Menari Bersama di Depan Pintu Kematian

13

Baru-baru ini, saya memberitahukan kepada seseorang bahwa ada seorang kenalan saya yang baru saja meninggal. Yang meninggal ini adalah seorang yang sudah sangat tua. Umurnya 80-an.

Seorang yang berbicara dengan saya ini, kebetulan juga sudah tua. Umurnya 60-an. Ketika menyampaikan kabar itu, lawan bicara saya ini hanya merespon, “Turut berdukacita atas kematiannya. Saya akan mendoakannya”. Dia memberitahukan isi hatinya itu sambil tersenyum.

Kemudian saya bertanya, “Mengapa Anda tersenyum?” Lawan bicara saya ini malah tambah tersenyum. Awal melihat dia tersenyum, saya begitu tidak mengerti. Tetapi, beberapa menit kemudian hasrat untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “Mengapa Anda tersenyum?” mulai mereda. Saya lalu berhipotesa bahwa mungkin dia sedang mengingat dirinya yang juga sudah sangat tua.

Sempat beberapa detik kami terdiam, lawan bicara saya yang sudah tua ini berkata.

“Hari ini kenalanmu yang pergi. Saya sedang menunggu giliran”, katanya sambil tersenyum pula.

Saya tersontak mendengar apa yang telah dikatakannya. Mengapa dia berbicara begitu? Apakah ini jawaban atas pertanyaan saya tadi? Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pikiran, saya mencoba memverifikasi pernyataannya itu.

“Mengapa Anda berkata demikian?” saya bertanya dengan sungguh.

“Karena umur saya sudah terlalu tua jua. Kamu masih terlalu muda”, katanya sambil tersenyum lagi.

Entahlah, apakah memang dia sedang bersiap menunggu giliran atau entahlah. Tapi, saya tentu tidak puas dengan jawabannya itu. Pikiran saya memang tidak pernah puas dengan jawaban yang demikian.  Bahkan untuk hal yang sepele dan sederhana.

“Minta maaf, saya kurang setuju dengan pernyataan itu. Kita memang berbeda umur. Saya boleh masih muda, dan Anda boleh sudah tua. Namun, soal kematian, tidak ada yang tahu. Tujuan perjalanan kita sama. Kita sama-sama menuju kematian. Tapi, kita masing-masing tidak tahu seberapa panjang rute perjalanan kita menuju kematian itu. Bisa saja perjalanan saya lebih singkat, dan Anda memiliki perjalanan yang masih sangat jauh untuk menuju ke sana”.

Mendengar hal itu, lawan bicara saya ini terdiam. Saya juga ikutan terdiam. Kami sama-sama terdiam.

“Terima kasih untuk kata-katamu. Kamu sungguh mengubah pikiran saya hari ini. Mari menari di depan pintu kematian”

Setelah mengatakan itu, si lawan bicara sempat tersenyum menatap saya. Sesaat kemudian, dia pergi dengan tenang. Menuju ke rumahnya. Melihat matanya, saya melihat ada suatu ketenangan yang mendalam.

Ya, semoga dia menikmati kehidupannya, menangkap setiap makna yang hadir dalam setiap aktivitasnya, melakukan yang terbaik untuk dirinya dan orang lain. Begitu pula dengan saya. Semoga saya juga menikmati kehidupan dengan hati. Dengan penuh kegembiraan.

Agar kematian kita menjadi penuh arti.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More