Ratapan Senja

5

Pagi itu, sebelum sang jago mengepakan sayap untuk menjemput sang surya keluar dari peraduaanya, orangtua Aryo sudah berada di perjalanan menuju sawah. Jarak yang jauh dan hanya bisa dilalui dengan menempuh perjalanan kaki membuat mereka harus menikmati dinginnya tetesan embun pagi dan angin sepoi-sepoi yang menusuk hingga batas labirin tulang paling dalam. Itu semua tak membuat mereka menyerah. Demi menghidupi putra kesayangan, Aryo, yang kini berada di bangku SMA.

Orangtua Aryo, tak mempedulikan duri-duri yang terus menusuk kaki. Mereka terus mengayunkan langkah, hingga tiba di sawah. Sesampainya di sawah mereka menjalankan aktivitas, membersihkan rumput liar yang tumbuh bersamaan di sela-sela padi. Setiap sampai di tempat itu, pak Lois dan bu Any selalu merasa bahagia. Berada di tengah-tengah sawah yang menguning sama halnya dengan seorang pengelana yang menemukan Oasis di Padang Gurun, rasa dahaganya pasti terobati. Harapan akan menuai hasil yang berlimpah terus melintasi benak dan memenuhi ruang pikiran.

Sang surya sudah meninggi, membakar semangat orangtua Aryo untuk tetap bekerja. Rasa cinta pada putra mereka, membuat mereka tak mengenal panasnya mentari siang itu.

Waktu berlalu. Harapan akan kesuksesan, hasrat akan kesejahteraan, dan konasi untuk membangun kehidupan yang bermutu, memacu semangat orangtua Aryo untuk terus bekerja.

Tiba saatnya untuk menuai hasil kerja selama empat bulan yang telah berlalu. Penuh harap empat bulan yang telah lalu menjadi pangkal kehidupan seabad kedepannya.

“Mustahil”, bu Any membatin.

Pak Lois dan bu Any mengajak tetangga mereka untuk membantu menuai padi. Hasil panenannya berlimpah ruah. Dan, mereka membagikannya dengan tetangga yang sigap membantu mereka. Sikap dermawan yang dimiliki keluarga Yo, sapaan kesayangan Aryo, membuat mereka selalu memberi.

Keluarga Aryo memang tidak hidup dalam kelimpahan harta, tetapi kaya akan belaskasih, bak Janda Miskin dalam Kitab Suci yang memberi dari kekurangan namun diselimuti dengan niat yang tulus ikhlas.

****

Putra semata wayang yang dibesarkan dengan penuh perhatiaan dan kasih sayang menjadikan Aryo remaja yang manja, bebas, tetapi terbilang pintar dalam kelasnya. Hari-harinya dihabiskan untuk begadang dari kampung yang satu ke kampung yang lain, dari kota wisata yang ramai sampai ke yang sepi. Orangtua Aryo yang penuh pengertian membiarkan putra kesayangan mereka menikmati masa remaja karena masa itu tak pernah diulang kembali.

“Pak, tiap hari Aryo makin nakal, ya?”, sahut bu Any.

“Remaja zaman now, tingkahnya memang seperti itu”, jawab pak Lois dengan santai dan penuh wibawa ala seorang calon pemimpin menggombal massa pada saat Kampanye.

“Zaman now itu apa? Judul film, ya? Atau snack? Kata itu asing sekali kedengarannya”.

“Mah…kalau papa ajak nonton di rumah tetangga ikut dong. Biar bisa tahu istilah-istilah keren. Zaman now itu artinya zaman sekarang”, jelas pak Lois.

“Lalu snack itu apa lagi, mah? Itu binatang buas? Atau itu istilah lain dari komodo jablai”, sambung Pa Lois.

“Papa zaman now kok tidak tahu arti snack?”, sela Bu Any.

“Kalau mama ajak ke rumah tetangga, papa juga harus ikut! Biar papa tahu kata lain dari Ngopi”, jelas bu Any.

“Oohh… Jadi,  snack itu nama lain dari Ngopi atau Ngeteh?” ungkap pak Aryo.

