Kehendak Tuhan dan Kehendak Kita

0 16

Sabtu, 25 September 2021

Za 2:1-5, 10-11a; Luk 9:43b-45

 

Yesus masih memberitahukan kepada para murid perihal kematian-Nya. Yesus masih menyebut diri gelar “Anak Manusia”, mengenai seseorang yang akan diserahkan dan dibunuh. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus masih ingin menunjukkan sisi lain dari seorang Mesias, yakni yang harus dibunuh kemudian bangkit dari kematian.

Para murid sendiri tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus. Pikiran mereka sangat gelap dan, lebih jauh lagi, mereka takut menanyakan hal itu kepadanya. Pada kesempatan lain, para penginjil menjelaskan alasan kesulitan ini: para pengikut Yesus memiliki mesianisme politik di kepala mereka, dengan keuntungan materi untuk diri mereka sendiri, dan membuat perdebatan tak penting di antara mereka. Rupanya,salib bukanlah bagian dari rencana mereka.

Sekali lagi, kehendak Allah memang berbeda dengan kehendak manusia. Kerap kali kita begitu berharap pada Tuhan agar apa yang kita kehendaki itu terjadi. Namun, hasil yang didapatkan malah sebaliknya. Kita pun marah-marah karena ekspektasi yang diletakan pada Tuhan tidak sesuai kehendak kita. Belum lagi, cerita orang lain yang justru sukses karena hidup dalam Tuhan, sehingga kita menjadi iri dengan hal itu. Tidak sedikit orang yang putus asa dengan kejadian seperti ini.

Barangkali, kita perlu bijak ketika berbicara dengan Tuhan. Kita senantiasa meminta ini itu pada Tuhan, tetapi janganlah memaksa. Perlulah berdoa agar kita bisa memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Di samping itu, ada kerja keras yang menyertainya. Dan akhirnya, semua memiliki proses dan tak akan ada yang dikecewakan dalam nama Allah Tritunggal. (mario f. cole putra, cmf)

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More