Kampung Perjuangan

28

Vega-R hitam mulai membelah jalur perbukitan kampung itu. Satu meter. Dua meter. Akhirnya berkilo-kilo meter. Aku pun terduduk rapi di atasnya.

“Frater, jalan di sini masih baik, nanti kalau sudah di atas jalannya jelek sekali,” kata om Mundus membuka pembicaraan.

Aku hanya mengangguk meski tak dilihatnya. Om Mundus adalah sosok yang tegas dan berprinsip. Dia selalu percaya pada Penyelenggaraan Ilahi dan sangat aktif dalam kehidupan Gereja. Keluarga kecilnya selalu bahagia. Canda dan tawa selalu menghiasi langit-langit rumahnya. Istrinya yang ramah dan anak-anaknya yang cerewet menambah keseruan rumah tangga ini.

Selama perjalanan, kami berbincang-bincang tentang jalan raya, pembangunan kampung, latar belakang masyarakat dan keadaan kampung yang memprihatinkan. Aku sangat menikmati perjalanan ini meski cukup jauh dan melelahkan.

Akhirnya kami tiba di gubuk tua, tempat berteduh om Mundus dan keluarga kecilnya. Segelas kopi hangat menyambut kehadiranku.

“Ahh, kopinya nikmat sekali”, dengungku dalam hati.

“Keadaan kampung ini menuntut perjuangan dari semua orang yang tinggal di sini”, sambar om Mundus ketika aku menanyakan tentang keadaan kampung ini.

Keadaan geografisnya membuat semua orang di sini harus berjuang. Sebagian besar kampung ini adalah padang tandus. Akibatnya mereka kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Tekstur tanah yang keras membuat tanaman tidak bisa tumbuh subur. Keadaan tanah yang seperti ini membuat mereka kesulitan untuk bertani. Satu-satunya tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di sini adalah kacang tanah. Ditambah jalur transportasi yang sulit membuat mereka kesulitan berinvestasi.

Setiap pagi adalah perjuangan. Maka orang-orang menamakan kampung ini “Kampung Perjuangan.” Ketika jago mulai berkokok, burung-burung bernyanyi merdu, kami sekeluarga sudah harus membuka mata. Setiap orang memanjatkan sepucuk doa lalu meninggalkan bilik untuk memulai perjuangan. Aku bersama om Mundus mempersiapkan segala perlengkapan untuk menuju ke kebun, memanen kacang tanah.

Setelah menghangatkan dada dengan kopi hangat dan beberapa potong pisang goreng, kami langsung terjun menuju ke tempat perjuangan, ladang kacang.

Ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun, kami pun beristirahat. Sebelum makan, aku dan om Mundus pergi ke mata air terdekat untuk mengambil air minum karena air yang kami bawa telah habis. Di bawah naungan pondok beratapkan alang-alang kami menikmati makan siang. Lokasi kebun yang cukup jauh dari perkampungan membuat suasana di sini cukup sepi. Yang ada hanyalah suara angin yang mengoyangkan pepohonan.

Setelah menikmati makan siang kami kembali melanjutkan pekerjaan memanen kacang. Aku benar-benar lelah dengan kerja hari ini. Sedangkan om Mundus sepertinya tidak merasakan apa-apa. Dia tetap semangat meski si raja siang menyengat kulit gelapnya.

Tak terasa waktu memaksa kami untuk kembali ke rumah. Aku berpaling menatap si raja siang yang tampaknya akan kembali keperaduannya. Termuat rapi di antara perbukitan, terlihat sangat indah, berwarna jingga. Benar kata orang bahwa kita harus seperti matahari yang ketika datang membawa keindahan dan ketika pulang pun meninggalkan keindahan.

“Jangan lupa barang-barang semua”, teriak om Mundus mengagetkanku yang sedang kagum pada senja. Aku pun mulai berkemas untuk meninggalkan kebun kacang ini.

Setibanya di rumah, istri om Mundus telah menyediakan kopi didampingi kacang rebus yang sangat nikmat. Kami menikmatinya bersama-sama sambil bercengkrama dan tertawa ria. Aku sangat menikmati hidangan ini.

“Frater, inilah makanan kami orang kampung”, kata om Mundus di tengah-tengah cengkrama kami.

