Permenungan Singkat Perkembangan Gereja Paroki

11

"Usiaku Sudah Tua"

PERMENUNGAN SINGKAT
PERKEMBANGAN GEREJA PAROKI
STU. VINSENSIUS A PAULO BENLUTU DI TAHUN 2017

      Kristus telah mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan dalam keyakinan kristiani, Gereja tidak akan dikuasai oleh alam maut atau kematian. Hal ini berarti di dalam Gereja Kristus ada kehidupan.

     Melihat ke masa lampau, tentang keberadaan Gereja Katolik yang kini disebut Paroki Santu Vinsensius a Paulo Benlutu, tentu memiliki masa-masa kelam perjuangan dari segelintir umat beriman katolik di wilayah benlutu bersama para misionaris asing “penabur” benih Sabda Allah di tanah Timor. Dahulu, Gereja katolik Benlutu adalah sebuah Kapela kecil bagian dari wilayah Paroki Santa Maria Mater Dolorosa SoE-TTS. Jarak Desa benlutu ke arah SoE ± 11 Km. umat katolik di benlutu pada awal mula berasal dari distrik Oekusi yang kini telah menjadi Negara Timor Leste. Awal kedatangan umat perdana benlutu diperkirakan ± tahun 1913. Mereka disebut suku beunsila dan terbagi menjadi rumpun-rumpun, antara lain Bobo, Ban’afi Meko, Sikloti, juga Sonus, Kaibahan. Semenjak kedatangan umat, bersemilah iman katolik di desa benlutu yang kecil ini. Umat semakin berkembang seiring adanya pelayanan iman dari misionaris yang saat itu datang dari keuskupan atambua hingga berdirinya paroki SoE.

      Salah satu misionaris yang sangat dikenal oleh umat benlutu adalah P. Vincent Leckovic, SVD hingga mendirikan sebuah gedung permanen stasi Benlutu. Menurut ceritera lisan, pembanguan gedung gereja stasi permanen tersebut mulai dilaksanakan berkisar ± tahun 1968 dan selesai serta dipergunakan tanggal 16 Oktober 1972. Dulu sewaktu masih stasi, sistim umat basis diketuai oleh 3 majelis yakni : majelis Elu, majelis Fallo dan majelis Koa. Mereka adalah awam perdana di benlutu dengan semangat membara, jatuh-bangun memimpin umat katolik saat itu. Mereka adalah Zakarias Elu, Mikhael Fallo, Philipus Koa, Petrus Abi, dll. Yang kini selalu dikenang dalam doa-doa oleh keluarga mereka.

    Lebih lanjut tentang pembangunan Gereja stasi benlutu, walaupun umat sedikit dalam kekecilan dan dalam Karya Roh Kudus, mereka mampu membangun sebuah gedung yang diprakarsai oleh P. Vincent Leckovic, SVD dan misionaris lainnya. Menurut cerita lisan, umat benlutu dahulu mengambil tanah putih di Nunumeu SoE dengan berjalan kaki mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, pasir di ambil dari sungai kecil benlutu arah SoE dan pasir itu dicuci supaya bisa dipakai mencampur semen. Sungguh luar biasa perjuangan umat kecil dan sedikit di stasi benlutu saat itu.

    Selaras perkembangan zaman, umat benlutu semakin bertumbuh dan berkembang hingga pada akhirnya di tahun 2002 stasi benlutu dinaikan statusnya menjadi Kuasi Paroki Benlutu oleh Uskup Agung Kupang, YM. Petrus Turang dengan Pastor Kuasi adalah P. Damasus Sumardi, CMF. Kemudian tepatnya tanggal 15 Februari 2003, menjadi paroki otonom dengan nama Pelindung adalah Santu Vinsensius a Paulo. Nama Vinsensius dipilih oleh umat untuk mengenang misionaris kebanggaan umat benlutu asal Cekoslowakia P. Vincent Leckovic, SVD yang akrab disapa Pater Lecko. Sejak berdiri sebagai Paroki Benlutu dan bedirinya Noviciat CMF di benlutu bersama Para Misionaris Claretian yang dipercayakan menggembalakan umat paroki benlutu, pemahaman iman, karya-karya kerasulan Injili menyadarkan umat benlutu dalam kekecilan dan kesederhanannya berkembang selaras zaman hingga kini.

