MENDENGAR DAN PERCAYA, SYARAT MENJADI MURID SEJATI

0 24

Renungan Hari Minggu 17 Januari 2021, Pekan Biasa II

Bacaan I 1Sam 3: 3b-10,19

Bacaan II 1Kor 13:3c-15a, 17-20

Bacaan Injil Yoh 1:35-42

Ilustrasi. Seorang bapak pernah datang kepada seorang rahib tua yang sangat  bijaksana dan bertanya, “Bapak, mengapa sekarang ini semakin banyak orang yang meninggalkan Gereja?” Rahib tua itu menjawab dengan perbandingan berikut, “Apabila seekor anjing melihat babi hutan, anjing itu tentu saja akan berlari mengejar babi itu sambil menggonggong. Gonggongan anjing itu tentu saja akan menarik perhatian anjing-anjing lain untuk ikut berlari ke sana-kemari sambil menggonggong, meskipun mereka tidak melihat babi  yang dikejar. Setelah beberapa waktu kemudian anjing-anjing yang tidak melihat babi itu dan hanya ikut-ikutan menggonggong akhirnya lelah dan menyerah. Mereka berhenti mengejar dan menggonggong karena tidak menemukan sasarannya. Hanya anjing  yang melihat babi itulah yang terus mengejarnya sampai mendapatkannya. Demikian pula mereka yang menjadi anggota Gereja. Hanya orang yang benar-benar melihat Kristus dengan mata kepala sendiri dan percaya kepadaNya akan bertahan. Sedangkan yang lain yang datang hanya karena ajakan orang lain atau alasan2 tertentu pelan2 akan kehilangan minat dan meninggalkan Gereja”

Bacaan-bacaan suci hari ini melukiskan tentang kisah panggilan manusia menjadi utusan Allah di tengah dunia. Bacaan-bacaan ini pun mengajak kita untuk merenungkan dan memaknai panggilan hidup kita masing-masing.

Bacaan pertama mengisahkan tentang Samuel yang lahir sebagai buah dari doa Hana, ibunya, yang mandul. Hana berjanji menyerahkan anaknya kepada Allah jika Allah berkenan mendengarkan doanya. Maka Samuel dipersembahkan kepada Allah sebagai pemenuhan nazar Hana. Hana buat janji dan menepatinya. Samuel dipanggil oleh Allah untuk menjadi  utusanNya ketika ia melaksanakan tugasnya di Bait Allah. Pada mulanya Samuel tidak mengenal suara Allah. Tetapi berkat bimbingan imam Eli Samuel yakin bahwa suara yang memanggilnya adalah suara Allah sendiri. Maka Samuel berkata, “Bersabdalah ya Tuhan, hambaMu mendengarkan”, (Bdk. Sam 3:10). Sejak saat itu Tuhan terus-menerus menyampaikan firmanNya kepada Samuel, untuk mematangkan keyakinannya dan membimbingnya menjadi  nabi, imam dan hakim bagi bangsa Israel.

Kesediaan Samuel menjadi utusan Allah menunjukkan kemampuannya untuk mendengarkan dan mengenal Sabda  Tuhan.  Dan kemampuan mendengarkan Tuhan menjadi syarat utama seorang utusan Tuhan. Karena orang yang sungguh mendengarkan  Tuhan akan sanggup memahami kehendak Tuhan dan mampu menjadi utusan yang sejati. Samuel tampil sebagai utusan Tuhan sebagai nabi, imam dan hakim karena ia sungguh mendengarkan Firman Tuhan dan hidup menurut kehendak Tuhan.

Sebagai nabi, ia mewartakan Firman Tuhan kepada orang-orang Israel; sebagai imam, ia membawa persembahan yang berkenan kepada Allah mewakili bangsa Israel, dan sebagai hakim, ia melindungi dan membela  bangsa pilihan Allah dari ancaman orang-orang Filistin.  Samuel pantas menjadi utusan Tuhan karena ia mengenal suara Tuhan, selalu mendengarkanNya dan setia melaksanakan sabda Tuhan di dalam hidup sehari-hari.

