Kita dan Ketergantungan Pada Tuhan

3 22

Orangtua saya pernah bercerita tentang masa kecil saya dulu. Terkhusus, ketika masih bayi. Mereka melihat saya begitu mungil dan polos. Mereka mengenang saya yang menangis ketika jam makan sebagai penanda bahwa saya sedang lapar dan perlu diberi asupan gizi yang cukup, saya yang menangis merasa hendak buang air, saya yang menangis ketika merasa sesuatu mengganggu saya. Orangtua saya melihat hal-hal itu. Dan mereka mengerti bahasa tangis saya. Artinya, saya yang masih bayi kala itu perlu untuk dilayani.

Saya yang masih bayi sungguh masih bergantung kepada orangtua. Namun, saya merasa, bukan saja ketika masih kecil saya sungguh menggantungkan diri pada orangtua. Ketika bertumbuh menjadi kanak-kanak, beranjak remaja dan menjadi dewasa, saya masih bergantung pada orangtua (tentu dengan bentuknya yang berbeda-beda). Saya, hingga saat ini, masih sering meminta bantuan orangtua.

Ini adalah gambaran bahwa setiap manusia sangat bergantung pada yang lain. Maka, ungkapan manusia adalah makhluk sosial adalah benar. Dalam arti bahwa manusia tidak bisa menjadi individu yang sepenuhnya independen. Dia selalu membutuhkan yang lain untuk bisa menopang kehidupannya. Dari dia masih dalam kandungan mama sampai berada di liang lahat pun, manusia sungguh bergantung pada yang lain.

Demikian juga, manusia sangat bergantung pada Tuhan. Yesus dalam Injil Yohanes 15:1-8 melukiskan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Yesus menggambarkan manusia adalah ranting dan Tuhan adalah pokok anggur. Ranting tidak mungkin bisa menghasilkan buah bila ranting itu tidak menyatu dengan pokok anggur. Boro-boro berbuah, menghasilkan daun hijau pun dirasa mustahil!

Kata-kata Yesus dalam Injil tersebut hendak mengatakan kepada para pengikut-Nya bahwa tidak ada keselamatan selain dalam Dia. Hal ini mengingatkan kita akan kata-kata Yesus juga bahwa Dia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan. Jika demikian, Yesus adalah jalan menuju keselamatan sekaligus keselamatan itu sendiri.

Dengan klaim semacam itu, kita tampak bagai ikan yang tak bisa hidup tanpa air. Atau seperti pohon yang tak bisa hidup tanpa tanah. Kita adalah manusia yang tak bisa hidup tanpa Tuhan. Sejak dalam kandungan hingga ajal menjemput, bahkan hidup setelah kematian pun, kita tak bisa hidup tanpa Tuhan.

 

mario f. cole putra, cmf

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More