“Ya mungkin pa”, sahut Bu Any yang binggung dengan kata Ngeteh.

Tiba-tiba Aryo muncul membawa surat yang dititip kepala sekolah lewat teman kelasnya dari sekolah. Perasaan optimis yang dimiliki Aryo menembus batas keraguan orangtuanya.

“Pa, ma. Ada surat ni!”, pinta Aryo sambil menyerahkan sepucuk amplop pada papanya.

“Surat apa Yo? Isinya apa?”, tanya pa Lois sambil menerima amplop dan membukanya.

“Baca saja pa”, guman bu Any.

“Mamakan tahu papa susah baca tulisan yang diketik seperti ini, papa hanya bisa baca tulisan yang di tulis mama”, ujar pak Lois dengan sedikit gombalan.

“Papa tidak bisa baca Yo, kamu saja yang baca, tulisanya kecil, mata papa sudah kabur”, lanjut pak Lois sambil menyerahkan kembali surat pada Aryo.

“Pa… ini surat dari sekolah,,, undangan untuk papa dan mama untuk dengerin berita kelulusanku besok jam 10”, jelas Aryo dengan serius.

“Papa saja yang ikut ke sekolah besok. Mama sibuk”, sahut bu Any.

“Iya, biar papa saja yang ikut Ma. Papa setujukan?”, sambung Aryo.

“Iya, papa pasti selalu mau! Tapi, kamu yakin lulus, Yo?”, ungkap pak Lois sambil mengangguk-anggukan kepala mencoba meyakinkan.

“Kenapa papa ragukan anak kesayangan Papa? Papa tahu selama ini Aryo sering juara kelas bahkan Aryo sering juara umum di sekolah. Papa lupa?”, tegas Aryo

“Papa ingat. Papa juga tahu. Tapi papa lihat kamu akhir-akhir ini lebih banyak keluyuran seperti kelelawar”, ujar Pak Lois.

“Pa, usiaku yang masih delapan belas tahun, yang menjadikanku seperti seekor kelelawar di malam hari; aku lebih suka berada di luar rumah, entah malam atau siang. Aku seorang remaja pa. Aku lebih senang kumpul bareng teman-teman daripada duduk depan meja belajar, lebih senang baca SMS daripada baca buku. Itulah saya pa”, jelas Aryo.

“Baiklah papa mengerti. Papa akan ikut ke sekolah besok”, ujar pak Lois sembari menuju kamar tidur.

****

Suasana sekolah sangat ramai. Orangtua siswa kelas 3 datang mendengarkan berita kelulusan. Pak Lois, lelaki dengan penampilan sederhana mengamat-amati lingkungan sekolah putranya yang serba modern.

“Pa, ayo kita masuk! Lima menit lagi acara akan dimulai”, ujar Aryo.

Tanpa komentar pak Lois masuk ke ruangan. Ia cemas anaknya tidak lulus. Aryo duduk disampingnya. Jam 10 acara dimulai. Kepala sekolah memulai sambutanya.

“Setiap usaha, pencarian, dan kerja keras kita mengarahkan kita pada suatu tujuan yakni kesuksesan. Dalam proses pencarian itu kita juga sering merasa bosan, jenuh dan capek, dan selalu ada ujian berat. Siapa yang bertahan dalam pencariaan pasti sukses”, ujar bapak kepala sekolah.

“Tak usah menjadi remaja yang takut akan hal-hal yang belum diketahui, kalau kita sanggup meraih apa yang kita butuhkan dan impikan.”

Ruangan hening. Kata-kata kepala sekolah seolah menghipnotis pikiran dan jiwa orangtua dan para siswa.

“Bersukacitalah selagi kita diberi kesempatan untuk bersukacita, bergembiralah karena dari keseratus sembilan siswa tak ada satupun yang tidak lulus.”

Sorak-sorai dan pekikan-pekikan kegembiraan memecah kesunyiaan kelas. Tak henti-hentinya siswa saling berpelukan dan salam-salaman, usaha selama 3 tahun telah menuai hasil yang memuaskan.

