Kapela Stu. Fransiskus Asisi Bes’ana

16

Guru Agama Kapela : Fransiskus Musi
Jumlah KUB : –
Ketua Dewan Kapela : bpk. Neonufa
Jumlah umat : 9 KK/ 31 Jiwa

Bes’ana merupakan salah satu nama kampung di Mollo Barat, TTS. Wilayah ini sangat subur sebab dialiri oleh Sungai Noeleke dan orang-orang Besana hidup makmur dengan sawah dan tanaman jambu mete. Secara presentase, Desa Besana 95% menganut Gereja Protestan. Namun di tengah kerasnya hidup ini, Gereja Katolik perlahan mulai memperkenalkan diri di tengah orang Protestan. Gereja Katolik St. Fransiskus Assisi Bes’ana berawal dari tiga orang pemuda asal TTU yang merantau ke Mollo pada tahun 1983. Ketiga pemuda itu adalah Dominikus Salu asal Tunbaba, TTU, Bapa Yeremias Liu (Alamarhum) dan Bapa Fransiskus Musi (Unab, TTU). Dan pada hari minggu ketiganya masuk ke dalam salah satu Gereja Protestan Ebenhazier Nefotufe untuk mengikuti perayaan hari minggu. Ketiganya tidak saling mengenal sebelumnya namun ketika ketiganya secara spontan melakukan tanda salib, baru mereka saling mengenal dan setelah mengikuti kebaktian di gereja mereka berkumpul dan saling memperkenalkan diri.

Dalam pertemuan singkat di luar gereja mereka memutuskan untuk merayakan kebaktian secara Katolik sendiri tanpa harus bergabung dengan Gereja Protestan sebab bagi ketiganya orang-orang Katolik dua atau tiga orang bisa ibadat sendiri. Pada tanggal 23 November 1984 Gereja Katolik Bes’ana resmi dibuka di rumah pribadi Bapa Frans Musi sekaligus sebagai Guru agama pertama. Pembukaan Kapela Bes’ana mendapat apresiasi dari Bapa Kornelis Lake yang juga adalah Guru Agama di Kapela Oetulu. Bapa Yeremias Liu meminta agar ketiganya melakukan ibadat di salah satu rumah dan rumah yang mereka pilih adalah rumah Bapa Fransiskus Musi.


Pada tahun 1984 Bapa Kornelis Lake mengundang tiga pemuda ini untuk mengikuti perayaan paskah di Paroki St. Maria Imakulata Kapan saat itu digembalakan oleh P. Blasius Fernandes, SVD, ketiga pemuda ini diundang ke atas altar dan Pastor paroki mengumumkan untuk membuka satu kapela baru di belakang gunung Mollo. Setelah direstui pembukaan kapela baru, maka tiga keluarga ini selalu merayakan Natal dan Paskah di Paroki Kapan. Pada tahun 1994, ketiga pemuda ini mendapat sakramen perkawinan dari P. Yustinus Tigono, SVD di depan rumah Bapa Frans Musi.

Ketujuh keluarga Katolik berjalan kaki mengikuti Pentahbisans Gereja di Kapan pada tahun 1995 sekaligus menerima Sakramen Krisma melalui urapan Mgr. Gregorius Monterio, SVD.
Pada tahun bulan Juli 1996 umat Kapela Bes’ana dialihkan ke Paroki Mater Dolorosa Soe, yang saat itu digembalakan oleh P. Yulius Bere, SVD. Pada tahun 2002 Umat Bes’ana dialihkan lagi ke Paroki St. Vinsensius A Paulo,Benlutu. Sejak saat itu Umat Kapela Bes’ana mendapat pelayanan dari Paroki Benlutu yang saat itu digembalakan oleh P. Damasus Sumardi, CMF imam pertama Para Misionaris Claretian Delegasi Independen Indonesia-Timor Lesta. Pelayanan kepada Bes’ana terus mendapat perhatian. Hingga pada tahun 2016 pergantian pastor paroki di Benlutu di mana CMF menyerahkannya kepada imam Projo dan Rm. Hilers Penga, Pr adalah imam Projo pertama yang menjadi gembala di Paroki Benlutu.

Sejarah Gereja Bes’ana terus mengalami perkembangan hingga pada tanggal 19 September 2020, Pastor Paroki bersama beberapa tokoh umat dari Pusat Paroki mengikuti Perayaan Ekaristi peletakan batu pertama untuk pembagunan gedung Gereja Bes’ana dan koor ditanggung oleh Umat dari Kapela Oetulu. Dana pembangunan gereja ini merupakan donasi dari P.Agus, SVD yang sedang bermisi di Mississippi, Amerika Serikat. Dan arsitektur gereja mengikuti budaya lokal Mollo. Gereja ini dikenal juga dengan istilah Gereja Gunung Mollo*
(Sumber Utama: Wawancara via HP Bersama Bapa Frans Musi dan Bapa Domi Salu di Bes’ana 19 September 2020)

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More