Paham Kreasionisme dan Posisinya Dihadapan Teori Evolusi

0 146

Kreasionisme merupakan paham atau keyakinan yang mengatakan bahwa manusia, kehidupan, bumi, dan seluruh jagad raya mempunyai asal-usul oleh campur tangan adikodrati, suatu keberadaan Yang Maha Tinggi yang umumnya disebut Tuhan. Seorang kreasionis (orang yang menganut paham kreasionisme) meyakini bahwa kehidupan adalah hasil ciptaan Tuhan.

Tuhan memiliki kekuasaan untuk menciptakan makhluk secara spontan dari ketiadaan, dengan munculnya ketertiban dari chaos, yang ada sebelumnya atau secara bertahap. Paham kreasionisme tidak dapat dipungkiri bahwa paham tersebut lahir dari ajaran langit (agama) yang berakar dari ajaran Abrahamik, atau jauh sebenarnya paham ini sudah ada sejak manusia pertama (Adam).

Arti dan Bentuk Kreasionisme

Kreasionisme atau sering disebut juga teori penciptaan merupakan keyakinan teoritik yang berbasiskan keagamaan tentang asal mula penciptaan. Pada prinsipnya kreasionisme mengajarkan bahwa kosmos tidak berkembang atau berevolusi dengan dayanya yang natural, tetapi membutuhkan pengaruh ekstrinsik yaitu penciptaan dari ketiadaan. Paham ini beranggapan bahwa segala yang ada di bumi ini mempunyai asal-usul yang secara adikodrati dikehendaki oleh Sang Pencipta. Keyakinan ini bersumber pada penafsiran harafiah Kitab Suci agama-agama samawi.

Dengan demikian, paham kreasionisme muncul akibat tafsiran harafiah pada data-data yang terdapat dalam Kitab Suci. Para ilmuwan teologi menyebut paham penciptaan ini sebagai creation ex nihilo; penciptaan dari ketiadaan. Para pendukung teori kreasionisme mengatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya pencipta dan bahwa asal mula segala sesuatu dapat ditelusuri kembali dalam Kitab Suci.

Para pendukung teori kreasionisme tidak terbatas pada agama Kristen. Pengikut Islam dan Yudaisme juga percaya bahwa bumi dan semua makhluk hidup telah diciptakan oleh Tuhan sendiri untuk tujuan desain dan penciptaan. Teori kreasionisme tidak bergantung pada penelitian ilmiah karena didasarkan pada iman dan keyakinan.

Terdapat beberapa bentuk paham dari paham kreasionime tersebut, antara lain: Pertama, kreasionisme radikal, yakni paham yang menolak segala bentuk evolusi. Seluruh kosmos, termasuk seluruh macam substansi dan manusia diciptakan langsung oleh Tuhan, bukan karena proses evolusi genetis yang diwariskan secara turun-temurun sebagaimana diajarkan oleh penganut teori evolusi. Kedua, kreasionisme lunak. Pada prinsipnya kreasionisme lunak menerima perkembangan kosmos, tetapi tidak tanpa suatu pengaruh langsung dari pihak Tuhan.

Selain itu, St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa terdapat dua bentuk kreasionisme, yakni kreasionisme yang bersifat instrumental dan kreasionisme tahap esensial. Kreasionisme instrumental tersebut menerima semua bentuk perkembangan kosmos dengan semua jenis substansinya karena daya yang natural, namun daya tersebut sangat terbatas dan hanya dipergunakan oleh Tuhan yang adalah kuasa instrumental dalam penciptaan langsung. Sedangkan kreasioisme tahap esensial menerima semua perkembangan kosmos dengan semua tahap-tahapnya yang terjadi secara natural.

Orang yang menganut paham kreasionisme disebut kreasionis. Kaum kreasionis ini, dapat dikelompokan menjadi dua kubu, yakni kreasionis bumi muda dan kreasionis bumi tua. Berhadapan dengan kisah Penciptaan, kaum kreasionis bumi muda dan bumi tua tidak sependapat dengan makna hari dalam ayat pembuka Kejadian pasal 1. Tetapi mereka setuju kalau apa yang kita lihat, dulu belum ada waktu Allah menciptakannya (begitu juga mata yang melihatnya) karena Dia mencipta dari ketiadaan.

