RANGKUMAN HASIL SINODAL TINGKAT PAROKI SEKEUSKUPAN AGUNG KUPANG

0 22

Pengantar

Sinode Uskup Sedunia tahun 2023 dibuka secara resmi oleh Paus Fransiskus tanggal 10 Oktober 2021 melalui perjalanan sinodal di tingkat keuskupan sedunia menuju  tahun 2023. Proses berjalan bersama dibingkai dalam tema Persekutuan, Partisipasi dan Perutusan (misi). Keuskupan Agung Kupang, melalui penetapan Bapa Uskup, melaksanakan sinodal perjalanan bersama ini di tingkat paroki sebelum sampai pada tingkat keuskupan. Bapa Uskup menghendaki agar perjalanan bersama ini dimaknai secara gerejawi dengan mengevaluasi dan merefleksikan Persekutuan, Partisipasi dan Perutusan dalam konteks hidup menggereja setempat. Untuk itu, Panitia Ad Hoc Sinodal KAK telah melaksanakan pendampingan di ke-35 Paroki se-Keuskupan Agung Kupang dalam pelaksanaan Sinodal KAK tingkat paroki sejak dibuka secara resmi di tingkat Keuskupan Agung Kupang oleh Bapa Uskup Agung Kupang, tanggal 18 Oktober 2021 di Gereja Santa Maria Assumpta Kupang.

Perjalanan bersama dalam sinodal KAK tingkat paroki berlangsung dari bulan Oktober sampai November 2021. Tim Panitia Ad Hoc Sinodal KAK mendengarkan dan mencatat semua hal yang diungkapkan dalam proses “berbicara dan mendengarkan” di paroki-paroki. Ada hal-hal yang menggembirakan, ada pula hal-hal yang menantang. Semuanya menunjukkan adanya dinamika hidup menggereja yang terus bertumbuh dan berkembang dalam paroki-paroki se- Keuskupan Agung Kupang.

Semua yang terungkap dalam proses sinodal itu dirangkum dalam laporan ini. Hal-hal umum tentang persekutuan, partisipasi dan perutusan yang diungkapkan dari setiap paroki dirangkum secara umum dalam bagian pertama. Sedangkan hal-hal khusus yang inspiratif dan menggerakkan pembelajaran bersama ditempatkan pada bagian kedua. Tak dipungkiri bahwa ada pula hal-hal menantang yang perlu disikapi secara pastoral dan bijaksana. Bagian ini dirumuskan dalam nada optimis.  Gereja Umat Allah  yang  ber-Sinodal,  melanjutkan  perjalanan  bersama Kristus sebagai Kepala yang mengutus para murid dan semua insan terbaptis untuk membawa kabar baik ke seluruh penjuru dunia. Dalam kesadaran demikianlah setiap tantangan memacu daya juang dan melahirkan inspirasi dan energi baru untuk bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik ke depan.

Hal-hal Umum Tentang Persekutuan, Partisipasi dan Perutusan

Persekutuan, Partisipasi dan Perutusan dalam Gereja didasarkan pada sakramen Baptis sebagai tonggak iman yang menggerakkan ketiga hal tersebut. Sakramen Baptis memberikan identitas kristiani yang di dalamnya ada persekutuan, partisipasi dan perutusan. Tanpa sakramen Baptis, tidak akan terjadi ketiga hal tersebut. Setiap murid Kristus melaksanakan persekutuan, partisipasi dan perutusan, dengan bertolak dari kesadaran akan sakramen permandian. Dalam dan melalui sakramen  Baptis,  setiap  murid  Kristus  dipanggil dan  diutus  untuk  bersekutu  dalam Gereja, berpartisipasi dalam hidup  menggereja dan diutus melaksanakan  amanat kasih yang menghidupkan dan mengembangkan Gereja. Kesadaran iman yang berpangkal pada sakramen Baptis menjadi kekuatan dasar penggerak untuk selalu siap sedia bersekutu, berpartisipasi dan bersaksi tentang injil Kabar Gembira dalam kehidupan menggereja di tengah dunia.