Dalam Injil kita dengar tentang proses panggilan murid-murid Yesus yang pertama. Ketika melihat Yesus, Yohanes Pembaptis mengarahkan perhatian kedua muridnya dan memperkenalkan Yesus kepada mereka, “Inilah Anak Domba Allah”. Kita lihat bahwa Yohanes sungguh  setia pada panggilannya yakni menjadi perintis yang siapkan jalan bagi manusia  untuk  mengenal Yesus, Mesias. Ia membiarkan kedua muridnya  mengenal, mengikuti dan menjadi murid  Yesus.

Perjumpaan pertama dengan Yesus membuat hati kedua murid itu sungguh terpikat sehingga tanpa ragu-ragu mereka menyapa Yesus sebagai Rabi atau Guru, ketika menanggapi pertanyaan Yesus, “apa yang kamu cari”. Keduanya sepertinya cepat melupakan Yohanes lalu beralih kepada Yesus. Mereka telah memutuskan untuk mengikuti Yesus dan menjadi muridNya. Maka hari itu mereka tinggal bersama Yesus hingga pukul 4 petang. Kedua murid Yohanes justeru mengenal, mengikuti dan menjadi murid Yesus karena jasa Yohanes Pembaptis. Dengan kata lain, Yohanes Pembaptis menjadi jalan yang menghantar kedua muridnya  untuk mengenal, mencintai dan tinggal bersama Yesus.

Hal yang sama dilakukan oleh Andreas, salah seorang dari kedua murid, yang telah memnjumpai Yesus. Keyakinan Andreas akan Yesus sebagai Mesias yang dinantikan, mendorong dan memotivasinya  untuk membawa Simon, saudaranya, kepada Yesus.  Simon sepertinya membiarkan dirinya dibawa oleh Andreas  untuk berjumpa dengan  Yesus. Dan, nampaknya Yesus sudah mengenal sosok Simon dan karakternya yang keras laksana batu karang sehingga Yesus menyebutnya Simon Petrus. Akhirnya Yesus mempercayakan Simon Petrus, sosok yang kuat ini, dan menetapkannya sebagai pemimpin dari para Rasul.  

Apa pesan kisah-kisah panggilan di atas untuk kita? Pertama, satu hal menonjol yang patut kita ingat yakni peran pendengaran. Samuel mendengarkan panggilan Tuhan, ia sungguh yakin akan suara Allah dan setia mentaatinya. Itulah sebabnya Samule berkata, “Bersabdalah ya Tuhan, hambaMu mendengarkan”. Kedua murid Yohanes menjadi murid Yesus karena mereka mendengarkan perkataan gurunya bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah.

Kedua, kita lihat pentingnya peran perantaraan. Seperti Allah memanggil Samuel menjadi utusanNya dengan perantaraan imam Eli, dan Yesus memanggil murid-muridNya melalui Yohanes Pembaptis, kita pun dipanggil untuk menjalankan tugas sebagai utusan Allah di dalam masyarakat, keluarga dan lingkungan hidup kita. Kita menjadi imam Eli yang berusaha memperkenalkan  Suara dan Firman Allah kepada sesama kita. Kita menjadi Yohanes Pembaptis yang menunjukkan  Allah yang senantiasa hadir di dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Kita mengajak sesama untuk berdoa, untuk membaca Firman Allah dan merenungkannya. Karena ketika kita dekat dengan Tuhan maka kita akan semakin memahami kehendakNya, iman kita menjadi lebih kuat dan kita bisa bertahan menghadapi banyak tantangan, kesulitan dan cobaan hidup.  

Mari kita saling menolong dan mendukung sehingga bisa hidup sebagai murid Tuhan yang setia dan berusaha menjadikan tubuh kita  bait kudus Allah, tanpa cacat dan dosa, sehingga pantas menjadi utusan Allah di tengah dunia. Amen.

P.Gregorius Nule, SVD
(Staf Pendamping di STFK Ledalero, Maumere)
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More