Semua Orang Kudus

0 8

Why. 7:2-4,9-14;
1Yoh. 3:1-3;
Mat. 5:1-12a.

Warna liturgi Putih

          Kehidupan manusia selalu berada dalam hubungan dengan sesama ciptaan dan hubungan dengan Sang pencipta. Dalam hubungan tersebut manusia masuk dalam pilihan-pilihan yang bisa menjauhkannya dari sesama atau Sang pencipta, namun bisa juga mendekatkan manusia dengan sesama atau Sang pencipta. Ketika kita menjadi pribadi-pribadi yang siap menentukan pilihan untuk mendekatkan diri dengan Allah dan sesama, maka kita harus siap menerima konsekuensi dari pilihan kita tersebut. Memang untuk mendekatkan diri dengan Allah dan sesama kita membutuhkan perjuangan yang lahir dari dalam diri sendiri. Sebab pasti banyak tantangan dan rintangan yang selalu menghampiri dan membuat kita berada dalam persimpangan antara yang baik atau buruk, rendah hati atau angkuh dan benar atau salah.

            Dalam situasi seperti di atas Yesus datang dengan ajaran mengenai pengharapan bagi setiap orang yang sedang berjuang untuk mencapai kekudusan diri melalui cara hidup yang dekat dengan Allah dan sesama. Pengharapan yang diberikan Yesus termaktub dalam sabda bahagia yang diucapkan-Nya. Dengan demikian setiap orang yang menaruh pengharapan kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci (1Yoh.3:3). Yohanes dalam suratnya yang pertama mau menerangkan kepada kita bahwa pengharapan kita tidak akan sia-sia sebab kita anak-anak Allah. Kasih Allah yang begitu besar kepada kita menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.

            Hidup sebagai anak-anak Allah kita telah dimeteraikan kekudusan dalam diri, namun karena segala hal jahat dan buruk merongrong eksistensi kekudusan dalam diri, sehingga perlahan kekudusan dalam diri semakin pudar. Kita pun tergiur untuk mengikuti kenikmatan dunia dan lupa tentang kekudusan yang ada dalam diri kita. Kita perlu menyadari segala tingkahlaku kita agar tidak larut dalam keinginan pribadi dan kenikmatan duniawi, tetapi semakin menjadi pribadi yang mengejar kekudusan lewat kedekatan kita pada Allah dan kasih kita kepada sesama. Mari kita berjuang memulihkan diri kita yang telah larut dalam dosa dan salah dengan terus berharap pada Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Agar hidup kita semakin diperbaharui dalam Dia dan perlahan memperoleh kekudusan yang paripurna.

“Gusti mboten sare“

Fr. Engel Seran, CMF
(TOPER Atmabrata, Cilincing Jakarta Utara)

 

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More