Ketika Film

0

“Gadis 15 tahun itu diketahui gemar mencicipi film horor dan cerita berbau kekerasan. Ia lantas mengaplikasikan apa yang ditonton untuk hal-hal yang mirip diperlihatkan dalam film dan cerita. Ia pun tak segan-segan menghabisi seorang balita di Sawah Besar Jakarta Pusat dengan ulasan skrip film.

 Ini soal potret efek film untuk anak-anak. Film memang menghibur. Tapi, kadang film juga menyedot adrenalin penonton. Tak hanya hati yang terbawa suasana, melainkan juga seluruh ruang gerak kita (khususnya anak-anak), diadopsi habis-habisan. Tak sempurna jika film cuman ditonton. Praktik seakan lebih menyatu dengan hidup real dan terlihat sempurna.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengatakan usia 13-16 tahun merupakan usia istimewa seorang anak untuk mengenal banyak hal baru dalam hidupnya. Hal baru itu, tak terkecuali, imbuhnya, melakukan kekerasan tanpa memikirkan dampaknya.

“Usia itu merupakan usia mereka bukan lagi anak-anak, tapi juga belum dewasa. Mereka sedang dalam usia mencari jati diri dan di usia ini mereka sangat pintar menyimpan rahasia,” kata Retno. Maka, membungkam kadang diperlihatkan anak-anak jika ditanya soal kesalahan yang dibuat. Memang, di usia demikian, rahasia adalah sahabat karib mereka.

Film memang membuat orang baper. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kadang terisak-isak atau ngambek sama tokoh tertentu dalam cuplikan film. Itu tak hanya terjadi saat film tengah diputar. Di luar rentang film dipertontonkan, perasaan tersentuh justru diaduk-aduk agar penonton tak pasif. Anjurannya usai menyaksikan film: “Do something!”


https://tirto.id/

Nah apa yang sebenarnya dibidik sebuah film untuk para penonton? Tak lebih daripada sikap aktif, katakanlah baper. Baper memang “brand” terlaris yang dipasarkan dari film-film “zaman now.” Beberapa orang di kampung, misalkan, beramai-ramai gosip soal tokoh-tokoh yang ada dalam film. Itulah dunia film. Ada fantasi dan gerak aktif yang dibawa serta. Bukan begitu saudara Gody Jr.?

Tapi, film agaknya tak lengkap jika film yang usai ditonton tak dibahas dan dinarasikan ulang. Ada memang orang yang gemar menarasikan film dengan baik. Semua diulas dengan apik dan intens. Ketika direnarasi, saya seperti ikut ambil bagian dalam penggarapan film. Seperti saya, inspirasi film sebagian besar memberi nuansa lain pada dinamika hidup. Itu karena film menghibur dan menginspirasi.

Nah soal menginspirasi ini yang kadang kelewatan. Dalih menginspirasi, kejahatan pun “reborn” pada diri seseorang. Banyak pelaku kejahatan misalnya melakukan hal-hal berbahaya bahkan menghabisi sesama karena terinspirasi dari film. “Saya menghabisinya karena saya tersentuh cuplikan film,” kata salah seorang pembunuh saat diadili di Pengadilan Negara Bagian Amerika Serikat.

Karena takut “menginspirasi” orang-orang tertentu, maka diberlakukanlah aturan batas usia mencicipi film. Di bioskop, usia-usia tertentu tak diperbolehkan menyaksikan film. “Kamu sudah nonton film ‘Joker’?” “Belum, soalnya belom cukup umur!” kata salah seorang siswa ketika saya tanyai terkait viralnya film “Joker.”

Film memang menginspirasi. Tapi, bagi sebagian orang, terutama anak-anak, film adalah skenario berpikir. Dari audio-visual, anak-anak disekolahkan, diawetkan, dan dilembagakan cara berpikirnya agar berperilaku persis yang dipertontonkan. Fungsi otak di saat itu sejatinya lagi patuh pada rangsangan yang bersifat audio-visual.

Di tanah air hal ini mendarat. Kisah pembunuhan yang dilakukan seorang anak berumur 15 tahun di wilayah Sawah Besar Jakarta Pusat menjadi salinan untuk semua. Terbukti, audio-visual itu lebih cepat menempel pada ingatan anak-anak. Ya tersimpan lama; tersimpan lama yang akhirnya mendorong mereka untuk meniru sekaligus menerapkannya.

Lalu bagaimana? Kepekaan lingkungan sekitar anak seharusnya menjadi tanggung jawab dan kesadaran kolektif. Termasuk dalam hal ini, menjauhkan anak-anak dari tontonan kekerasan. Maka, orangtua dan kita semua harus bisa memberikan penjelasan soal tindakan apa saja yang tidak boleh mereka lihat.

Jadilah teman bagi mereka, dan bukan malah menjadi hakim. Sebenarnya, pada usia SMP (13-16 tahun), anak-anak sangat bisa jika diberi nasihat dan penjelasan.


Fr. Tanto, CMF
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More