Komunikasi Pas Lebaran

7

Dewa Pengetahuan dalam mitologi Yunani, bernama Hermes sungguh mempelajari dan memahami pesan yang disampaikan dewa-dewi Olympus dengan baik. Seandainya Hermes salah memahami dan menginterpretasi pesan dewa-dewi Olympus kepada manusia, maka akibatnya sungguh fatal. Manusia bisa-bisa binasa. Hermes kala itu menjadi duta komunikasi antara manusia dan dewa-dewi Olympus. Pesan dewa-dewi dapat dipahami para penerima pesan, jika si pengantara mampu mengkomunikasikannya dengan baik.
Kita tengah berada di era berkelimpahan media. Tepatnya media komunikasi. Dari surat-menyurat menuju gadget. Dari begitu jauh menjadi sangat dekat. Dari sangat lama menjadi begitu cepat. Dari cuman kata-kata menuju gambar dan audiovisual. Rapid. Akan tetapi, ada bahaya di sana. Ada yang mati karena salah menata perilaku dan kata saat berkomunikasi. Dulu kita merajam sesama dengan batu. Sekarang kita lebih banyak merajam sesama dengan kata.

Komunikasi itu penting. Bayangkan, ketika lahir, manusia tak sabar mau berkomunikasi. Ia menangis sekuat tenaga. Ia bersentuhan dengan realitas dan ia mengutarakan sesuatu. Karena belum memahami bahasa verbal, ia lantas memperlihatkan gestur dan pelan-pelan menata bunyi menjadi kata-kata. Mula-mula ia menangis, mengenal kosa-kata tertentu, lalu kemudian, pelan-pelan menyulam kata ‘tuk dapat berbicara. Tahapan ini lumrah untuk setiap manusia. Saat pertama kali, manusia dihadapkan pada tahapan bagaimana menata kata dan mengkomunikasikannya.

Hari ini, Gereja Katolik Roma memperingati Hari Komunikasi Sedunia. Ini usia yang ke-54. Di saat bersamaan, umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Pesannya sama: bagaimana berkomunikasi? Paus Fransiskus, pemimipin tertinggi Gereja Katolik memberi pesan agar semua warga dunia menyampaikan pesan dengan apik, indah, mudah dipahami, dan bisa dibaca oleh anak cucu masing-masing. Ia mengutip pernyataan Kitab Keluaran, demikian: “Supaya engkau bisa menceritakan kepada anak cucumu” (Keluaran 10:2). Memang demikian: berkomunikasi agar orang paham. Bila perlu tahan lama sampai ke anak cucu.

Di saat yang sama, umat Muslim juga menggarisbawahi tata komunikasi saat Lebaran. “Maka, sebagai gantinya, kita dapat melakukan silaturahmi melalui media yang ada, seperti telepon, SMS, whatsapp, video call, dan lain-lain,” kata Sekertaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Silaturahmi kali ini tak bersentuhan. Kita menjaga jarak. Tapi, dengan kehadiran media komunikasi seperti sekarang, silaturahmi tetap berlangsung. Melalui video call, misalnya. Dengannya kita tetap bisa menyampaikan “Mohon maaf lahir dan batin” kepada keluarga dan kerabat.
Menjaga jarak di hari kemenangan Idul Fitri mengingatkan saya pada kisah kebangkitan dalam potret sejarah iman orang Katolik. Di sana diceritakan bahwa Yesus melarang seorang perempuan bernama Maria untuk menyentuh-Nya. “Jangan sentuh Aku!” kata Yesus (Yohanes 20:17). Yesus mengingatkan Maria agar tetap menjaga jarak. Ini sebuah protokol untuk demi masa depan. Kita tetap terhubung dan berkomunikasi tanpa harus menyentuh. Tetap jaga jarak.

