KEBIJAKAN PASTORAL PAROKI SESUAI DENGAN PENJABARAN HASIL MUSPAS KE IV TAHUN 2020 SAMPAI 2025

33

Visi Paroki :
Berjalan Bersama Dengan Semangat Injil

Misi Paroki :

  1. Berjalan Bersama Mewujudkan Persaudaraan Iman Umat Yang Baik dan Benar dengan Semangat Pengampunan dan Pertobatan (Rekonsiliasi)
  2. Berjalan Bersama Membangun Kesadaran, Penghayatan dan Tanggung Jawab Iman Umat Dalam Gereja dan Masyarakat (Lingkungan Sosial)
  3. Berjalan Bersama Memberdayakan Ekonomi Keluarga Yang Bermartabat; Sukacita Umat dan Sukacita Orang Muda Paroki
  4. Berjalan Bersama Mengamalkan Toleransi Yang Benar

Dasar Biblis:

  1. Markus, 2:1-12: ”Yesus Menyembuhkan Orang Lumpuh di Kapernaum Yang Digotong oleh empat Orang”
  2. Markus, 6:34-44 : “Kamu Harus Memberi Mereka Makan dari 5 roti dan Dua Ekor Ikan”
  3. Lukas, 21:1-4 : “Persembahan Janda Miskin……Memberi dari Kekurangan”

Arah Pastoral :

  1. Mengacu Pada Dokumen Instrumen Laboris (5 Aspek Kehidupan : Aspek Ekonomi Produktif, Aspek Lingkungan Hidup, Aspek Hubungan Sosial, Aspek Budaya dan Aspek Komunitas Gerejani)
  2. Arahan dan Masukan dari YM. Uskup Agung Kupang (MGR. Petrus Turang)
  3. Masukan dari : Pendamping Ahli dan Hasil Sharing Kelompok (DR. Phil. Norbertus Jegalus dan DR. Dominggus Elcit Li dan Sharing Kelompok Wilayah TTS II)

Strategi Pastoral :

  1. Membuat Kebijakan Pastoral Paroki sesuai 5 Apek Kehidupan yang harus diwujudnyatakan sebagai Kebijakan bersama yang Bersaudara
  2. Kebijakan Pastoral Paroki dibuat untuk mengajak segenap Umat Katolik di Paroki berjalan Bersama menuju Kemandirian, militansi, Kesadaran dan Perkembangan pada semua dimensi/ ruang kehidupan.
  3. Kebijakan Pastoral Paroki menjabarkan hasil MusPas KAK IV secara nyata/ riil dan selalu diperbaharaui sesuai zaman demi kebaikan bersama umat Paroki di masa mendatang. Penjabarannya, Antara Lain

    I.        Aspek Ekonomi Produksi Dan Pemberdayaan:

    Tujuan hidup manusia di dunia adalah kebahagiaan namun kebahagiaan dapat tercapai jika setiap orang mampu memberdayakan diri secara khusus mengatur Ekonomi dengan bijaksana. Sebab-sebab kunci persoalan ekonomi, seperti : Lapangan kerja terbatas, Perantauan dan Perdagangan orang sementara marak/ ramai dewasa ini, maka Gereja pun merasa bertanggungjawab terhadap hal demikian. Supaya Gereja katolik khusunya di Paroki Benlutu dapat berjalan bersama dengan semangat Injil, maka kebijakan Pastoral menjadi sebuah rel atau jalur penting demi keadilan sosial. Penjabarannya, sebagai berikut : 

II.   Aspek Lingkungan Hidup :

Ensiklik yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus “Laudato Si” mengajarkan segenap umat beriman untuk melihat keterkaitan hidup ini dengan alam ciptaan atau lingkungan hidup. Lingkungan hidup perlu dijaga dan dilestarikan melalui berjalan bersama antar umat Katolik dan inter sesamanya. Semuanya demi mengatasi masalah kekurangan kebutuhan pangan, kerusakan lingkungan hidup dan bencana-bencana yang terjadi. Diuraikan sebagai berikut : 

