Uang Kolekte Gereja. Dibawa Ke Mana?

0 405

 

Gereja Katolik mempunyai tradisi untuk mengedarkan kotak atau kantong kolekte dalam perayaan Ekaristi. Kebiasaan itu sudah diwariskan turun temurun.  Di beberapa tempat ada dua atau tiga jenis kotak kolekte yang diedarkan dalam perayaan Ekaristi. Akan tetapi bagi beberapa orang  yang kesulitan dalam keuangan kerap menganggap uang  kolekte sebagai beban spiritual.

Selan uang kolekte, ada pulah kebijakan pastoral dari paroki masing-masing tentang keuangan gereja. Di luar iuran-iuran yang diterapkan oleh pastor paroki masing-masing entah untuk pembangunan gereja atau kegiatan khusus di gerejanya, saya secara khusus mengundang kita untuk memahami arah dan tujuan akhir uang kolekte gereja Katolik.

Sudah pasti ada umat atau beberapa umat mempertanyakan apa tujuan dan fungsi uang kolekte? Beberapa umat  yang “keras kepala” menolak kotak kolekte dan iuran-iuran, bukan karena mereka melawan tetapi yang mereka butuhkan adalah arah dan tujuan uang kolekte serta pertanggun jawabannya.

Uang Kolekte. Untuk Apa?

Saya terdorong untuk menulis artikel sederhana ini tidak mempunyai maksud untuk mendiskreditkan para gembala yang menerapkan iuran dan kotak kolekte dalam jumlah yang banyak, tetapi tulisan ini sebagai katekese (pengajaran iman) bagi umat yang selama ini belum memahami dan mengetahui ke mana arah uang kolekte.

Saya mengundang umat sekalian untuk mencerna apa kata hukum gereja Katolik tentang penggunaan uang kolekte dalam gereja. Dan semoga bisa membantu umat untuk tidak lagi segan dan apatis dengan uang kolekte dan iuran  dalam gereja.

Dalam Kitab Hukum Kanonik, Buku V tentang Harta Benda Gereja, kanon 1254, berbunyi demikian: § 1 Gereja katolik mempunyai hak asli, tidak tergantung pada kuasa sipil, untuk memperoleh, memiliki, mengelola dan mengalih-milikkan harta benda guna mencapai tujuan-tujuannya yang khas.  § 2 Adapun tujuan-tujuan yang khas itu terutama ialah: mengatur ibadat ilahi, memberi sustentasi yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta karya amal-kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan”.

Apa yang dimaksudkan dalam kanon 1254 ini ? Kanon ini berbicara tentang harta benda gereja.  Dan, uang Kolekte  adalah sala satu dari harta benda gereja. Nah, kita sudah mendapat penjelasan dari Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik terutama dalam kanon kedua. Bahwa uang kolekte adalah harta benda gereja yang digunakan untuk kebutuhan liturgi gereja, kebutuhan klerus dan pelayan-pelayan gereja dan yang terakhir adalah untuk karya amal kasih bagi mereka yang miskin.

Jadi uang kolekte yang ada dalam gereja Katolik juga dapat digunakan untuk membantu orang-orang miskin yang ada di sekitar paroki di mana kita berada. Semua keuangan dalam gereja bukanlah kekayaan pribadi tetapi itu kekayaan bersama oleh sebab itu tidak dibenarkan uang-uang kolekte digunakan untuk membeli hal-hal yang sifatnya artifisial belaka demi kemewahan.

Teguran St. Yakobus tentang Harta

Bacaan kedua Minggu biasa XXVI dari Surat Rasul Yakobus 5:1-6 menginspirasi saya merangkai tulisan sederhana ini. Dan yang menggelitik hati saya tertera  pada ayat 5a yang berbunyi demikian: “Dalam kemewahan, kamu telah  hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu.”

Ayat ini kemudian mengingatkan saya pada kotbah Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mendagi, MSC  yang mengkritik para klerus hidup dalam kemewahan dengan banyak ponsel dan berbunyi di mana-mana. Meski dalam nada guyonan, namun mempunyai nilai pedagogi  mendalam untuk hidup   sederhana  dan  melayani orang-orang miskin. Banyak orang miskin yang tidak ke gereja  karena lapar.   

Nah ketika mereka lapar, mereka dengan mudah dibeli iman mereka dangan harta. Sabagai gembala kita  harus  bijak dalam mengelola harta benda gereja agar domba-domba tidak mencari rumput di kandang orang. Sebagai gembala, kita harus merasa terganggu dengan kesulitan yang dihadapi umat. Banyak yang beralih ke agama lain karena mereka mendapat bantuan sembako dan uang. Sementara keuangan dalam gereja pengelolaannya belum tepat sasaran.

Mari kita ingat kembali apa yang diminta dalam KHK 1254, bahwa uang kolekte harus digunakan juga untuk karya amal bakti bagi orang-orang yang miskin agar mereka tidak mudah dibeli oleh agama lain dengan sekarung beras dan sedos indomie. Mari kita bijak mengelolah keuangan dalam gereja demi terwujudnya Bonum Commune dalam kehidupan bersama gereja. Pace Bene. Salvete Dies Dominica!

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More