Kebangkitan Yesus Tidak Sia-Sia

0 21

Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kami dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor 15:17)

Kita sekalian pasti pernah membaca Kitab Pengkhotbah. Kitab ini memang terkenal dengan kebijaksanaannya. Beberapa ahli meyakini bahwa tujuan utama dari kata-kata pengkotbah adalah agar pendengarnya mau menikmati “hari ini”, atau istilah Latinnya berbunyi Carpe Diem (Seize the Day).

 Namun, kebanyakan kita pasti setuju dengan kata-kata sang pengkotbah pada bagian awal kitabnya yang begitu menarik perhatian, berbunyi: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh 1:2).

Dari kata-kata itu, kita bisa melihat bahwa tampaknya si penulis kitab memiliki petualangan hidup yang panjang. Atau istilah yang sering kita dengar, sudah banyak makan garam. Dan dia sendiri melihat bahwa kehidupan manusia itu, meminjam kata-kata Nietzsche, Die ewige Widerkehr des Gleichen (pengulangan yang sama secara abadi).

Artinya, bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang baru. Dalam perjalanan hidupnya, yang didapatinya adalah hal yang sama saja. Segalanya adalah pengulangan dari apa yang pernah terjadi di masa lalu. Maka, sia-sialah bagi manusia bila dia hendak melakukan sesuatu yang benar-benar baru (bdk. Pkh 1:10).

Demikianlah keadaan dunia kita, yang kelihatannya berjalan tanpa tujuan yang jelas; yang lebih menujukkan perjalanan yang sia-sia. Dunia hari ini dan dunia yang akan datang adalah dunia yang sia-sia karena akan tergelincir lagi pada apa yang pernah ada dan pernah terjadi di masa lalu. Apa yang mau diharapkan? Benar kata Pengkotbah, bukan?

Jika Pengkotbah melihat segala sesuatu adalah sia-sia, bagaimana dengan kebangkitan Kristus? Apakah kebangkitan Kristus adalah suatu hal yang sia-sia juga di mata Pengkotbah? Hemat saya, jawabannya pasti tidak (tentu jawaban ini meruntuhkan pemikirannya tentang segala sesuatu adalah sia-sia(?)). Lalu, apa yang menyebabkan Pengkotbah mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia? Indikator apa yang Pengkotbah pakai untuk mengatakan segala sesuatu adalah sia-sia?

Jawabannya adalah pada posisi Allah dalam segala sesuatu itu. Adakah manusia memberikan tempat kepada Allah dalam setiap langkahnya? Sebagai orang-orang yang memiliki keyakinan, manusia mesti sadari bahwa seluruh kegiatannya di dunia ini benar-benar tidak memiliki arti dan tujuan bila diaplikasikan secara terpisah dari apa yang Allah kehendaki (lih. Pkh 2:24-26; 3:13-15).

Demikian pula dalam kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus bukanlah suatu hal yang sia-sia. Posisi Allah dalam kebangkitan Yesus adalah hal terpenting yang memberi suatu kredit yang sama sekali lain, sehingga kebangkitan itu bukanlah hal yang sia-sia.

Kehidupan pasca kebangkitan Yesus bukanlah hal yang sia-sia. Hidup dalam dosa yang diakibatkan oleh kejatuhan manusia-manusia pertama merupakan cara hidup yang lama; yang membelenggu kehidupan; yang menyebabkan disharmoni antara Allah dengan manusia; yang membuat kehidupan terasa amat sia-sia.

Sedangkan kebangkitan Kristus menjadikan manusia terbebas dari belenggu dosa yang terwarisi; yang bagi Paulus jika tidak ada kebangkitan maka sia-sialah iman Kristen. Mengapa demikian? Karena ada Allah yang hadir dalam kebangkitan itu.

 

mario f. cole putra, cmf

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More