Memaknai Pesan Hari Komunikasi 2021 dalam Komunikasi Era Digital

0 4

Peradabaan manusia kini memasuki sebuah era baru yang disebut era digital. Dalam era digital kini, sistem online atau daring sangat memainkan peranan yang sangat sentral. Sistem online semacam ini juga sangat berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan manusia, termaksud bidang komunikasi.

Dalam komunikasi era digital dengan sistem online, kehadiran media-media sosial seperti facebook, twitter, instagram, whatsapp, dan juga media-media sosial lainnya yang belakangan muncul dan secara mudah diakses oleh publik memungkinkan adanya kemudahan dalam berkomunikasi. Orang dari berbagai belahan bumi dengan berbagai latar belakang dapat saling berinteraksi hanya dengan mengandalkan kecepatan jari.

Selain itu, dalam hal mencari berbagai informasi, orang tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencari koran atau berlama-lama di perpustakaan. Cukup saja dengan menggunakan media internet dengan berbagai layanan media online atau google orang dapat dengan mudah menjelajahi seluruh informasi di seluruh belahan dunia ini.

Namun demikian, kehadiran media-media sosial dengan berbagai tawaran kemudahannya juga serentak menciptakan sejumlah soal di dalamnya. Maraknya hoaks, ujaran kebencian, buli dalam media sosial, penipuan dengan instrumen akun palsu juga marak dijumpai dalam dunia maya. Jika ditelusuri secara lebih dalam, persoalan semacam ini adalah implikasi langsung dari kreasi manusia dalam bidang teknologi dan informatika yang bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan manusia tetapi juga sebaliknya justru menambah deretan kebutuhan manusia.

Ketika semua bidang kehidupan manusia semakin dirasuki oleh dunia digital, ketergantungan orang pada internet untuk segala dimensi kehidupan kini dirasakan semakin tinggi. Mental konsumtif semakin kuat tertanam dalam kehidupam manusia dewasa ini. Masyarakat sekarang diliputi oleh mental serba cepat dan aktual.

Realitas mental semacam inilah oleh pemikir Mazhab Frankfrut dinamakan sebagai bentuk mitologi baru.[1] Mitologi baru ini adalah pendewaan pada rasionalitas manusia yang tertuang pada pendewaan terhadap iptek. Dengan demikian manusia terjebak dalam suatu idola. Konsep idola atau penyembahan berhala ini sebenarnya digaungkan oleh Francis Bacon sebagai sebuah reaksi akan kesesatan berpikir yang diakibatkan karena kurangnya daya kritis manusia terhadap gagasan-gagasan yang sudah dipandang sebagai kebenaran umum.[2] 

Terkikisnya daya kritis semacam ini juga diakibatkan karena gerak komunikasi yang hanya berlangsung pada taraf penerimaan stimulus atas dasar sensasi. Penerimaan stimulus tersebut lalu dipersepsi secara subjektif dan langsung bergerak kepada tahap umpan balik.[3] Dalam konteks ini ada satu bagian yang kurang yaitu pengolahan secara lebih mendalam pada tahapan kognitif atas informasi yang diterima.

Dalam situasi model komunikasi semacam ini, pesan Paus Fransiskus pada hari komunikasi sedunia sekiranya cukup relevan untuk menjadi pedomaan dalam berkomunikasi. Dalam surat pastoralnya pada hari komunikasi sedunia 2021, Paus mengajak semua kalangan entah itu jurnalistik, politisi, dan semua kalangan yang bergiat dalam dunia media dan jurnalistik, agar terlibat langsung dalam realitas, melihat realitas secara dalam dan selanjutnya menyampaikan pesan yang didasarkan pada apa yang terjadi dalam realitas.[4]

Pesan Paus ini sebagai sebuah kritikan dan sekaligus himbauan atas pemberitaan media dewasa ini yang kerap kali hanya didasarkan pada persepsi pemberi pesan atau berita. Para pemberi pesan atau berita kerap kali hanya menghabiskan waktunya di depan komputer atau media lainnya tanpa melirik langsung pada realitas yang terjadi.

Akibatnya, yang disampaikan adalah informasi yang hanya sekadar sensasional demi menguasi emosi massa yang terjebak juga dalam mental instan dan serba sensasional. Kedalaman informasi yang dibangun oleh media dan para pelaku media seperti jurnalis, tertutama jurnalis media online tentunya sangat membantu khalayak dalam menemukan kualitas informasi yang dalam.

Selain bagi para pelaku media, pesan Paus ini juga serentak menjadi ajakan bagi para penerima pesan, dalam hal ini khalayak, untuk tidak mudah terpancing oleh berbagai isu atau informasi yang disalurkan oleh media tanpa dibarengi dengan sikap kritis. Sikap kritis semacam ini hanya muncul jika orang betul-betul memaknai pesan Paus untuk tidak hanya menghabiskan waktu dalam dunia-dunia maya tanpa terlibat langsung dalam realitas dan menemukan serta memaknai realitas secara sungguh.

Dengan turun langsung pada realitas dan serentak bersikap kritis, aspek yang hilang dalam model kominkasi dewasa ini yaitu tahapan kognisi dapat segera dilengkapi. Hanya dengan melihat langsung dengan mata kepala sendiri publik tidak dapat dengan mudah digiring oleh berbagai berita bohong dan ujaran kebencian yang kerap kali marak dalam media-media sosial dewasa ini.

Selain itu, dengan mengambil waktu untuk turun langsung dan melihat realitas dengan mata kepala sendiri, publik juga diharapkan tetap bersikap kritis sebelum meneruskan berbagai informasi yang diterima.

 

Regina Fallo – mahasiswi di Fakultas Psikologi, Universitas Nusa Cendana, Kupang

 

Catatan Kaki:

[1]F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat Politik dan Postmodernisme Menurut Jürgen Habermas (Kanisius: Yogyakarta, 1993), hlm. 73.

[2]Frans Ceunfin, “Sejarah Pemikiran Moderen I” (ms.), (Maumere: STFK Ledalero, 2003), hlm. 66.

[3]https://kpi.ikhac.ac.id/wp-content/uploads/2019/04/Modul-Psikologi-Komunikasi.pdf, diakses pada 17 Mei 2021.

[4]https://www.mirifica.net/2021/03/13/pesan-paus-fransiskus-pada-hari-komunikasi-sedunia-ke-55, diakses pada 17 Mei 2021.

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More