“WARISAN”

0 8

SP MARIA BUNDA GEREJA (P)
Kej.3:9-15.20/ Kis.1:12-14;
Mzm.87:1-2.3.5.6-7;
Yoh.19:25-34.

Saudara-saudari yang terkasih, dalam kehidupan kita masing-masing tentu kita mendapat warisan yang diberikan oleh keluarga kita, mereka yang sangat dekat dengan kita. Warisan yang kita dapat bukan hanya berupa harta benda, tanah, rumah, mobil dan barang-barang berharga lainnya. Warisan yang diberikan oleh orang-orang terdekat juga berupa kebiasaan baik atau sopan santun (etiket) yang akan menunjukan identitas dari mana kita berasal maupun nilai-nilai moral (etika) yang menjadi patokan dalam bertindak. Banyak orang yang banyak belajar dari warisan-warisan baik yang sudah diberikan berupa tutur kata dan tindakan baik kita.

Belajar dari Yesus dalam bacaan Injil hari ini, Ia menyerahkan murid yang dikasihi-Nya kepada Maria, Ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” (Yoh 19: 26) dan juga menyerahkan Ibu-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya: “inilah ibumu!” (Yoh 19:27).  Murid yang dikasihi Yesus merupakan perwakilan murid-murid Yesus dan juga tentu menjadi perwakilan kita. Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada kita murid-murid yang dikasihi-Nya. Ia menyerahkan Maria kepada Gereja untuk menjadi Bunda Gereja. Atas dasar itulah Maria sebagai Bunda Gereja terus kita kenangkan sampai saat ini di mana Gereja pada hari ini merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Bunda Gereja. Bunda Maria yang merupakan Bunda Allah juga menjadi Bunda seluruh umat Kristiani. Ia menjadi Bunda Gereja dan menjadi pola hidup Gereja, menjadi teladan dalam iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus. Hal ini ditegaskan dalam Konsili Vatikan II Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) artikel 63: “karena kurnia serta peranan keibuannya yang ilahi, yang menyatukannya dengan Puteranya Sang Penebus, pun pula karena segala rahmat serta tugas-tugasnya, Santa Perawan juga erat berhubungan dengan Gereja. Seperti telah diajarkan oleh St. Ambrosius, Bunda Allah itu pola Gereja, yakni dalam hal iman, cinta kasih dan persatuan sempurna dengan Kristus”. 

Yesus menyerahkan Ibu-Nya menjadi ibu kita melalui murid yang dikasihi-Nya. Maria menjadi Ibu dalam teladan keberimanan kita. Kesetian Maria dalam mendampingi Putranya hingga wafat di salib, menjadi teladan dalam hidup kesetiaan iman kita akan Yesus. Sebuah warisan yang begitu berharga yakni pola hidup dan teladan iman Maria bagi Gereja.

Dalam situasi yang tragis di dekat kayu salib di puncak Golgota, Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya. Inilah moment di mana iman kita diteguhkan berkat relasi yang mendalam dari Yesus dengan ibu-Nya serta Yesus dengan Murid yang dikasihi-Nya di mana terdapat suatu pemberian dan penerimaan total dari yang dicintai; “dan saat itulah murid yang dikasihi Yesus menerima maria di dalam rumahnya (Yoh 19: 27). Peristiwa itu meyakinkan kita bahwa Bunda Maria menjadi Bunda Gereja, bunda kita orang Kristiani.

 Saudara-saudari yang terkasih, Yesus telah menyerahkan Maria, Bunda-Nya kepada kita yang merupakan para murid yang dikasihi-Nya. Sebuah warisan yang sangat berharga di mana kita menjadikan Maria sebagai pola hidup kita dan teladan hidup keberimanan kita. Maka, Pertanyaan untuk kita renungkan, sudakah aku memberikan suatu warisan iman yang baik bagi orang-orang terdekatku? Sebagai murid-murid yang dikasihi Yesus, sudakah aku menerima Maria dalam rumahku, dalam hatiku? Warisan iman itu berupa pola hidup dan teladan hidup iman kita yang mana kita belajar dari pola hidup dan teladan hidup Maria yang dapat kita berikan pertama-tama melalui orang-orang yang kita cintai, yang dekat dengan kita. Mari memberi warisan yang dikenang sepanjang hayat.

Tuhan memberkati dan Bunda Maria sebagai Bunda Gereja mendoakan kita semua.

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More