a. Tentang Persekutuan

Dimensi persekutuan adalah hal hakiki dalam Gereja. Semua anggota Gereja bersekutu dalam Kristus sebagai Kepala Gereja itu sendiri. Maka semua komponen Gereja, baik itu klerus, hidup bakti maupun awam, semuanya berada secara sakramental-eksistensial gerejawi dalam persekutuan  dengan  Kristus,  Imam,  Nabi dan  Raja.  Dari hasil sinodal di semua paroki se- Keuskupan Agung Kupang, tampak jelas persekutuan ini dalam kehidupan menggereja setempat. Para imam, para hidup bakti dan semua umat telah menghayati persekutuan kristiani dalam semangat persaudaraan, termasuk dalam kelemahan dan kerapuhan manusiawi yang kerap menjadi tantangan tersendiri.

Melalui refleksi bersama dalam proses sinodal, para imam, hidup bakti dan umat awam di paroki-paroki menyadari bahwa Teman sejati perjalanan kehidupan menggereja maupun memasyarakat adalah Kristus sendiri. Kesadaran imaniah ini berakar pada sakramen Baptis yang mempersekutukan semua orang beriman dengan Kristus sendiri. Kesadaran ini membawa pemahaman bahwa Kristuslah yang mengajak sekaligus menemani perjalanan seluruh anggota Gereja, Roh Kuduslah yang menjiwai dan mendampingi perjalanan hidup bersama seluruh anggota Gereja, dalam ziarah di dunia ini menuju persekutuan abadi dengan Bapa di surga.

Kehadiran Kristus sebagai Kepala Gereja diragakan secara sakramental dalam diri Bapa Uskup sebagai kepala Gereja Lokal dan juga pastor paroki sebagai perpanjangan tangan Uskup di paroki serta pastor rekan yang mendukung reksa pastoral di paroki. Maka persekutuan Gereja ditampakkan  pula  dalam  persekutuan  para  imam  dengan  Uskupnya.  Para  hidup  bakti  yang berada dalam paroki menghadirkan tanda persekutuan melalui dukungan terhadap reksa pastoral paroki dengan berjalan bersama seluruh elemen di paroki, baik dengan para gembala maupun semua umat. Kehadiran dan kesaksian hidup para hidup bakti menjadi tanda antisipatif persekutuan surgawi yang menjadi tujuan ziarah hidup Gereja di dunia. Sedangkan umat yang bersekutu dengan para imam dan hidup bakti dalam kehidupan menggereja, menghayati perjalanan bersama sebagai Gereja dalam pelbagai bentuk reksa pastoral parokial. Interaksi dan komunikasi yang terbangun dan terjalin selama ini menunjukkan adanya ikhtiar bersama untuk terus mengembangkan persekutuan gerejawi yang bermutu. Di semua paroki, terlihat jelas semangat iman yang terus-menerus dipertahankan dan dikembangkan untuk memelihara dan merawat persekutuan gerejawi setempat. Semangat iman berbasis sakramen Baptis ini menjadi modal dasar pengembangan persekutuan gerejawi setempat secara berkesinambungan dan tetap.

Implementasi  persekutuan  dalam  perjalanan  bersama  diwujudnyatakan  dalam pendampingan dan pembinaan baik di tingkat DPP, Wilayah, maupun stasi dan KUB, termasuk pula pendampingan pastoral kategorial. Semuanya mengacu pada reksa pastoral parokial yang terprogram   dengan   baik   di   setiap   paroki,   meskipun   ada   tantangan   banyak   dalam implementasinya.  Upaya-upaya pastoral dalam implementasi program paroki maupun  dalam mengatasi tantangan, menunjukkan adanya semangat sinodalitas yang justeru mengekspresikan persekutuan. Selain itu, secara eksternal, dalam perjalanan bersama membentuk persekutuan ini, paroki-paroki juga telah berjalan bersama dengan pihak lain dalam masyarakat, baik dengan pemerintah,  maupun  dengan  masyarakat umum lintas  budaya dan  lintas  agama.  Para imam menjalin kerjasama yang baik dengan pemerintah setempat dan mengambil bagian dalam upaya pemberdayaan masyarakat setempat. Demikian pula hidup bakti dan umat awam. Bahkan ada umat awam tertentu menjabat sebagai pemerintah setempat, sehingga komunikasi pemberdayaan mempertemukan program pemerintah dan Gereja dalam persekutuan yang membawa sukacita. Demikian pula halnya komunikasi dan kerjasama dengan agama lain dan budaya setempat. Para pastor, hidup bakti dan umat setempat berupaya menjalin hubungan  baik yang membangun persaudaraan.

