Jumat Duka yang Agung: Mencintai Pakai Nyawa

0 33

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13)

 

Cinta Burung Pelikan

Pernah mendengar kisah tentang burung Pelikan dan anak-anaknya? Burung Pelikan adalah sejenis burung yang memiliki paruh yang panjang, berbulu putih, dan biasanya hidup di dekat air. Karena hidup di daerah sekitaran air, seperti sungai dan danau, makanan burung Pelikan adalah ikan, udang, dan binatang air lainnya.

Dikisahkan, suatu ketika ada seekor induk burung Pelikan yang sedang mencari makan untuk anak-anaknya. Berjam-jam telah dilewatkan oleh si induk untuk mencari makan bagi anak-anaknya yang sedang kelaparan. Karena tidak tega dengan yang dialami oleh anak-anaknya, si induk burung Pelikan ini mematuk sendiri daging dadanya untuk diberikan kepada anak-anaknya. Si induk burung Pelikan ini mati, dan anak-anaknya tetap hidup.

Dalam Gereja, burung Pelikan dijadikan ikon yang menggambarkan tentang  pengorbanan diri. Kecintaan burung Pelikan terhadap anak-anaknya itu bersimbolkan pengorbanan diri dengan level yang paling tinggi, yakni mencintai pakai nyawa. Apa yang dilakukan oleh si induk burung Pelikan dilihat sebagai gambaran cinta Allah, yang mengorbankan diri untuk anak-anak-Nya.

 

Cinta Pakai Nyawa di Hari Jumat

Tujuan perutusan Yesus ke dunia adalah membebaskan manusia dari dosa. Perutusan itu sendiri sudah diramalkan sejak lama, dari dunia Perjanjian Lama. Beberapa nabi, seperti Yeremia, Yesaya, dan Daniel, sudah meramalkan kedatangan Sang Juru Selamat.

Pemikiran-pemikiran soal Sang Juru Selamat itu berakhir pada Yohanes Pembaptis yang secara terang-terangan menujuk Yesus sebagai Mesias. Tentu “Mesias” yang dalam pemikiran Yohanes Pembaptis adalah yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa, bukan mesias yang banyak dipikirkan orang-orang ramai, yang sifatnya politis, yakni yang membebaskan dan melawan perbudakan dari orang-orang Romawi.

Tujuan kedatangan Yesus memang sangat mulia. Dia rela melepaskan segala sesuatu, kemudian mengambil kedagingan manusia dalam inkarnasi, agar anak-anak manusia diangkat menjadi anak-anak Allah. Inilah yang oleh Paulus disebut Kenosis (Flp 2:7).

Kenosis sendiri, dalam teologi Kristiani, memiliki arti bahwa Yesus mengosongkan diri, termasuk kehendak-Nya, agar diri-Nya secara penuh terisi oleh kehendak Allah. Maka itu, perutusan Yesus adalah kehendak Bapa yang mengutus-Nya.

Kelihatan sekali dari perutusan ini, Bapa sangat menyayangi manusia. Kendati dalam kisah-kisah Perjanjian Lama, Allah begitu murka dengan orang-orang Israel, hati Allah begitu cepat melunak terhadap orang-orang Israel. Sebagai misal, kala orang-orang Israel terusir dari tanah mereka, Allah tidak pernah mengutuk orang-orang Israel, melainkan berjanji untuk membebaskan mereka dari sana.

Demikian ketika Yesus diutus, itu adalah gambaran cinta Allah terhadap manusia. Injil Yohanes memberikan kesaksian itu: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Namun, cinta Allah tak terbalas manusia. Ibarat cinta yang bertepuk sebelah tangan. Yesus dengan amat kejamnya dihina dan disiksa tanpa ampun. Cinta-Nya berujung pada cambuk, ludahan, pukulan, pikulan kayu palang menuju Golgota dan bergantung di sana, dan akhirnya wafat. Sungguh tragis cinta itu.

Semua itu adalah gambaran cinta Allah untuk manusia. Dia rela melakukan semua itu. Dia mencintai manusia pakai nyawa. Inilah mengapa kita perlu menyebut hari ini sebagai Jumat duka yang agung, karena betapa hari ini ada nyawa yang pergi dari tubuh di ujung kayu salib, demi kecintaan pada manusia.

Kecintaan Allah pada manusia memang tak ada tandingannya. Penebusan menjadi jalan Allah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa sejak Adam dan Hawa. Mengingat sejak itu hubungan Allah-manusia tidak harmonis, dan manusia sendiri tidak sanggup membayarnya, maka hanya dengan cara Allah menjadi manusia sajalah dosa itu terbayarkan. Karena hanya Allah sendiri yang dapat membayarnya. Dengan apa yang terjadi pada Jumat duka yang agung ini, maka dosa umat manusia terbayar lunas.

Inilah gambaran cinta Allah dengan level yang tak tertandingi. Dosa dibayar lunas dengan nyawa di Jumat duka yang agung.

 

mario f. cole putra, cmf

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More