“Monik, I Love You”

1

Sore itu, di pojok kota ramah, di salah satu cafe yang bertuliskan Bitter Way, kami duduk berdua, saling bersua, meyakinkan diri bahwa kami bisa bersatu. Memadukan kasih yang akhirnya dicuri waktu. Aku membayangkan sebuah kapel yang didekor indah. Di sana ada sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara. Saling bersumpah sehidup-semati. Namun tiba-tiba aku diusik oleh rongrongan hati yang tak mau berkompromi dengan realitas hidup yang kelam.

Dengan nada minor aku mulai memecah suasana yang hening bagai kuburan di tengah hutan. Sunyi.

”Sayang, aku nggak kuat hadapi semuanya ini,” sambil menatap Adit yang sibuk dengan handphone xiaomi-nya.

“Ia aku ngerti. Tapi kamu bisa sembuh kok”, sahut Adit, namun tidak mengalihkan padangannya dari benda mati itu.

“Hidup ini terlalu berat untuk dijalani. Sakit, ditolak sama orang tua kamu, ditambah lagi orang tua aku yang ngak jelas hidup mereka. Aku lebih baik mati, Dit.” Keluhku.

Kayakinan akan hidupku yang kabur-suram mambuat aku yakin bahwa Tuhan pun tak bisa berbuat apa-apa. Tapi aku beruntung masih memiliki Adit. Laki-laki yang membuat aku selalu berpengharapan. Adit adalah sosok laki-laki malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Dia adalah idaman semua wanita karana siapa pun pasti selalu nyaman berada di dekatnya.

Hubungan kami hampir mendekati tahun ke empat. Dia mengatakan “I LOVE YOU” kepadaku ketika kami sama-sama mengakhiri masa indah putih abu-abu. Sejak itu kami bersepakat untuk menganyam kisah bersama di salah satu universitas ternama di kota ramah ini.

“Monik kamu pasti bisa. Kita berdoa saja. Serahkan semuanya pada Tuhan. Tapi kamu juga harus berjuang untuk sembuh. Banyak kenalanku yang hepatitisnya sembuh kok. Soal orang tuaku kamu nggak perlu kawatir. Itu urusan aku dengan mereka. Dan orang tua kamu juga pasti bisa rujuk kembali. Asalkan kamu terus berdoa dan berjuang. Berjuanglah terus, Nik. Di ujung kemampuanmu biarlah Tuhan yang berkarya.”

Artikel Lainnya  Buddha & Pikiran

Kata-kata Adit ini seperti obat penenang yang membuat hati ini tentram, meski diliputi luka yang menganga.

Hari-hari kami berjalan begitu lambat. Aku tenggelam dalam luka yang tak terselami. Namun aku percaya pada kata-kata Adit, “kamu pasti sembuh”. Hal pertama yang aku fokuskan adalah “sembuh”.  Aku tahu bahwa orang tua Adit tidak menerimaku karena penyakitku. Aku berjuang dengan semua cara untuk mengakhiri kelamnya ziarah hidupku.

Waktu yang selama ini aku nantikan akhirnya tiba juga. Namun sayang, semuanya hanya sesaat. Saat itu adalah saat di mana aku menggenggam sukacita yang tak perlu kugenggam. Saat itu adalah saat di mana sukacita tak lagi bermakna sukacita. Saat itu adalah saat di mana kebahagiaan harus dihapus dengan kehilangan.

Pagi itu, di kala sang penguasa siang mulai menyapa, hangatnya mulai menusuk kalbu, cahayanya mulai merobek gelap, aku dibuat gembira oleh berita yang berujung derita. Handphone samsung J2 berwarna emas milikku tiba-tiba bergetar. Dengan mata yang masih sedikit melek aku meraih handphoneku. Di seberang sana terdengar suara lambut khas mbak Jawa, menyapa.

“Selamat pagi mbak monik”.

“Ia selamat pagi Dok, sebentar lagi aku kesana. Obat-obatku juga sudah habis Dok”, jawabku sedikit malas.

Pergi ke rumah sakit adalah hal yang paling aku benci. Aku seolah-olah diciptakan hanya untuk berkunjung ke sana. Bosan. Menyakitkan.

