PRAPASKAH DI ANTARA KENYATAAN DAN HARAPAN

4

Menatap Pada Kenyataan

Perkembangan globalisasi yang saat ini lagi ngetren dengan istilah berikut; jadul, gak update atau kudet, norak, dan lain sebagainya. Bahkan, menjadi barang biasa jika banyak perusahan-perusahan software ataupun hardware saat ini saling beradu misi untuk terus mengupdate tampilan dan kualitas dari setiap produk mereka.

Secara fisik, hal-hal tersebut tentu saja menggiurkan. Bagimana tidak, selfphone sebagai salah satu pencipta individualisme nan bermanfaat, semakin digemari dengan berbagai fitur yang selalu diperbarui, apalagi untuk saat ini yang sudah saking maraknya dengan game online.

Namun, implikasinya justru berdampak pada interaksi sosial, moral, hingga pada perkembangan spiritual individu. Orang tidak lagi berinteraksi atau sekedar ngobrol bareng keluarga, tidak lagi terdidik perilaku dan pengolahan emosionalnya dengan baik, dan bahkan mengurangi waktu untuk berada bersama Tuhan demi berada di depan layar dengan jutaan imajinasi.

Kali ini, saya akan membagikan sedikit refleksi sebagai hasil dari perjumpaan dan permenungan saya tentang sebuah komparasi antara harapan (menjadikan Prapaskah sebagai masa tobat) dengan kenyataan dunia saat ini; antara membarui hidup spiritual dengan apa yang disebut updating software,.

Zaman ini, saya berhadapan dengan kanak-kanak yang sudah mengenal dan bisa mengoperasikan teknologi yang salah satunya kita sebut gadget. Mereka adalah objek dari kerasulan yang telah terjangkit teknologi. Tentu saja ini bukan sebuah misi yang mudah. Suatu usaha di mana saya harus berusaha menghadirkan Sabda Allah di samping Mortal Combat, PUBGFree Fire, ataupun berbagai game online yang saat ini sedang “naik daun”.

Saya pernah ditanyai soal ini oleh seorang anak demikian, “Frater punya akun Free Fire?” Pernah pula ketika saya dan seorang rekan sedang dalam kegiatan kunjungan ke sebuah keluarga, ada orang yang sedang dalam keasyikannya mengotak-atik akun facebook miliknya, hanya sekedar mengisi kolom “what is your opinion?” dengan cuitan berupa; “aduh, be pung panas lai” atau “siang ini makan apa yach?” atau yang lainnya , sambil memposting foto makanan memberi caption, “yang lagi jomblo, marapat ko.”.

Semua perubahan ini (teknologi, moral, dan spiritual) adalah hasil dari perkembangan zaman yang suatu saat bisa saja menjadi “derita zaman kaum Milenial”.

 Globalisasi dan Rekonsiliasi; Manakah Yang Menggiurkan?

Globalisasi adalah kenyataan yang memberikan kenyataan kepada sebagian besar orang yang masih menaruh harap pada iman. Dampak dan kehadirannya sangat real untuk dapat dinikmati. Sementara rekonsiliasi adalah kenyataan yang memberikan harapan kepada sebagian besar orang yang beriman, yang kian hari semakin menjadikan iman hanya seperti sebuah gelar.

Konkretnya sangat nampak dalam lingkungan sosial (Paroki); Berapa banyak umat Katolik yang mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari minggu? Berapa banyak umat Katolik yang dengan setia dan sungguh memaknai Ekaristi sebagai pusat pengembangan? Berapa banyak umat Katolik yang memaknai Ekaristi sebagai kesadaran akan tanggung jawab iman dan bukan karena sebuah paksaan atau tekanan?  Dan, berapa banyak umat Katolik yang menyandang gelar KTP (Katolik Tunggu Paskah) atau Katolik NAPAS (Natal-Paskah)?

Kenyataan ini tidak dapat disangkal dengan apapun. Cukup bagi kita untuk menilai, seberapa jauh kita memaknai masa Prapaskah ini sebagai sebuah perjalanan bersama rekonsiliasi di dalam globalisasi. Masa Prapaskah adalah juga masa penyesalan bagi kita. Apakah kita sungguh menyesali segala dosa kita? Atau justru memandang dosa sebagai suatu hal yang lumrah dan tak perlu dihidupi?

Hendaknya masa Prapaskah menjadi bagi kita suatu masa yang membuat kita mau memeluk sunguh-sungguh pertobatan dan mau menyatukan diri dengan penderitaan Kristus. Dengan demikian, kita menjadi mampu untuk berkorban bagi Allah dan sesama. #salamtobat

Roby Tampang, novis CMF

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More