     Gedung gereja Paroki benlutu sampai kini masih tetap berdiri kokoh. Sebuah gedung kecil sederhana bergaya gothik luar negeri yang termakan usia hingga tahun 2017 berusia 45 tahun, hasil perjuangan 3 majelis umat katolik diatas dan tentunya butuh sentuhan pemugaran atau renovasi. Zaman 3 majelis telah berlalu, kini zaman anak-cucu untuk memugar dan merenovasinya…. Tentu membutuhkan tekad yang baik dari generasi masa kini melalui kesadaran iman akan kemandirian umat paroki benlutu di tahun 2017 genap berusia 14 tahun menjadi paroki. Kemandirian itu dapat tercapai… apa bila umat memiliki semangat doa yang teguh, rajin membaca dan merenungkan Kitab Suci, bersatu, bersaudara mengamalkan cinta kasih untuk merenovasi Gedung Stasi dulu kala hingga masih dipergunakan sebagai gedung Gereja paroki masa kini.

     Kini dan di sini adalah masa Generasi Penerus 3 majelis bersama dengan seluruh umat Paroki benlutu untuk memiliki tekat kuat. Kini dan di sini, Gedung paroki tua ini perlu “mempercantik” diri dengan menarik sedikit bangunan ke depan, melebarkan sayap agar terlihat besar dan panjang sehingga mampu menampung jumlah umat yang datang untuk berdoa di Gedung Gereja Pusat Paroki. Menjadi pertanyaan bagi umat Pusat Paroki : mengapa umat yang jumlahnya sedikit di kapela atau stasi dalam wilayah paroki mampu merenovasi gedung gereja tua kapela atau stasi lantas umat pusat paroki belum? Butuh seorang motivator, butuh seorang creator, butuh seorang yang lemah untuk memulai. Kuncinya adalah banyak berdoa, berharap pada karya Roh Kudus, bersatu, bergandeng tangan, bersaudara, itulah jawabannya.

     Selanjutnya, dalam mewartakan Injil sebagai karya kerasulan di semua aspek pembinaan, pengembangan dan penghayatan iman. Gedung Tua Paroki Santu Vinsensius a Paulo benlutu dan pembangunan fisik pun menjadi satu kriteria penilaian akan keasadaran pertumbuhan umat beriman. Bangunan Paroki awal berbentuk leter T oleh sang arsitek P. Lecko bersama bruder SVD kala itu, dipadu desain mirip sebuah bahtera (Perahu), di bagian altar lebar dan di bagian pintu depan sempit, sungguh luar biasa. Leter T  bila diartikan mungkin maksudnya Tuhan atau Tuan atau Timor atau boleh jadi Terang. Jikalau boleh umat masa kini dapat merenovasi bentuknya menjadi leter I. I boleh diartikan sebagai Iman atau Ikatan atau Ilahi. Bangunan Gereja tua dan kuno ini tetaplah dipertahankan bentuk aslinya karena menjadi cagar Budaya peninggalan sejarah misionaris asing bersama para pendahulu atau 3 majelis tua dan umat.

     Kini, giliran anak-cucu 3 majelis hendaknya merenovasi bangunan gereja. Bentuk asli dipertahankan sehingga umat melanjukan sambungan gedung lama di bagian depan dan kalau boleh di bagian samping kiri dan kanan untuk memperpanjang dan memperlebar bangunan gereja tua dipadu dengan Gapura dan pagar Gereja demi memperindah bangunan. Memang butuh dana yang cukup….. semua itu bisa jikalau anak-cucu dari 3 majelis ini tau dan mau mengumpulkan “pundi-pundi” rejekinya dengan sukarela dan sukacita.

    Akhirnya, menurut saya, “ Dalam membangun sebuah gedung gereja yang diutamakan adalah luas bangunan itu untuk menampung umat beriman yang datang berdoa dan mendengarkan Sabda Tuhan, kemudian memperindah bangunan itu.” Sebelum kita memiliki Dewan Pastoral Paroki yang baru, saya mengajak para tetua di benlutu atau anak-cucu 3 majelis ini untuk berbuat sesuatu. Tentunya ada program-program DPP yang ditindaklajuti dengan seksama nantinya. Dalam permenungan saya, kita pasti bisa berbuat untuk untuk Gereja tua atau Rumah Tuhan di Tanah Benlutu ini tanpa meninggalkan harpan suatu bangunan baru yang memakan anggaran miliaran rupiah seiring kenaikan harga setiap tahunnya.

Inilah sejenak permenungan dalam karya pastoral saya sebagai Hamba Allah yang hina-dina, sederhana dan tak berarti setelah saya berada di Paroki Benlutu sudah satu tahun. Tuhan Memberkati. 
RD. Hillers Penga.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More