Paroki-paroki  se-Keuskupan  Agung  Kupang  telah  berupaya  menghayati  persekutuan dengan mendengarkan Bapa Uskup sebagai kepala Gereja Lokal. Para imam yang mengambil bagian dalam imamat Uskup tetap memelihara persekutuan sakramental dengan Uskup. Hal ini menjadi tanda persekutuan, dan model bagi pengembangan persekutuan bersama hidup bakti, umat awam, pemerintah, agama lain, masyarakat luas. Para imam juga telah berupaya mendengarkan seluruh umat, khususnya kaum marginal serta berani membuka diri untuk mendengarkan Pemerintah dan umat beragama lainnya. Upaya mendengarkan semua pihak bertujuan untuk menyatukan pemahaman bersama dan menjalin kerjasama yang baik dan benar untuk mewujudkan persekutuan gerejawi maupun bermasyarakat yang bermutu. Dalam keterbatasan dan kekurangan manusiawi, upaya-upaya ini telah dilakukan di semua paroki dan terus berkembang ke arah yang dicita-citakan bersama.

Secara internal, spirit mendengarkan juga telah diupayakan oleh para gembala setempat. Suara orang muda, perempuan dan anak-anak sudah didengarkan di Gereja. Adanya kelompok kategorial di paroki-paroki (OMK, THS-THM, Kharismatik, Legio Maria, Misdinar, Sekami, WKRI, dll) telah memberikan ruang bagi keterlibatan orang muda, kaum perempuan dan anak- anak. Selain itu, kepengurusan di DPP, Wilayah, Stasi dan KUB juga melibatkan peran-serta kaum perempuan dan orang muda. Di beberapa paroki, ketua DPP, Wilayah, Stasi, dan KUB adalah kaum perempuan dan orang muda. Semua unsur dalam kehidupan menggereja di paroki telah mengembangkan spirit saling mendengarkan sehingga persekutuan gerejawi setempat tetap bertumbuh dan berkembang ke tahap ideal.

Dalam perjalanan bersama ini, disadari bahwa ada juga pihak yang tertinggal dan kurang mendapat perhatian, yakni mereka yang tersisih dari pergaulan gerejawi maupun masyarakat karena persoalan  ekonomi,  perkawinan  campur  beda agama  dan  Gereja,  konkubinat  karena terhalang adat, proses anulasi yang lama, dll. Semua ini menjadi tantangan tersendiri bagi persekutuan gerejawi setempat. Para imam, hidup bakti dan umat menyadari hal ini dan tetap mendapat perhatian  pastoral untuk ditangani dalam semangat persaudaraan  melalui program pastoral setempat yang mengena sasaran.

b. Tentang Partisipasi

Paroki-paroki se-Keuskupan Agung Kupang telah menghayati partisipasi dalam hidup menggereja.  Penghayatan partisipasi ini didasarkan  pada kesadaran  akan  jatidiri kekristenan yang  diperoleh  melalui sakramen  Baptis.  Semua  yang  terbaptis  dipanggil untuk  mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Maka berbicara mengenai partisipasi tidak lepas dari aspek persekutuan dan perutusan. Semua anggota Gereja dipanggil dan diutus untuk mengambil bagian dalam persekutuan  gerejawi dan  memberi kesaksian  iman  ad  intra maupun  ad  extra dalam kehidupan bersama baik secara gerejawi maupun bermasyarakat.