“Para orangtua yang terkasih, hari ini juga kita mempunyai berita yang luar biasa menakjubkan. Putra pak Lois, Gregorius Maryo Rovan (nama lengkap Aryo) mendapat kesempatan untuk belajar di universitas ternama di Amerika”, lanjut bapak kepala sekolah.

Semua mata memandang Aryo yang dipersilakan berdiri oleh kepala sekolah. Tak sadar titik-titik air membasahi pipi lesungnya. Ia memeluk papanya.

“Pa, terimakasih sudah ajarin Yo menjalani hidup dengan baik, doakan Aryo tuk jadi anak yang sukses”, bisik Aryo ke telinga papanya.

Pak Lois terharu mendengar bisikan itu, ia memeluk anak semata wayangnya dan menangis meluapkan kegembiraanya.

Setelah acara selesai bapak kepala sekolah memanggil pak Lois dan Aryo untuk bertemu di ruangan kepala sekolah.

“Aryo profisiat! Kamu jadi perintis dan panutan. Terimakasih kamu sudah mengangkat nama baik sekolah. Kamu siapkan semua perlengkapan kamu. Tiga bulan lagi kamu akan berangkat”, jelas bapak kepala sekolah

“Selamat pak Lois! Anda telah menjadi orang tua yang baik” sambung Kepala sekolah sambil menatap wajah pa Lois yang penuh dengan sukacita.

****

Tiga bulan ialah waktu yang terlalu singkat bagi Aryo. Hari-hari liburannya dihabiskan bersama kekasih hatinya, Navia. Setiap akhir pekan mereka selalu mengunjungi tempat wisata. Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Navia. Cintanya pada Navia membuat ruang imajinasinya dipenuhi oleh gadis berkulit sawo matang dan pipi lesung. Perawakan gadis misterius itu membuat Aryo lebih banyak memikirkan dia itu daripada masa depannya. Seolah perasaan cinta pada gadis berdarah Bali-Timor, menutup semua logika berpikirnya, sekolah menjadi hal yang disepelekan olehnya. Navia adalah alasan dibalik mengapa Aryo sering begadang tanpa arah yang jelas, dan yang membuat Aryo jarang ke sekolah untuk ikut kegiatan ekskul. Navia adalah masa depannya.

Satu hari lagi Aryo akan berangkat ke Amerika. Semua perlengkapan sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh orangtuanya.

“Malam ini menjadi malam yang terakhirku”, Aryo membatin.

Imajinasinya pun mulai melayang-layang. Ia membayangkan indahnya kota Amerika, gedung-gedung pencakar langit, tempat-tempat wisata, dan lain sebagainya. Ia tersenyum seolah sudah berada di Amrik sana. Ruang imajinasinya terus bekerja hingga muncul satu wajah yang mengalahkan semua keindahan kota Amerika. Navia, telah menjadi sosok misteri yang lebih cantik dari permata, lebih berharga dari emas.

Aryo bergegas mengambil handphone, mengutak-atik layar handphone-nya.

“Aku rindu dirimu, beb!”.

“Yo aku juga. Aku rindu saat-saat bersama kita! Kamu berangkat jam berapa besok Yo?” balas Navia.

“Jam 5 pagi beb”.

“Oh. Sukses yah di Amrik! Tapi, aku mau ceritera ke kamu Yo. Ini penting cin”.

“Ceritera apa beb?”.

“Yo, kamu ingat momen terindah yang terjadi tiga bulan lalu di pantai?”.

Aryo penasaran. Saking penasarannya ia langsung menelpon beb-nya itu.

“Nav, momen apa? Kamu kenapa? Jangan-jangan…” sahut Aryo membayangkan kejadian di pantai.

“Iya Yo, aku ha…mil…”, ungkap Navia terbata-bata.

“Aku takut papa dan mama akan mengusirku pergi dari rumah. Aku binggung! Aku mau gugurin janin ini! Aku tak mau dikatakan pelacur!”, suara Navia dalam tangisan.

Malam yang seharusnya menjadi malam menyenangkan buat Aryo seketika juga sirna. Hatinya hancur. Aryo diam. Badannya gemetar seperti seorang yang kena setrum.

“Yo, kenapa kamu diam”, sahut Navia memecah keheningan.