“Nggak perlu lagi ke sini mbak”, sahut dokter Kety lebih halus.

“Apa?” balasku kaget.

“Ia mbak. Mbak nggak perlu ke sini lagi. Hasil tes laboratoriumnya udah keluar. Dan mbak Monik dinyatakan negatif hepatitis,” sahutnya menjelaskan.

Aku tak bisa berkata-kata, hanyalah air mata yang terus mengalir. Aku tidak tahu mengapa mutiara asin ini tiba-tiba mengalir. Ini adalah berita gembira yang sudah lama aku nantikan. Dengan perlahan, aku membisikan seutas doa.

Artikel Lainnya  Ketika Film

“Oh Tuhan terima kasih. Engkau sungguh baik bagi ku. Tak ada yang mustahil bagi-Mu.  Aku akhirnya bisa melewati masa kelam ini.”

Dengan semangat menggebu-gebu, aku bangkit dan menatap hari dengan penuh optimis, tidak seperti biasanya. Dan hal pertama yang harus aku buat adalah memberitahukan berita ini kepada Adit. Ya, Adit harus tahu bahwa aku sembuh. Ini adalah kabar sukacita yang harus diwartakan dari atap rumah.  Dalam waktu kurang dari lima belas menit aku telah siap. Aku ingin membuat kejutan kecil untuk Adit. Maka sengaja tidak ku beritahukan kabar gembira ini kepada Adit via telepon.

Kabar gembira ini ternyata tidak bertahan lama. Semuanya berbeda, di luar dugaanku. Memang benar bahwa aku menggenggam sukacita yang tak perlu ku genggam.  Benar bahwa aku menggenggam sukacita yang tak bermakna sukacita. Kebahagiaan itu harus dihapus dengan kehilangan. Tak berbekas, bahkan selamanya.

Ketika grab yang aku tumpangi menepi di sudut gerbang utara kampusku, aku mendengar bunyi “ddoooorrrr” dari arah Barat tepat di perempatan jalan. Sebuah mobil kijang hitam melaju kencang dari arahku menuju ke arah Barat. Bertepatan dengan itu, sebuah motor CBR 150 berwarna hitam-merah muncul dari arah selatan memotong jalur laju mobil tersebut hendak berbelok ke arahku. Dan bunyi itu terdengar keras. Aku akhirnya menjadi saksi hidup kisah menyakitkan itu. Kisah yang mengubah arah hidupku 180 derajat.

Aku mengenal motor itu, bahkan setiap jengkalnya. Kini motor itu hancur, tak berbentuk. Dan yang paling aku kenal adalah pengendaranya. Laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi, kulit sawo matang, dan rambut yang hitam mengkilat. Kini ia tergeletak di tengah perempatan. Darah mengalir deras dari kepala bagian belakang. Dan sedikit mengeluarkan suara jeritan diikuti gumpalan darah yang dimuntahkan keluar dari mulutnya.

Artikel Lainnya  Aku merindumu hujan (Kepada petani lahan kering)

Dengan segera, aku berlari mendapati dia yang tergeletak di sana. Ku raih tangannya, kuangkat sedikit badan dan kepalanya, ku sandarkan dipangkuan ku.

“Adit..Adit..Adit,” teriakku sambil menyeka butiran bening yang entah mengapa ia mengalir begitusaja dari mataku. Namun semuanya telah terlambat. Adit hanya memiliki waktu empat detik berbicara denganku untuk terakhir kalinya.

Perlahan ia membuka matanya, menatapku teduh. Dengan tenaga yang tersisa ia memberiku sedikit senyum. Bibirnya bergetar.

“Monik…. I Love You”, ucapnya lembut.

Tak sempat ku katakan bahwa aku telah sembuh. Dia telah pergi. Hilang. Selamanya. Kata-kata itu tak aku butuh saat ini. Yang aku butuh adalah hadirnya, mendengar setiap kisahku, menemaniku di saat sukacita ini. Tapi Tuhan mencintainya lebih dariku dan membenciku lebih darinya.

#PojokJogja, Agustus 2019

(Fr. Rio Nahak, CMF -misionaris Claretian asal Kapela Panmolo, Paroki St. Vinsensius a Paulo, Benlutu)
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More