Dari hasil sinodal tingkat paroki, dapat dirangkum secara umum bahwa di semua paroki sungguh kelihatan adanya partisipasi seluruh anggota Gereja, baik para imam, para hidup bakti yang ada di paroki, maupun seluruh umat, meskipun harus diakui bahwa ada tantangan yang menggerogoti partisipasi. Namun apa yang kelihatan sebagai bentuk partisipasi dari semua komponen Gereja setempat menjadi gambaran yang nyata Gereja sebagai kesatuan Tubuh Mistik Kristus.  Persekutuan  iman  dikokohkan  oleh  adanya partisipasi setiap  anggota  Gereja dalam kehidupan bersama. Kesadaran iman untuk berpartisipasi dalam hidup menggereja menjadi kekuatan bersama untuk terus bersekutu dan bersaksi dalam Gereja setempat yang hadir di tengah masyarakat sebagai “garam dan terang”.

Para imam, hidup bakti dan umat di semua paroki menyadari dan menghayati bahwa sumber dan puncak dari seluruh aktivitas pelayanan pastoral adalah Ekaristi kudus. Oleh karena itu, partisipasi dalam perayaan iman menunjukkan gambaran yang menggembirakan. Banyak umat menyadari dengan sungguh kekuatan Ekaristi dalam hidup. Hal ini menjadi sukacita iman yang menggerakkan partisipasi dalam semua aktivitas pastoral. Kuncinya adalah para imam yang dengan  setia mempersembahkan  ekaristi baik  harian  maupun  mingguan  dalam kebersamaan dengan hidup bakti dan umat yang aktif berpartisipasi. Dalam ekaristi, tampaklah secara nyata persekutuan, partisipasi dan perutusan. Dari ekaristi, bersumberlah kekuatan sakramental bagi Gereja untuk berkarya dan bersaksi. Menuju ekaristi, bergeraklah semua bentuk karya dan kesaksian iman sebagai tanda syukur. Pengalaman berekaristi di semua paroki meneguhkan kesadaran iman semua komponen Gereja setempat untuk berpartisipasi secara aktif dalam semua karya pastoral Gereja. Semua unsur dalam paroki seperti kelompok  kategorial dan  lain-lain membangun kerjasama yang baik untuk mendukung penghayatan ekaristi atau liturgi yang khidmat sesuai harapan Gereja (Bapa Uskup). Persiapan berliturgi menjadi unsur penting, dan hal itu menggerakkan partisipasi semua unsur parokial dalam aneka bentuk kegiatan persiapan liturgi.

Berkaitan dengan kehadiran Gereja di tengah masyarakat, para imam, hidup bakti dan umat di paroki setempat telah berupaya untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial di pelbagai bidang. Ada gambaran positif bahwa semua unsur gerejawi terpanggil untuk berpartisipasi dalam mengembangkan masyarakat di pelbagai bidang kehidupan, seperti: ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, dll. Para imam sebagai pemimpin Gereja setempat menjalin relasi yang baik dengan pemerintah maupun pemimpin agama lain untuk membangun komunikasi dan kerjasama pemberdayaan masyarakat, kerukunan hidup beragama, dan pelestarian alam. Sebagian umat di paroki-paroki  selain  sebagai  warga  paroki,  sekaligus  menjadi  pemimpin  masyarakat  atau memiliki jabatan tertentu di bidang pemerintahan. Tentu saja hal ini menjadi kekuatan bersama untuk partisipasi dalam karya-karya pastoral yang mendukung program pemerintah terkait pemberdayaan masyarakat, kerukunan hidup beragama dan ekologi.

c. Tentang Perutusan

Para imam,  hidup  bakti maupun  umat di paroki-paroki se-Keuskupan  Agung  Kupang dalam sinodal tingkat paroki melihat dan merefleksikan tanggung jawab perutusan atau misi dengan bertolak dari sakramen Baptis. Sakramen Baptis menjadikan seseorang sebagai anggota Gereja yang menerima tugas imamat umum sebagai Imam, Nabi dan Raja. Dengan kata lain, semua anggota Gereja menerima misi perutusan  dari Kristus sendiri untuk mengemban dan melaksanakan tiga tugas Kristus, sebagai Imam, Nabi dan Raja. Ketiga tugas itu adalah menguduskan, mewartakan dan memimpin. Bertolak dari refleksi atas sakramen Baptis ini, para imam, hidup bakti dan umat di paroki-paroki mengungkapkan pengalaman perutusan mereka dalam hidup menggereja yang menggembirakan. Dari ungkapan pengalaman itu, dapat dipahami bahwa semuanya menyadari tanggung jawab luhur sebagai anggota Gereja yang melaksanakan misi perutusan, baik dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.

