HUKUM UNTUK KEHIDUPAN

1

Renungan Hari Senin 25 Oktober 2020, Pekan Biasa XXX
Bacaan I: Ef 4:32-5:8
Bacaan Injil: Luk 13:10-17

Manusia kerapkali memungut berbagai perkara dalam hidupnya, menyatukannya dalam alur kompleks lalu dengan mengais sisa-sisa kesadaran yang ada, memberikan cap tak terselami dalam hidupnya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa hidup itu mudah dan sederhana. hal itu hanya bisa tercapai bila dijalankan dengan penuh kesadaraan walaupun sering tidak disadari. Kita sebagai makhluk berkesadaran harus menyadari bahwa hidup adalah suatu gerak pengulangan dan pembaharuan di bawah Dia yang memberi hidup.

Salah satu bentuk kesadaran manusia adalah tidak ingin terjerumus dalam kemunafikan. Kemunafikan kerapkali dihidupi denga kesadaran. Kita tahu hal itu tidak pantas dalam hidup bersama, tetapi tidak disadari dan dihindari. Hal itu menjadi jerat dan tameng bagi diri kita sendiri. kita terjerat lantaran ketidakmampuan kita untuk menyadarkan diri sendiri. Manusia terjerat di dalam ketidakadaraanya. Kemunafikan menjadi tameng untuk menutup kebobrokan diri.

Bacaan Injil hari ini menampilkan kecaman Yesus atas tindakan para ahli Taurat yang menegur Yesus sebab Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat Yahudi. Hal ini seolah-olah membakar janggut mereka. hukum yang dibawah oleh Yesus adalah hukum yang pro kehidupan. Oleh sebab itu Yesus mengundang kita agar menjadikan kemanusiaan sebagai hukum tertinggi.

Fr. Vino Dosantos (Novis)

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More