Spritualitas Hamba

2

Renungan Hari Selasa, 10 November 2020, Pekan Biasa XXXII

Bacaan I Tit. 2:1-81-14

Bacaan Injil Luk. 17:7-10

 Pesta St. Leo Agung

katakomber.org

Dunia saat ini mengalami perubahan sangat pesat. Perubahan mencaplok semua lini kehidupan manusia, bahkan “mungkin” kehidupan binatang (apabila mereka bisa mengutarakannya kepada manusia dengan kata-kata yang dapat dimengerti). Selain itu, semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, seperti penulis buku, pengusaha, penyanyi, aktor/aktris, youtubers, presiden, polisi, tentara, dosen, dan lain-lain. Ini sebagian dari deretan litani profesi “dambaan” semua orang sekarang. Alasannya adalah profesi-profesi tersebut cenderung mendapat tempat yang layak di masyarakat. Di samping itu,dapat ditebak kecenderungan manusia yang tidak ingin dipandang rendah, tidak punya skill dan berbagai macam predikat negatif lain. Fakta tersebut normal dalam kehidupan masyarakat meskipun pemikiran seperti itu adalah standar bagi manusia yang mengukur kesuksesan di atas segalannya. Sangat manusiawi. Apakah itu salah? Tidak.Toh… mumpung sedang berada di dunia, pakailah pola pikir dunia (mengkin begitu kata mereka). Jika kenyataannya demikian bagaimana usaha seseorang untuk mempertahankan kelayakan profesinya dan supaya profesinya diakui oleh masyarakat luas? Barangkali bacaan-bacaan hari ini bisa sedikit menjawab pertanyaan di atas.

Surat Rasul Pulus kepada Titus (2:1-10) menyajikan sebuah pengajaran yang bagus terhadap orang tua, orang muda, dan hamba. Kepada orang tua Paulus menasehatkan supaya hidup bijaksana, sederhana, terhormat dan tekun. Kepada orang muda dinasehatkan supaya bisa menguasai diri dalam segala hal dan kepada hamba supaya taat kepada tuannya. Selain itu orang tua diharapkan menjadi teladan yang baik untuk orang muda sehingga nantinya muncul kerja sama yang akurat dalam memupuk kebijaksanaan dan toleransi yang kuat dalam hidup bermasyarakat. 

Demikian pula penginjil Lukas pada hari ini menyajikan pengajaran konkret untuk kehidupan manusia. Di sana Lukas menampilkan Yesus memberikan nasehat kepada murid-murid-Nya supaya menghayati spiritualitas hamba. Bukan berarti Yesus menyuruh mereka supaya menjadi hamba secara fisik, melainkan mengaktualisasikan semangat seorang hamba yang senantiasa melayani, mengingkari diri, tanggung jawab, setia, dan hormat kepada siapa saja terutama kepada tuannya. Dengan demikian ia akan menjadi hamba yang sangat dipercaya, dan dibanggakan oleh tuannya karena pengabdiannya yang total dan utuh.

Kembali pada konteks awal, apakah manusia (umat beriman) bisa menghidupi spiritualitas hamba di era yang semakin maju? Mungkin sulit, tidak semudah membalikkan telapak tangan, hanya manis dibibir, sulit diaktualisasikan. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri jika masing-masing orang  mengacu pada nasehat Santo Pulus, dan terutama Yesus untuk mengayati spiritualitas hamba yang senantiasa melayani, mengingkari diri, tanggung jawab, setia, dan hormat kepada siapa saja, akan mengalami kepenuhan moril dan materil entah apa saja profesinya sehingga ia menikmati kehidupan di dunia dengan penuh kebahagiaan.

Apakah kita sudah dan sedang menghayati spritualitas hamba saat ini?

Fr. Giri (Novis)
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More