Berkaitan dengan perutusan internal dalam Gereja, semua unsur dalam paroki, baik yang tertahbis maupun terbaptis, melaksanakan misi perutusan memberi kesaksian iman melalui hidup dan  karya  pelayanan  pastoral yang  ditetapkan  bersama.  Kesaksian  iman  itu  dihayati dalam pelbagai kegiatan pastoral yang berkaitan dengan tugas pengudusan, yaitu perayaan iman dan buah  perayaan  iman  dalam  kehidupan  cintakasih;  tugas  pewartaan  iman  berupa  kegiatan katekese dan kesaksian hidup kristiani; dalam kegiatan kepemimpinan, yaitu pelayanan yang memberdayakan hidup bersama untuk kesejahteraan umum. Semuanya dimulai dari dalam keluarga, lalu meluas ke lingkup KUB, Stasi, Wilayah dan Paroki.

Berkaitan dengan perutusan eksternal dalam lingkup masyarakat luas, semua unsur dalam paroki, baik yang tertahbis maupun terbaptis, melaksanakan misi perutusan melalui karya pelayanan  masyarakat  sesuai  profesi  masing-masing,  dan  kerjasama  lintas  budaya,  agama, sektor. Kesaksian iman di tengah masyarakat yang majemuk merupakan bentuk perutusan yang dihayati dengan militansi iman, apalagi di wilayah yang mayoritasnya beragama lain. Semangat kekatolikan dipersaksikan dalam pelayanan kemasyarakatan yang bermutu, baik di bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi, maupun ekologi.

Dalam  tugas  perutusan  ini,  para  imam,  hidup  bakti  dan  umat  di  paroki-paroki  telah berupaya membangun dialog dengan pelbagai pihak. Ruang dialog inklusif ini terbuka bagi pencapaian pemahaman dan komitmen bersama untuk berkarya demi kepentingan bersama. Kehadiran umat Katolik setempat menampilkan kesaksian iman yang terus-menerus membangun kehidupan bersama yang sejahtera. Kesaksian iman itu diwujudkan dalam pelbagai karya pemberdayaan sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, ekologi, yang melibatkan semua pihak dalam masyarakat agar bersinergi mencapai kesejahteraan umum.

Selain itu, Gereja Katolik dalam hubungan dengan saudara-saudari denominasi Kristen lainnya telah berupaya mengembangkan dialog ekumenis melalui kegiatan keagamaan bersama maupun kegiatan sosial karitatif. Misi ini menghasilkan hubungan baik sehingga terciptalah situasi  harmonis  dan  kondusif.  Umumnya  di  paroki-paroki  setempat,  Gereja  Katolik  hadir sebagai kelompok  minoritas.  Namun  hal ini  tidak  menjadi penghalang  untuk  terus-menerus mengembangkan kerukunan hidup bersama kelompok mayoritas. Para imam, hidup bakti dan umat setempat justeru telah berupaya menjalin kerjasama ekumenis yang tetap memupuk semangat  toleransi  dan  penghargaan  akan  kemajemukan.  Tentu  ada  tantangan  terhadap kehadiran  dan  itikad baik  Gereja Katolik dalam  membangun  dialog ekumenis,  namun  pada umumnya  semua  berjalan  baik.  Buah  dari  kerja  sama  yang  harmonis  telah  menunjukkan gambaran positif dari sikap keterbukaan Gereja yang dialogis dan dengan cara demikian, terwujudlah misi perutusan.