III. Aspek Hubungan Sosial

Umat Beriman Katolik adalah makhluk sosial sehingga tidak hidup sendirian dan selalu berinteraksi dengan sesamanya demi mewujudkan diri. Maka berjalan bersama dengan semangat Injil mengajak umat melihat bahwa Yesus Kristus adalah Kepala Gereja yang memimpin, menuntun, membimbing umat untuk senantiasa bertumbuh dalam kesadaran, saling mendukung dalam persaudaraan sejati mengatasi mental iri hati, kecemburuan sosial, kelompok  etnis yang tertutup, Individualistik dan Penyalahgunaan alat teknologi digital. Penjabarannya, sebagai berikut :  

IV. Aspek Budaya

Kebudayaan dalam hidup sosial manusia harus dilestarikan sebagai kearifan lokal. Melalui kebudayaan, manusia sadar akan peradaban dan nilai kesantunan di setiap daerah atau wilayah. Di pihak lain, ada pula sistim budaya yang mengakibatkan rusaknya persaudaraan dan penghayatan iman dalam Gereja. Sebab-sebab kuncinya, antara lain : mengutamakan adat ketimbang pendidikan, merosotnya nilai moral dalam kehidupan umat beriman, kebiasaan malas, kurangnya managemen dalam keluarga. Maka dibutuhkan kebijakan-kebijakan Pastoral di Paroki Benlutu yang hendaknya dipahami dan dilaksanakan, antara lain :  

V. Aspek Komunitas Gerejani

Komunitas Gerejani dimengerti sebagai Kumpulan Orang Beriman khususnya yang beragama katolik dalam satu wilayah Gerejani sesuai batas-batas teritorialnya. Komunitas Gerejani hidup dalam persaudaraan dan berjalan bersama menghadapi tantangan masa kini, antara lain : mental Apatis dan acuh, kurang menghayati Liturgi Gerejani, kurangnya penghayatan akan makna SakramenSakramen dalam Gereja, melemahnya peran aktif pengurus Gereja, berkurangnya semangat berderma, dan lain sebagainya. Oleh karena itu dibutuhkan pula kebijakan-kebijakan umum yang berlaku sebagai koridor demi mendukung Persaudaraan dalam membangun kemandirian umat  yang sungguh militan ke depannya, sesuai Fungsi Konsultatif,  antara lain :