Aryo binggung, kata-kata Navia membuatnya bego. Entah setan atau iblis apa yang merasuki kepala Aryo. Ia mengangkat handphone-nya, merapatkan pada mulutnya.

“Nav, aku mau berangkat besok. Kamu… kamu gu…gu…rin saja.”

Navia diam. Rasa takut, malu, sedih beradu menjadi satu. Ia bergegas mengambil dua tablet obat dalam kotak P3K di rumahnya. Entah obat apa! Ia bergegas menuju kamar mandi.

“Yo, ini aku sudah minum obatnya”, ujar Navia.

Orangtua Navia sedang mengikuti acara pernikahan di rumah tetangga. Navia leluasa melakukan hal buruk itu. Lima menit kemudian Navia merasa pusing. Handphone-nya terjatuh, baterainya terpisah dari Samsung A7nya. Ia lemas, badanya pucat seketika, darah mengalir. Navia tak tertolong.

Aryo berulang kali menghubungi kekasih hatinya itu. Jawaban wanita cantik dari balik handphone selalu sama, “Nomor yang anda tujui sedang tidak aktif…”. Muncul seribu satu pertanyaan!

“Jangan-jangan Nav…! Tidak.. tidak aku tidak mau hal itu terjadi”, Aryo membatin.

Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 24:00. Aryo seharusnya sudah dalam buaian mimpi untuk menunggu keberangkataanya lima jam lagi. Ia masih belum bisa tidur. Ia terus menghubungi nomor handphone Navia dengan jawaban yang selalu sama. Ia menyerah! Pikiran pun tak karuan. Ia bolak-balik di atas ranjang, berusaha pejamkan mata untuk menghilangkan semua rasa cemasnya.

Baru lima menit berusaha pejamkan mata, handphone-nya bergetar. Secepat kilat ia mengambil handphone-nya mengusap layar android. Dari balik handphone ia mendengar suara khas milik ibunda Navia.

“Nak Aryo… Naviamu sudah pergi!”

Aryo lemas. Perasaan bersalah menghantui ruang pikirannya. Ia menangis tanpa air mata, hatinya seperti ditusuk sebilah pedang. Perasaan menyesal, takut, marah, benci, memenuhi relung hati dan pikirannya. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur.

Orangtua Navia merasa heran dengan kematiaan putri cantik dan pintar itu. Mereka langsung menghubungi polisi. Navia yang tak bernyawa lagi diantar ke rumah sakit untuk diotopsi.

Polisi mengambil handphone Navia. Usut punya usut, ternyata Navia hamil dan ia merencanakan untuk mengugurkan janinnya.

Melalui handphone, polisi mengetahui kronologi kejadian yang menimpa Navia.

Polisi langsung bergegas menuju rumah Aryo yang jaraknya dua kilometer dari rumah Navia. Pak Lois dan bu Any yang masih terlelap dalam tidur terbangun oleh sirene mobil polisi yang meraung-raung di halaman rumah. Dari bilik kamar lain, Aryo menyerah! Ia sadar dirinya bersalah. Ia bergegas keluar dari kamarnya.

“Pak, bu, anak anda kami tahan. Ia terlibat dalam kasus kematian nona Navia”, ujar seorang polisi yang berdiri di depan pintu.

Pak Lois sangat heran dengan kejadiaan yang belum dimengertinya itu. Bu Any  seketika itu juga langsung pingsan.

“Pak, maafkan Aryo… maafkan Aryo… Aryo sudah mengecewakan papa dan mama”,  bisik Aryo sambil memeluk papanya.

Ia mencium ibunya yang belum siuman, niatnya menghantar ibunya ke kamar, tapi apa daya polisi langsung memborgol tangannya. Aryo menangis. Ia diseret polisi menuju kantor polisi.

Pukul 05:00, seharusnya menjadi waktu yang menyenangkan tetapi berubah menjadi waktu yang menyakitkan; waktu pembawa sial; waktu bukan lagi rahmat. Aryo harus berada di ruang sempit berdinding besi.

*Pra Novisiat Claret, Kupang, Februari 2018


Fransiskus Sardi, CMF
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More