Hal-hal Khusus Inspiratif Dari Paroki Tertentu

Sejauh  hasil sinodal  tingkat paroki,  kehidupan  menggereja di paroki-paroki sungguh memperlihatkan perkembangan yang secara umum menggembirakan. Ada paroki-paroki tertentu yang memiliki program khas yang memberdayakan maupun bersifat sosial karitatif untuk menolong umat yang selama ini tersisih dan tertinggal dalam perjalanan bersama karena pelbagai alasan. Beberapa contoh dikemukakan di sini sebagai inspirasi bagi paroki-paroki yang belum melaksanakannya.

a. Pemberdayaan sosial ekonomi

Pemberdayaan sosial ekonomi telah menjadi ikhtiar Bapa Uskup dalam tugas kegembalaannya. Untuk itu para pastor selalu diingatkan tentang pentingnya pastoral sosial ekonomi. Beberapa paroki seperti Santa Maria Assumpta, Santa Familia Sikumana, Santo Fransiskus BTN Kolhua, Gembala Yang Baik Kalabahi, Hati Tersuci Maria OeEkam, Santo Stefanus Naikliu, Santa Maria Mater Dei Oepoli, Santo Paulus Sabu, dll, menjadikan pemberdayaan sosial ekonomi sebagai salah satu program utama pastoral dan diwujudkan dalam pelbagai bentuk kegiatan seperti koperasi, kebun percontohan, BLK, dll. Koperasi yang berjalan baik di beberapa paroki telah menjadi contoh pemberdayaan sosial ekonomi umat. Yang terpenting adalah manajemen yang baik dan benar, sebagaimana ditekankan oleh Bapa Uskup. Koperasi umat menjadi salah satu bentuk pemberdayaan sosial ekonomi umat yang cocok dengan kondisi umat di paroki-paroki.

Jika tidak memiliki koperasi, umat di paroki setempat dapat diarahkan oleh pastor untuk masuk menjadi anggota koperasi dari paroki lain yang telah berkembang dan membuka cabang di paroki-paroki. Kebun percontohan atau pastoral pertanian dari beberapa pastor telah mengilhami umat untuk mengembangkan pertanian dengan memanfaatkan lahan yang dimiliki. BLK di OeEkam merupakan salah satu contoh pemberdayaan sosial ekonomi umat. Tempat ini menjadi ruang pembelajaran bagi orang muda untuk kreatif mengembangkan potensi diri dan menciptakan lapangan kerja mandiri untuk kehidupan dan kesejahteraannya.

b. Program bedah rumah

Program bedah rumah merupakan program pastoral yang dilaksanakan untuk membantu keluarga-keluarga kristiani kurang mampu dalam paroki yang rumahnya di bawah standar layak huni. Dengan program ini, banyak keluarga kurang mampu yang rumahnya kurang layak huni diperbaiki dan dijadikan rumah layak huni. Pastor, DPP dan umat bergerak bersama untuk saling membantu. Maka dari tahun ke tahun, jumlah rumah umat layak huni makin meningkat, sedangkan rumah kurang layak huni semakin berkurang bahkan tidak  ada  lagi.  Program  ini  dilaksanakan  di  beberapa  paroki  seperti  Santa  Maria Assumpta, Santo Fransiskus Assisi BTN Kolhua, Santo Petrus TDM, dll. Program ini kiranya dapat dilaksanakan di paroki-paroki lain yang belum melaksanakannya meskipun memiliki potensi.

c. Program Pastroral Animasi dan Katekese

Program animasi dan katekese dilaksanakan di beberapa paroki sebagai bentuk penguatan kapasitas  bagi para agen  pastoral  awam.  Program  ini bertujuan  untuk  meningkatkan pemahaman tentang Kitab Suci, Hukum Gereja, Liturgi dan Ajaran Sosial Gereja yang dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan. Pemahaman yang baik dan benar akan bermuara pada perubahan perilaku beriman yang makin bersekutu, berpartisipasi dan berani bersaksi.

Tantangan dan Harapan Ke Depan

Hasil sinodal tingkat paroki se-Keuskupan Agung Kupang di satu sisi memperlihatkan banyak hal positif yang telah dilaksanakan. Semuanya telah dirangkum pada bagian pertama di atas. Meskipun demikian, harus diakui bahwa hasil sinodal pun memperlihatkan kenyataan tertentu yang tidak sesuai harapan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang mesti disikapi dalam kehidupan menggereja ke depan. Evaluasi sinodal menjadi bahan pembelajaran penting bagi para imam, hidup bakti dan umat dalam ikhtiar sinergis mengatasi semua tantangan untuk membawa paroki ke penghayatan persekutuan, partisipasi dan perutusan yang semakin bermutu. Berikut ini dipaparkan tantangan-tantangan yang ada dan dihadapi dengan semangat optimis bahwa semuanya bisa diatasi dengan semangat iman.

