulkan dan memutuskan.

Dalam pelayanan Gereja semua itu dipahami melalui nilai iman yakni : cinta kasih, kerendahan hati, keadilan, damai, kesejahteraan dan sebagainya. Nilai inilah yang membuat hubungan timbal balik yang erat dan bersaudara. Maka layanilah dengan segenap hati dan kekuatanmu. Berjalan dan berkeliling sambil berbuat baik, bukan berjalan sendiri melainkan berjalan bersama dalam persekutuan, partisipasi, dan Perutusan dalam dunia ini.

Berjalan bersama gembala dan domba sebagai visi dan misi demi mewartakan Injil sebagai kabar sukacita. Sebagai tambahan dapat juga dipahami hal berikut ini, dalam Direktorium untuk Pelayanan dan Hidup Para Imam dalam Gereja Katolik, antara lain :

[ 1 ] Imam adalah orang yang ditahbiskan melalui Penumpangan tangan Uskup dalam sakramen Imamat. Sehingga mendapat martabat Imamat pelayanan atau Imamat jabatan. Beda dengan imamat umum melalui sakramen permandian.

[ 2 ] Imam hidupnya berdasar pada Yesus, menghayati teladan hidup Yesus dan melayani berdasarkan kehendak Yesus dan Allah.

[ 3 ] Imam menghayati khusus janji atau sumpahnya pada Ketaatan, Kemiskinan dan Kemurnian atau Kesucian

[ 4 ] Imam melaksanakan tugasnya sebagai Imamat jabatan bukan menurut kehendaknya sendiri tetapi menurut kehendak Allah dan Kristus. Ia tidak menjadi orang yang sibuk mengurus hal-hal keagamaan saja melainkan urusannya universal dan luas yakni mengenai keselamatan dalam dunia ini.

[ 5 ] Imam harus percaya pada Sabda Kristus yang ia baca, mewartakan Sabda yang ia percaya itu dan melaksanakan apa yang ia ajarkan. Supaya ada keseimbangan.

[ 6 ] Imam pekerjaannya bukan partikularis dalam hal ini lebih mengutamakan kepentingan diri dari pada kepentingan umum. Bukanlah demikian.

[ 7 ] Imam akan kuat jika spiritualitas hidupnya berdasar pada Ekaristi, Sabda Allah dan doa ( ibadat harian, devosi Rosario, bacaan rohani tentang sikap hidup orang Kudus, dll). Juga ada pada Tobat atau sakramen rekonsiliasi.

[ 8 ] Imam melayani dengan rendah hati serta mengembangkan bakat-bakatnya dalam hal Cinta Kasih Pastoral melalui : Pelayanan Liturgis yang benar, managemen Pastoral melalui perencanaan-perencanaan Pastoral demi keselamatan jiwa banyak orang.

[ 9 ] Imam harus taat kepada ordinaris dalam hal ini Uskup sebagai penanggung jawab wilayah (Gereja Partikular) dan taat kepada Paus selaku uskup Roma yang mengepalai Gereja Universal.

[ 10 ] Imam perlu hidup bersama dengan rekan-rekan imamnya yang lain supaya mereka saling membantu dalam Evangelisasi baru ( mewartakan sukacita Injil ) dan Saling menguatkan agar tidak merasa hidup sendiri. Hidup berkomunitas penting dan bercorak hidup Yesus dan para Rasul-Nya.

[ 11 ] Imam harus bijaksana dan sabar. Selain itu imam harus berintelektual, berwibawa dan menunjukkan jati dirinya sebagai imam.

[ 12 ] Jati diri imam terbukti melalui tutur kata, sikap mendengarkan, perbuatan-perbuatan baik yang lemah lembut dan tenang dalam mengatasi persoalan, cara berpakaian jubah untuk membedakan dirinya dengan awam dan rajin untuk melayani. Seperti Sabda Yesus : Aku datang untuk melayani bukan untuk dilayani.

[ 13 ] Imam harus berdoa untuk semua orang dan juga hidup askese atau mati raga ( meditasi, selalu merenungkan Sabda Tuhan, ada kegiatan rekoleksi atau retret, pembinaan lanjut dll)

[ 14 ] Imam hidup bersaudara dengan imam lain (konfrater), bersaudara dengan awam. Tidak saling menjatuhkan atau gosip satu sama lainnya.

[ 15 ] Imam harus menerima kelemahan dirinya. Hadir sebagai pewarta Injil, Pembawa Iman-harapan-cinta kasih, pembawa Rahmat dari Tuhan untuk keselamatan manusia dan dunia.

[ 16 ] Imam tidak boleh ada skandal yang mengganggu Imamat pelayanan atau Imamat jabatannya. Menjaga keseimbangan diri yang berbeda dengan awam.

RDHP.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More