Sejarah dan Profil Kapela Stu. Yohanes Apostolus Boentuka

21

Guru Agama Kapela :Silvester Kollo
Jumlah Wilayah : 2 dan 6 KUB
Ketua Dewan Kapela :Bpk. Martinus Tce
Jumlah umat :107 KK/ 411 jiwa

Kapela ini terletak pada kilometer 26 dari arah kota Soe-Kupang. Lingkungan alamnya menyenangkan. Betapa tidak? Sepanjang tahun kali Boentuka selalu mengalirkan air yang secukupnya untuk kehidupan manusia, hewan serta tanaman. Tidak heran kalau di mana-mana pada kering dan bergundulan, Boentuka diliputi oleh hijau-kuningnya padi sawah yang membentang sepanjang jalan raya.

Bersama Fatumetan, Boentuka merupakan “Kanaan” mini dalam paroki SoE. Penduduk sekeliling Boentuka umumnya adalah orang-orang pelarian dari Oekusi. Mereka menyebut diri suku Beunsila. Kebanyakan datang sebagai orang kafir, namun dalam benak mereka tetap terkenang akan agama katolik anutan nenek moyangnya. Sesampai di daerah baru sebagian masuk agama protestan sedangkan yang lainnya masuk agama katolik. Pembuka agama katolik di Boentuka adalah Wilhelmus Kefi, LelMaunu, Benyamin Sali dan Lu Ote, Semuanya adalah orang buta huruf.

Mendengar bahwa di Benlutu ada agama katolik mereka mencari hubungan dengan Zakarias Neon Tali, guru agama pertama Benlutu. Suatu waktu Zakarias dipanggil untuk mendoakan orang sakit, menurut berita dari mulut ke mulut, katanya orang sakit sering kali sembuh mendadak. Entah benar? Wallahu a’lam. Tapi adalah pasti bahwa hal doa-mendoakan orang sakit menggembirakan dan menarik banyak hati. Saat-saat semacam itu Tuhan terasa sangat dekat dengan setiap hati. Pengalaman batin itu menarik mereka kepada Tuhan dan agama katolik yang dianuti oleh orang-orang yang mempunyai bersimpatik terhadap penderitaannya.

Begitulah kira-kira mulainya pertumbuhan agama katolik di Boentuka. Umat katolik awal dari kapela ini biasa berdoa Rosario bersama-sama di rumah W. Kefi. Semangat hidup dan kesatuan mereka sangat terasa berkat pengaruh dan usaha bapa Wilhelmus yang sangat aktif. Bapa asal Sabu ini, giat dalam menyebarluaskan agama katolik di kalangan orang-orang kafir.

Kira-kira pada tahun 1949 umat katolik Boentuka dikunjungi oleh P. Kersten, SVD dari Kupang. Perlu guru agama. Pilih siapa? Agus Tanu. Pemuda asal kampong Bug ini, pernah menginjak bangku sekolah di daerah asal TTU. Agus Tanu yang sekarang menjabat majelis gereja Boentuka, pada awal tahun 50-an pernah mengajar murid-murid calon katolik sampai 40-an jumlahnya. Sungguh Hebat. Bayangkan! Dialah Guru Agama kapela Boentuka.

Bagaimana bisa mengajar tanpa buku pegangan banyak-banyak?

Tidak ada Kitab Suci. Tidak ada buku nyanyian. Tidak ada buku doa?

Buku satu-satunya hanyalah katekismus. Sering anggota jemaat protestan yang beralih ke agama katolik menyerahkan buku “Sulat Knino” (= Kitab Suci) dan buku nyanyian protestan kepada pastor. Untuk sementara buku protestan dipakai dalam gereja katolik sebab pastor tidak sanggup menggantikannya dengan buku-buku katolik. Keadaan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Buat pendalaman iman umat yang semakin menanjak jumlahnya, pastor Kersten mengarang buku “Pedoman guru agama”.

Selain iman, soal akhlak juga tidak terlepas dari perhatian pastor, misionaris asal Belanda ini. Tandak atau “Bonet” dalam bahasa Dawannya, dilihat melalui kaca mata pastor sebagai kesempatan yang bisa merusak akhlak orang-orang Dawan, yang cukup lumrah dalam soal kawin-cerai. Makanya P. Kersten bersikap keras. “Wanita yang berlenggak-lenggok sambil berdempetan waktu bonet malam hari, dilarang menerima sakramen selama beberapa bulan. Lamanya hukuman tidak ditulis. Sehingga sesudah beberapa tahun tidak seorangpun tahu lagi masih berapa banyak bulan dia dilarang menerima sakramen.”

Uskup Pessers SVD dalam kunjungan pertamaya tanggal 28-11-1954 sempat menerimakan sakramen krisma kepada 39 orang katolik.

Sekolah. Perlu untuk kemajuan. Juga perlu untuk pengembangan dan pendalaman iman. Membangun masyarakat Boentuka tanpa sekolah sama dengan mengguling gunung batu menuju Soe. Semuannya akan berjalan miring dan lamban. Oleh karena itu, bagaimanapun juga pertama-tama harus dimulai dengan sekolah. Hal ini jelas dilihat dan didasari oleh setiap misionaris yang sudah mengenyam kemajuan di tanah airnya. Sedari permulaan pastor mencari anak-anak supaya bersekolah di SoE. Usaha bagus tapi sulit mengingat orang tua yang sudah merasa kehilangan tenaga kerja masih harus lagi menghantar makanan ke SoE.

Supaya keluar dari kesulitan ini dan supaya lebih banyak anak kaluar dari ketertutupan rumah bulat dan melihat suatu dunia lain yang lebih luas dari lingkungan kampungnya, maka pada 19-9-1955 dibukalah SD katolik Boentuka.

Kebanyakan orang tua yang sudah merasa puas kalau punya beberapa “puah ma manus” di dalam aluknya, tidak mengerti akan gunanya sekolah. Kepala mereka, yang tunduk-tunduk kalau berhadapan dengan “atoin kase”, sarat dengan rupa-rupa pertanyaan. Untuk apa anak duduk-duduk saja di sekolah? Supaya maju? Supaya hidup lebih baik? Tidak mungkin. Orang tua, nenek moyang tidak pernah sekolah tapi toh tetap hidup dan tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Menurut catatan harian 22 tahun lalu, begini kesan pastor: “Hari Minggu. Saya ke Boentuka dengan motor. Sesudah berdoa kami mengundang bapa Temukun…….. orang tua-tua menyampaikan maksud pembukaan sekolah dengan menyerahkan satu botol sopi dan uang. Muka bapa Temukun kelihatan penuh perhatian dan sangat terkesan. Tanpa banyak dalih bapa Temukun segera menyatakan persetujuannya. Dukungan bapa Temukun ini bukan karena tertarik akan pentingnya sekolah bagi kemajuan kampungnya tapi lebih karena satu botol sopi yang disuguhkan dengan penuh hormat kepadanya. Surat pemberitahuan dikirim kepada Inspeksi. Hari senin pagi saya sewa oto Arombay. Muat beberapa bangku sekolah, kapur, papan tulis, serta guru baru Kamilus Thius. Oto berhenti di Fatumetan. Beberapa anak harus dimuat ke sekolah. Tapi orang tua berkeberatan. Pakaian tidak ada. Untung saya bawa pakaian. Tunggu cukup lama sampai 6 anak dapat ditangkap dan dibungkus dengan pakaian baru.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More