Tantangan di bidang Persekutuan

  1. Adanya umat tertentu yang tertinggal atau tercecer dari persekutuan, bukan karena tidak adanya pelayanan pastoral, tetapi karena yang bersangkutan menarik diri dari persekutuan dengan alasan masih bermasalah dalam perkawinan atau ekonomi rumah tangga. Harapan ke depan: perlunya pendekatan pastoral melalui kunjungan rumah, bantuan pemberdayaan sosial ekonomi dan penyelesaian masalah perkawinan melalui mediasi dan pemberkatan nikah.
  2. Terbatasnya kesadaran, pengetahuan dan pemahaman umat mengenai persekutuan gerejawi sehingga kurang terlibat dalam kehidupan menggereja. Harapan ke depan: perlunya kegiatan katekese umat yang dilaksanakan secara teratur dan terprogram di paroki.
  3. Minimnya persekutuan pastor paroki dengan pastor rekan dalam pelayanan pastoral di paroki tertentu. Harapan ke depan: perlunya ketersediaan diri para klerus dengan rendah hati untuk menghayati komunikasi, koordinasi dan kerjasama yang baik sebagai model persekutuan bagi umat. Terbatasnya ruang bagi dialog pastoral demi mendapatkan pengayaan dan masukan terhadap pelayanan pastoral di paroki. Harapan ke depan: perlunyanya evaluasi pastoral berkala untuk memperbaiki kinerja pelayanan pastoral para imam di paroki.

Tantangan di Bidang Partisipasi

  1. Minimnya kesadaran sebagian umat (khususnya kaum bapak) dalam partisipasi menggereja, baik dalam liturgi, musik liturgi, devosi, pelayanan sosial karitatif, kerja bakti, dll. Harapan  ke  depan: Perlunya katekese umat  tentang  pentingnya partisipasi  dalam hidup menggereja yang dilaksanakan secara berkala di paroki-paroki.
  2. Minimnya pengetahuan tentang Gereja sehingga berpengaruh pada partisipasi dalam kehidupan menggereja. Secara khusus minimnya katekese mistagogi atau pembinaan iman lanjutan setelah penerimaan sakramen sehingga ada umat yang hanya berpartisipasi saat natal, paska, perkawinan dan penerimaan sakramen lainnya, termasuk ketika ada keluarga yang meninggal dunia, karena kurang pemahaman mengenai kehidupan menggereja. Harapan ke depan: Perlunya katekese mistagogi yang terprogram dan dilaksanakan secara teratur.
  3. Minimnya  pelibatan  hidup  bakti  dan  kelompok  kategorial  seperti  WKRI,  Legio Maria, Kharismatik dll, untuk pemberdayaan sosial ekonomi umat yang kurang mampu. Harapan ke depan: Perlunya komunikasi pastoral dengan kelompok kategorial untuk berpartisipasi aktif dalam pastoral pemberdayaan sosial ekonomi melalui sinkronisasi program.
  4. Terbatasnya pastoral care terhadap kaum disabilitas, janda, yatim piatu dan anak putus sekolah sehingga mereka kurang terlibat dalam kehidupan menggereja. Harapan ke depan: Perlunya perhatian pastoral yang dijabarkan dalam program pastoral paroki sehingga ada tindak lanjut konkrit dalam upaya menghadirkan partisipasi kaum disabilitas, janda dan yatim piatu, serta anak putus sekolah.