Kenikmatan makanan orang kampung tidak terletak pada jenis makannya melainkan kebersamaan. Orang bisa saja makan makanan enak namun tidak akan terasa enaknya jika itu hanya dinikmati sendiri. Kebersamaan dengan keluarga adalah kenikmatan yang tertinggi, bukan soal makanan. Setelah menikmati segelas kopi dan beberapa piring kacang aku lalu pergi ke sungai untuk mandi. Kebetulan jaraknya tidak jauh dari rumah.

Sang mentari telah pergi, diganti dengan bintang-bintang yang yang berbaris membentuk pola bebas. Tidak ada cahaya lain. Di setiap rumah penduduk hanya ada pelita yang bernyala. Langit benar-benar memahami ini dengan menghadirkan bulan, meski belum berbentuk purnama. Perlahan-lahan dia mulai menampakan diri, berbagi cahaya dengan bumi. Dia mengerti bahwa “Kampung Perjuangan” membutuhkan terangnya. Suasana kampung sepi. Yang ada hanyalah jangkrik-jangkrik yang terus mengumandangkan nyanyian merdu bak paduan suara.

Setelah mandi kami kembali berkumpul di ruang tamu untuk menikmati makan malam bersama. Sekali lagi tidak ada yang istimewa, yang ada hanyalah nasi putih dan sayur pepaya. Namun semuanya terasa nikmat sekali.

“Boleh tambah frater. Ini masakan paling enak dari istri saya yang paling cantik sedunia” kata om Mundus diikuti pecah tawa di langit-langit rumah.

Suasana sangat hidup. Semuanya bahagia. Makan bersama keluarga merupakan momen yang paling indah yang tidak boleh terlewatkan. Di sini, anggota keluarga berbagi kisah dan kasih. Kami akhiri semua cerita hari ini dengan doa bersama. Setiap orang lalu menuju ke biliknya untuk beristirahat.

***

Senja, sepi. Burung-burung menari, bercengkrama seru. Ranting-ranting bergoyang mengikuti permainan mereka. Angin sepoi-sepoi menelisik di celah-celah rambut. Sejuk. Damai. Matahari kembali menempati bukit. Terduduk indah. Perlahan mulai malu dan bersambunyi di balik bukit. Aku tersenyum.

“Wah…. Indah sekali”, dengungku dalam hati.

Aku bahagia menatap indahnya si raja siang yang telah kembali ke peraduaanya. Hati terasa tentram. Namun sayang, waktu telah berbuat kesalahan. Hari ini adalah hari ke sembilan aku berada di sini. Hal itu berarti besok aku harus meninggalkan tempat ini. Live in telah berakhir.

Malam itu, ketika kami berkumpul di ruang tamu untuk makan bersama, suasana terasa berbeda, tidak ada canda, tidak ada tawa, semuanya diam tak tahu apa yang harus dibicarakan.

“Frater, malam ini adalah malam terakhir kita di sini. Maka sebelum frater pulang saya dan keluarga ingin memberi pesan-pesan yang harus frater bawa pulang” kata om Mundus membuka pembicaraan meski dengan suara yang agak serak.

“Setiap orang memiliki panggilan hidup yang berbeda-beda. Frater telah memilih untuk menjadi seorang calon imam, maka frater harus menghidupi apa yang telah frater pilih. Setiap panggilan memiliki konsekuensinya. Misalnya saya memilih untuk menikah, maka saya harus menghidupi keluarga saya dengan membanting tulang untuk menafkahi keluarga dan menyekolakan anak-anak. Frater pun telah memilih jalan hidup ini, maka frater pun harus menerima semua konsekuensi yang dihadapi,” kata om Mundus  dengan amat panjang lebar.

“Kami memang sedih karena frater akan meningalkan tempat ini tapi itu adalah konsekuensi dari sebuah perjumpaan. Frater harus pulang untuk melanjutkan apa yang frater inginkan. Kami tunggu undangan tabisannya,” tambah om Mundus.

Ketika pagi menyapa, aku mempersiapakan diri untuk kembali ke komunitas. Semua kisah di “Kampung Perjuangan” harus ditutup. Setelah menyiapkan segala sesuatu, aku pun diantar pulang oleh om Mundus ke komunitas dengan Vega-R hitam miliknya. Perpisahan pagi itu dibalas dengan air mata semua anggota keluarga. Aku bersyukur bias ber-live in di kampung ini. Aku belajar banyak hal di sini. Terimakasih “Kampung Perjuangan”. Terima kasih om Mundus.


Rio Nahak, CMF
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More