Di tengah pandemi Covid-19, kita tetap terhubung. Semuanya ini berkat kehadiran teknologi. Kemajuan teknologi telah membantu manusia di saat-saat “ambyar” seperti ini. Bayangkan, jika tak ada teknologi secanggih sekarang, kesulitan-kesulitan seperti sekarang hanya dapat dinikmati dan menciptakan stres. Kenyataan-kenyataan yang meluap ke permukaan saat ini perlu disadari dan direfleksikan. Sepertinya, kita tak bisa mengelak bahwa kita sungguh membutuhkan media dalam berkomunikasi. Tak cukup surat-menyurat, tak cukup membaca pesan di SMS. Kita seperti dipertemukan meski jarak tak mungkin dijangkau secara real.

Pada peringatan Hari Komunikasi Sedunia ini, kita diajak untuk menyulam kata dan konten komunikasi dengan indah, santun, etis, menyatukan, energik, dan membuat orang-orang – bahkan anak cucu kita, seperti yang digarisbawahi Paus Fransiskus – mampu memahaminya dengan baik. Pesan ini sengaja diangkat mengingat dosa karena semprotan kata baik secara verbal maupun melalui media sosial atau media lainnya tak lagi etis dan membingungkan di saat sekarang. Pola komunikasi dengan segala kemajuan yang ada sekarang, seharusnya lebih santun dan enteng dicerna. Bukan sebaliknya, sarat provokatif, memecah belah, penuh caci-maki, dan tak dapat dimengerti. Seperti Hermes, pesannya harus dikelola dengan baik agar sampai pada penerima pesan.

Di media sosial, tak jarang, kita melihat sesama kita saling merajam. Jika dulu orang merajam sesamanya dengan batu, kali ini, kata-katalah senjata untuk merajam sesama. Dalam Kitab Suci agama Katolik ada banyak kisah di mana manusia suka menghakimi sesama lalu dengan mudah merajam. Dalam Injil diceritakan orang Farisi berusaha melempari perempuan yang kedapatan berbuat zinah dengan batu (Yohanes 8:1-11). Dalam kisah lain yang dikemas dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa seorang pengikut Kristus bernama Stefanus mati dirajam orang-orang Yahudi karena imannya akan Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 7:54-60).

Di era sekarang, ketika semua perhatian dan waktu kita lebih banyak tercurahkan ke dunia virtual, alat yang sering dipakai untuk menghakimi dan merajam sesama berubah wujud berupa kata. Iya benar, kata. Banyak orang yang disingkirkan, dipenjara, diancam, dan bahkan dibunuh karena tata katanya yang kurang santun dan apik. Kita perlu menyadari semua situasi ini agar kita tetap menjadi pengantara pesan yang menyatukan dan membuat orang mudah memahami. Kita dituntut untuk menyulam berbagai cerita dan pengalaman kita dengan tata kata yang santun, etis, dan mudah dipahami. Bila perlu anak cucu kita juga paham konten komunikasi.

Lebaran kali ini menuntut tata kelola kata yang fitri. Kita tak hanya dituntut untuk “id fitri” atau kembali suci secara lahir dan batin, tetapi juga suci dalam berkomunikasi. Penggunaan kata-kata yang santun-etis, menyatukan, akan lebih mendekatkan kita pada harapan yang kita impikan selama bulan Ramadhan kemarin. Alat komunikasi tentunya telah menjembatani semua prospek kita di tengah pandemi dan Hari Raya Idul Fitri. Kita bersyukur karena kita masih tetap terhubung dan bersilaturahmi.

Sekali lagi, kita perlu menggunakan alat komunikasi dengan baik. Tatalah kata yang apik dan indah agar mampu menyatukan dan membuat orang paham – bila perlu langeng sampai anak cucumu. Kiranya pesan Rasul Paulus bisa diendapkan untuk konteks ini. “Kamu adalah surat dari Kristus yang ditulis oleh pelayan kami; ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan Roh dari Allah yang hidup; bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh hati gading, yaitu di dalam hati” (2Kor3:3).

Selamat merayakan Hari Komunikasi Sedunia dan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah bagi saudara-saudari Muslim. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin.

 

 


Kristianto Naku, CMF
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More