Tantangan di Bidang Perutusan

  1. Masih  ada  umat  tertentu  yang  apatis  terhadap  perutusan  sebagai  murid  Kristus sehingga  tidak  menunjukkan  militansi  iman  dalam  hidup  bermasyarakat,  abai terhadap sakramen ekaristi dengan kesibukan bermain hp saat misa, koor yang mengambil alih nyanyian liturgi dan membuat umat menjadi penonton dalam misa, OMK  pindah  agama  karena  kurang  pendampingan  dari  Gereja,  kebiasaan  gereja muda yang dibiarkan masuk ke dalam tradisi gereja katolik misalnya syukuran kematian, lagu pop rohani dalam perkawinan, dll. Umumnya semua gejala itu disebabkan karena belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar seputar iman katolik, Ajaran Sosial Gereja, Kitab Suci, Liturgi, Hukum Gereja, Perkawinan Katolik, dll, sehingga berpengaruh pada komitmen perutusan untuk bersaksi. Harapan ke depan: Perlunya program katekese umat secara teratur dan berkala, serta dilaksanakan  dengan  melibatkan  komisi-komisi  terkait  pada  Koordinasi  Pastoral KAK.
  2. Minimnya perhatian pastoral di bidang  politik  padahal banyak  umat  di sebagian paroki yang terlibat dalam dunia politik dan pemerintahan, sebagai kancah untuk bersaksi tentang iman. Harapan ke depan: Perlunya program pastoral paroki di bidang pendidikan politik dengan melibatkan Komisi Kerawam dari Koordinasi Pastoral KAK.
  3. Minimnya kesadaran ekologi, masalah ternak liar yang menghambat upaya pertanian, masalah penebangan hutan bambu dan hutan lainnya sehingga sumber air menjadi kering dan masalah ekologi lainnya di paroki tertentu. Harapan ke depan: Perlunya digalakkan pastoral ekologi secara masif di semua paroki melalui  aneka  kegiatan  ekologis  yang  termuat  dalam  program  pastoral  paroki, sehingga misi ekologi dapat terwujud dengan baik.
  4. Kurangnya kunjungan pastoral dari para pastor ke umat basis, lebihnya perhatian pastor terhadap pembangunan fisik dan kurang diimbangi dengan pembangunan iman umat di paroki tertentu, sehingga berpengaruh pada partisipasi umat dalam hidup menggereja. Harapan ke depan: Perlunya evaluasi dan refleksi diri para pastor/imam dalam mengembangkan cintakasih pastoral yang murah hati untuk meningkatkan pelayanan pastoral yang efektif meningkatkan semangat persekutuan, partisipasi dan perutusan umat dalam hidup menggereja setempat.

Penutup

Rangkuman laporan hasil sinodal tingkat paroki KAK ini berusaha menangkap sari-sari pesan  yang  terungkap  dalam proses  sinodal.  Apa yang  menjadi kekayaan  dan  tantangan  di paroki-paroki diterima dan direfleksikan sebagai bagian utuh dan berkat dalam dinamika hidup bergereja. Hal-hal positif yang menjadi kekayaan tetap dipelihara dan dikembangkan demi memajukan persekutuan, partisipasi dan perutusan. Sedangkan hal-hal yang menjadi tantangan dan keprihatinan bersama disikapi secara bijaksana dan dengan cintakasih pastoral dari semua komponen dalam Gereja setempat untuk pembenahan dan peningkatan persekutuan, partisipasi dan perutusan. Sikap iman yang militan, harapan optimis yang tinggi, dan cintakasih pastoral yang besar, menjadi modal dasar berbasis sakramen Baptis, untuk terus-menerus menghayati kehidupan menggereja setempat yang semakin bermutu.

Panitia Sinodal Ad Hoc Keuskupan Agung Kupang mengucapkan terima kasih kepada Bapa Uskup yang berkenan mempercayakan tugas ini dan memberi arahan pastoral untuk pelaksanaan kegiatan sinodal ini hingga semuanya berjalan dengan baik. Terima kasih juga disampaikan kepada para pastor paroki, para imam, hidup bakti dan seluruh umat dari paroki- paroki yang telah menerima Panitia untuk berproses bersama, berjalan bersama dalam sinodal tingkat paroki, sehingga semua proses dapat berlangsung sesuai rencana dan harapan. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

 

Kupang, 7 Januari 2022

Ketua Panitia Ad Hoc Sinodal KAK

RD. Gerardus B. Duka

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More