BUTIR-BUTIR LAIN SEBAGAI PENEKANAN USKUP 

  • Dalam Gereja ada dua hal yakni Ministerium (Pelayan Khusus yakni mereka yang disebut pelayan tertahbis : Uskup, Imam) dan Servicium : mereka yang disebut awam ( hidup berkeluarga dan dalam keluarga). Awam tidak usah menjadi seperti pastor. Tetapi ada pastor yang membuat awam hampir seperti pastor. Dalam Gereja diharapkan awam jangan mengendalikan pastor atau pastor paroki. Harus berjalan bersama…. DPP boleh melaksanakan rapat…. Mengajukan usul saran tapi ingat !!…. Tidak boleh memaksakan usul saran agar pastor paroki wajib melaksanakan apa yg sudah disepakati itu. Ini butuh saling pengertian bersama.
  • Ada dua hal dalam kepemimpinan Pastor Paroki : yang disebut Mona (Monastik)? Itu menyangkut keputusan-keputusan pastor Paroki untuk kebaikan umat dalam berjalan bersama dan keputusan-keputusan itu perlu nilai kemurahan hati, belas kasih, pengampunan, sebagai keputusan hati untuk kebaikan bersama. Yang kedua adalah Militeristik ? hal Ini menyangkut Hirarkhi. Militer pun mengutip sistim hirarkhi Gereja. Artinya kepatuhan dan ketaatan. Sistim boleh sama namun prinsip dan hal-hal lain sangat berbeda. Dalam militeristik, pastor paroki itu komandan. Komandan tidak boleh lemah, komandan harus kuat supaya tidak mengikuti arus, tidak ikut arahan bawahan, dalam hal ini komandan harus punya kepercayaan diri dan ini perlu disadari oleh umat awam.
  • Awam dalam Gereja di Keuskupan pun tidak boleh lemah dan terkungkung dengan kehidupannya yang statis. Tidak boleh mengeluh dengan keadaan bahwa kami ini susah, miskin dan terbebani dengan kehidupan. Awam dalam Keukupan Agung Kupang juga harus memiliki kepercayaan diri, Optimis dan maju. Jangan merasa diri dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun sama dan tidak berubah. MusPas ke IV ini mengingatkan kita untuk tidak berjalan di tempat dengan ide-ide, wawasan, gagasan yang sama saja. Hidup ini tidak berjalan mundur atau di tempat saja melainkan maju. Itulah militansi kemandirian umat yang selalu berusaha tanpa mengharapkan bantuanbantuan.
  • Dalam memilih DPP perlu sistim Convidensial. Nama-nama calon DPP di bawah ke Uskup lalu Uskup yang memilih dan memutuskan. Bukan pastor dan tokoh umat yang pilih atau menentukan DPP. Biar uskup yang pilih agar tidak ada pertentangan di antara umat beriman. Inilah sistim militeristik… Dari atas yang menentukan. Inilah fungsi konsultatif….. Dari bawah mengusulkan.
  • Sosialisasi hasil MusPas ke 4 KAK Perlu dibuat oleh Paroki-Paroki berdasarkan Instrumen Laboris (5 Bidang : Ekonomi, hubungan sosial, Lingkungan hidup, budaya, peran aktif dalam Gereja). Temukan sebab kunci lalu cari jalan keluar dan buat Program Kerja di Paroki.
  • Hal tentang Gerejani lainnya : Gereja Katolik KAK harus menggunakan istilah “Persaudaraan” bukan “istilah “Persekutuan”. Karena Persudaraan sangat penting. Harus ada saling mendukung, jangan ciptakan persaingan yang tidak sehat. Kecemburuan, saling menjatuhkan, iri hati tidak menjadi alasan. Setiap Kombas perlu ada program kerja tersendiri. Persoalan dalam Kombas, Kapela dicari jalan keluar oleh umatnya dengan duduk bersama, berjalan bersama dan memecahkan persoalan bersama tanpa langsung menaikan persoalan-persoalan itu ke tingkat paroki hingga Keuskupan. Maka berjalan bersama di tingkat Kombas perlu menjadi semangat dan mental iman umat yang baru. Singkatnya bila ada persoalan umat yang ada dalam Kombas atau Kapela itu, harus duduk bersama dan pecahkan bersama dengan sikap yang bijaksana yakni saling mendengarkan dan saling menerima. Gereja tidak sama dengan pemerintah…. Jangan membuat soal. Pecahkan dengan hati dan harus adil. Bukan soal untung dan rugi.
  • Jangan membuat kebijakan-kebijakan baru di luar Aturan Gereja (Kebijakan seenaknya yang tidak berdasarkan kemurahan hati. Ingat kepala Gereja kita adalah Tuhan Yesus Kristus, kebijakan Yesus itu total dan kita hanyalah mengikuti KehendakNYA). Keputusan yang ada harus diketahui dan disetujui oleh Pastor Paroki. Maka Konsultasi itu penting.
  • Para Pastor entah yang ada di Paroki maupun di tempat lain di mana ia ditempatkan hendaknya merasa betah, kerasan dan mengalami sukacita bersama umat. Jangan merasa susah, miskin dan mengeluh di tempat itu. Kekayaan Pastor Paroki ada pada umat beriman. Pastor pergi berkunjung ke umat bukan untuk mencari uang tapi mengambil uang yang sudah ada pada umat.
  • Semua yang dibicarakan dan dibahas ini butuh kolaborasi dan sinergis….. Inilah yang harus dibangun dalam MusPas ke 4 KAK untuk arah Pastoral ke depannya.

PENUTUP
Kebijakan-kebijakan Pastoral sesuai Hasil Muspas KAK IV ini dibuat demi kebaikan umat beriman khususnya di paroki kita yang tercinta ini. Kebijakan-kebijakan ini demi membaharui sekaligus melengkapi kebijakan-kebijakan yang telah ada dan saling mengisi supaya sinergis. Semuanya dibuat untuk diketahui, dilaksanakan demi Berjalan Bersama dalam Semangat Injil yang menjunjung nilai Persaudaraan dalam Gereja kita. 

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More