Sebuah percaya yang terlanjur ada

0 2

Awalnya aku mengira ini akan baik-baik saja. Aku sangat percaya diri, berharap kamu adalah kebaikan itu. Aku bersama prasangka tak tahu malu, terus merajalela di atas keraguan yang terabaikan.

Kepadamu aku menceritakan segalanya dengan tingkat kebodohan yang tak terukur. Tidak menyalahkanmu, karena aku sendiri yang menciptakan keadaan ini. Akupun tak mau menghukum diri lagi dengan perasaan bersalah yang sama. Tak ada yang salah, aku hanya keliru menempatkan perasaan.

Aku terjebak pada dua rasa yang saling berlawanan, aku mengaku tak berdaya dan ketika itu terjadi, kamu datang. Datang memicu jiwa rusakku untuk lagi dan lagi melakukan sesuatu yang harusnya belum ku iyakan. Kepada perasaan percaya yang terlanjur besar, sulit bagiku mengatakan bahwa kau tak datang untuk tinggal. Meski berkali banyak sudah kau patahkan inginku dengan sebuah pergi, aku masih kaku meratapi ini sebagai suatu kehilangan lagi.

Jika mintaku tak menyinggungmu, bisakah kau tetap tinggal ? Aku tidak kuasa menghadapi ini. Aku rapuh, lelah pada keadaan yang mereka sebut kenyataan yang harus diterima.

Nina Koro
(Mahasiswi Semester VII FKIP Fisika, UNWIRA)
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More