Beberapa orang Kristen percaya bahwa Allah menjadikan sistem tata surya hanya dengan berkata-kata, dan sebagian percaya kalau ledakan besar terjadi karena Allah berfirman, dan dari situ terbentuklah sistem tata surya. Dalam pandangan-pandangan ini dan keragaman di antara mereka, para pendukungnya berusaha mempertimbangkan Alkitab secara serius dan berpegang pada fakta bahwa dulu tidak ada apa-apa kecuali semua menjadi ada karena kuasa penciptaan Allah.

Teori Kreasionisme Dihadapan Teori Evolusi

Pandangan kreasionisme bertentangan dengan teori evolusi. Para penganut teori evolusi berpendapat bahwa organisme atau makhluk hidup mengalami evolusi dari masa ke masa, dari generasi ke generasi karena adanya pewarisan ciri fisik atau perilakunya. Salah satu tokoh terkenal yang menganut teori evolusi ini adalah Charles Darwin.

Gesekan pertentangan antara para penganut teori kreasionisme dan para penganut teori evolusi semakin keras seiring dengan kemunculan mahakarya Darwin berjudul On the Origin of Species (1859). Darwin mengutarakan beberapa ide dasar mengenai kemunculan teori evolusinya sebagai berikut:

1). Tentang seleksi alam yang merupakan mekanisme perubahan. Pertama, individu setiap anggota spesies berbeda dalam karakteristik ganda, yaitu struktur dan perilakunya. Kedua, variasi individu hingga tingkat tertentu bersifat menurun, artinya diteruskan dari generasi ke generasi. Ketiga, organisme berkembang biak pada laju yang melebihi kemampuan lingkungan yang mereka huni. 

2). Tentang bukti evolusi. Charles Darwin membuktikan bahwa pada hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dibudidayakan menunjukan proses seleksi alam yang telah menghasilkan suatu fenomena yang secara formal identik dengan evolusi.

3). Tentang reproduksi seksual dan variasi. Reproduksi seksual boleh dikatakan merupakan suatu prasyarat untuk terjadinya variasi individu.

Bagi beberapa penganut teori evolusionisme, peran Tuhan dalam penciptaan menjadi kabur. Peran Tuhan menurut paham ini, lama kelamaan berkurang digantikan oleh peran gen yang berevolusi sedemikian rupa. Evolusi genetis bergerak sendiri sesuai dengan kehendak alam yang mengaturnya sedemikian rupa.

Selain itu, ada pula para penganut teori evolusi yang secara terang-terangan menolak ajaran dan konsep tentang Kisah Penciptaan sebagaiamana dianut oleh para kreasionis. Bagi mereka, ajaran dan konsep kreasionisme dianggap tidak valid karena tidak berlandaskan pada data empirik yang bisa dibuktikan secara ilmiah.

Para penganut teori evolusi yang mendasarkan diri pada data ilmiah dan empirik, tidak mempunyai keinginan untuk membahas wilayah ini, karena adanya keyakinan campur tangan adikodrati atau supranatural yang menghendaki segala sesuatu ada dan menjadi. Mereka beranggapan bahwa wilayah tersebut adalah wilayah yang irasional, tidak ilmiah dan melulu metafisis.

Selain itu, para penganut teori evolusi juga menolak paham kreasionisme yang mengatakan bahwa penciptaan terjadi secara spontan akibat adanya campur tangan Tuhan. Bagi para penganut teori evolusi, keyakinan akan adanya mukjizat, seperti penciptaan, adalah tidak mungkin karena berlawanan dengan hukum alam, yang mana telah diamati dengan jelas dan secara historis.

 

Oleh Patrisius Mandut, CMF

(Mahasiswa Semester IV pada Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang)

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More